Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Ujunggenteng Menggali Kuburnya Sendiri

Kamis, 17 September 2020

Lonjakan wisatawan yang tinggi, telah mendorong masyarakat untuk membangun secara tidak terarah

bd320976-fef5-4445-9a5b-8bcebf71a969.jpg
T Bachtiar

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

KEKUATAN media sosial, membuat Ujunggenteng di Sukabumi Selatan terpromosikan dengan pesat, menembus sekat-sekat status sosial dan jabatan. Informasi berwisata secara rinci langsung berada dalam genggaman, melebihi kemampuan otoritas negara menatanya. Setiap akhir pekan dan hari libur, Ujunggenteng menjadi tujuan wisata yang populer. Dari Bandung, tujuan wisata pantai ini jaraknya sekitar 230 km, dapat ditempuh selama 5-6 jam perjalanan.

Ujunggenteng – Pangumbahan, sudah sangat terkenal sejak zaman kolonial, karena menjadi tempat pendaratan yang ideal bagi berpuluh penyu hijau yang akan bertelur setiap malamnya. Penyu mempunyai naluri dan ketajaman navigasi yang sangat kuat untuk kembali ke tempat pertama kali dia melaut, walau sudah mengarungi samudra ribuan kilometer jauhnya untuk tujuan suci, bertelur. Sejalan dengan kehancuran lingkungan pantainya, cahaya lampu yang terang-benderang, penyu yang mendarat di pantai ini semakin berkurang.

Bila dilihat rona buminya, Ujunggenteng ini merupakan tanah yang menjorok ke laut, seperti semenanjung yang akan putus. Keadaannya yang seolah nyaris putus itu, dalam bahasa Sunda disebut genteng atau genting dalam bahasa Indonesia. Ujunggenteng dapat diartikan semenanjung yang nyaris putus. Padahal, bila ditelusuri dari proses terbentuknya, sesungguhnya ini proses alam yang belum sempurna, belum selesai secara utuh, masih ada bagian yang belum terisi pengendapan pasir, sehingga terkesan genteng.

Rona bumi Ujunggenteng itu terus berproses. Semula, di lepas pantai Ujunggenteng yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, terdapat pulau kecil yang dikelilingi terumbu karang. Ombak memecah di bagian pulau paling selatan. Setelah ombak pecah dengan kuat di bagian paling depan yang menghadap lautan, kemudian gelombangnya menyebar ke samping pulau, terus merambat sampai di bagian paling belakang (utara) pulau.

________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Keriangan Pagi Padang Sabana Baluran

________________________________________________________________________________________

Di bagian pulau paling belakang itulah kekuatan gelombangnya melemah, sehingga pasir dapat mengendap. Proses itu berlangsung evolutif, sangat lama, dan, pengendapan pasir terus berjalan sampai sekarang.

Pantai Ujunggenteng ini pernah dijadikan pelabuhan untuk bersandarnya perahu-perahu yang berfungsi untuk memindahkan hasil bumi dari Sukabumi selatan, seperti teh, kayu, dan hasil bumi lainnya, ke kapal besar yang labuh jangkar di tengah samudra.

Sisa-sisa bahwa pantai ini pernah menjadi pelabuhan alam masih ada berupa tembok selebar dua meter yang memanjang ke arah laut, dengan kondisi yang sudah hancur di beberpa bagiannya, serta tiang-tiang besi yang sudah dimakan karat. Untuk pengembangan wisata, tembok ini harusnya dipugar kembali, dengan bentuk dan ukuran yang sama, dengan fungsi yang berbeda, menjadi tempat memotret dan swafoto.

Menyaksikan dan memotret matahari terbit di pantai timur, dan menanti matahari terbenam dan memotretnya di pantai barat, merupakan atraksi wisata yang ditunggu para wisatawan. Kegiatan mengelilingi pantai Ujunggenteng sangat menarik, karena banyak tempat yang sangat indah untuk berfoto.

Bila sedang surut, kadang biawak berjalan mencari mangsa di hamparan terumbu karang. Burung-burung pantai menanti para pengamat burung untuk diabadikan. Berbagai jenis ikan kecil berseliweran di padang lamun.

Halaman selanjutnya: kekuatan pantai yang terhalang...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR