Rabu, 30 September 2020
News & Nature

Ujung Tanjung Gunung Gede

Jumat, 26 Juni 2020

Di ujung punggungan yang menganjur itulah, dari dulu sampai sekarang banyak dijadikan tempat hunian.

0df77653-feb6-4d8d-b32e-d987dfdfc1f6.jpg
T Bachtiar


Pekan ini, kabaralam.com kembali menyajikan catatan perjalanan wisata alam dalam rangka mendorong bangkitnya kembali ekowisata pasca-pandemi yang lebih bernilai edukasi dan mendorong upaya konservasi. Artikel ini merupakan bagian terakhir dari catatan perjalanan Gunung Gede oleh redaktur senior kabaralam.com, T. Bachtiar yang diturunkan dalam tiga artikel feature secara bersambung. Selamat menikmati.
 

 

JAUH sebelum Gunung Gede tua atau Gunung Gumuruh meletus dahsyat, Kawasan Cianjur dibentengi oleh dua gunungapi purba, yaitu Gunung Kancana (+1.233 m.) di selatan dan Gunung Manangel (+ 903 m.) di utara. Umur kedua gunung ini sudah sangat tua, dapat dicirikan dengan lembah-lembahnya yang dalam, pertanda erosi yang berlangsung sangat lama.

Bila melihat ronabumi Cianjur, sangat mungkin hunian awalnya tidak berada di sekitar ibu Kota Cianjur sekarang yang dibangun pada abad ke-19, melainkan sedikit lebih ke utara. Para nenek moyang orang Cianjur bermukim pada ketinggian antara +460 m sampai dengan +600 m, yaitu di ujung-ujung paling depan dari punggungan gunung api purba Manangel, yang biasa disebut tanjung, bojong, bobojong atau anjur, dengan arah barat laut – tenggara.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Gede dan Wangi Beras Cianjur

________________________________________________________________________

Di ujung punggungan yang menganjur itulah, dari dulu sampai sekarang banyak dijadikan tempat hunian. Seperti di kaki Gunung Manangel, di ujung tanjung atau bojong, kini terdapat permukiman yang dinamai Bojongmenteng, sekitar 1,5 km sebelah utara Cianjur. Kampus Unsur (Universitas Suryakancana) pun berada di ujung tanjung pada ketinggian + 460 m yang diapit oleh dua sungai.

Bila menyimak arti kata anjur dalam Cianjur, kemungkinan mempunyai makna sebagai bojong, bobojong, atau tanjung, yaitu daratan yang menjorok ke depan, menonjol ke muka, atau yang menganjur ke air.

Dari dalam kaldera Gunung Gumuruh kemudian lahir Gunung Gede muda yang tumbuh meninggi. Gunung ini pernah meletus beberapa kali periode, baik yang kecil, sedang, maupun besar.

Akhmad Zaennudin (2011) menulis bahwa Gunung Gede pernah meletus dahsyat dalam rentang 7.790-850 tahun yang lalu. Dicirikan dengan endapan awan panas yang tersebar ke arah utara, kemudian berbelok ke arah timur laut dan timur.

Jalur itu berupa lembah yang lebih rendah dibandingkan dengan sisi barat yang dibatasi oleh Gunung Pangrango, dan sisi timur yang dibatasi dinding kaldera Gunung Gumuruh. 

Jejak arah luncuran dan lontaran material letusan Gunung Gede berupa lava, lahar, dan awan panas itu menyapu kawasan Cibodas, Cimacan, Cipanas, bahkan sampai ke Kawungluwuk, Sukaresmi, Taman Bunga Nusantara, yang jauhnya mencapai 15 km. Istana Kepresidenan Cipanas, Cianjur, bangunan dan kawasannya berada di atas endapan awan panas.  

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

________________________________________________________________________

Dalam rentang waktu antara 7.790-850 tahun yang lalu, pastilah sudah menjelajah manusia purba di kawasan ini yang menyaksikan letusan maha dahsyat Gunung Gede, atau mungkin juga ada yang tersapu awan panas karena sedang berada di kawasan yang sekarang diberi nama Cibodas, Cimacan, Cipanas, Kawungluwuk, dan di Sukaresmi.

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR