Minggu, 29 November 2020
News & Nature

Tiga Kesultanan Di Kaki Tambora Perlaya

Jumat, 16 Oktober 2020

Waktu itulah api menyala di gunung, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan.

fc52544a-c9d6-4cba-939b-22658c5db4e2.jpg
T Bachtiar

Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dicatat dalam Kitab Bo’Sangaji Kai, seperti dibacakan Umi Ka’u Siti Maryam R Salahuddin pada tanggal 14 April 2014 di kediamannya di Bima:

“Pada Selasa, 11 April 1815

Tatkala itulah di tanah Bima datang takdir Allah

Melakukan kodrat dan iradat atas hamba-Nya

Maka gelap berbalik lagi lebih dari malam

Maka berbunyilah seperti meriam perang

Kemudian turunlah kersik, abu, seperti dituang

Lamanya dua hari tiga malam

Maka heranlah sekalian hamba-Nya

melihat karunia Rabbi Al Amin

yang melakukan fa al li ma yurid.

Setelah itu maka teranglah hari

rumah dan tanaman rusak semuanya

Demikianlah adanya itu

pecah Gunung Tambora

menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat.”

 

Di sisi barat Gunung Tambora terdapat Kesultanan Tambora yang berpenduduk 6.000 jiwa, hancur dilanda aliran abu panas, tak menyisakan seorang pun yang selamat. Di sisi selatan terdapat Kesultanan (Pa) Pekat yang berpenduduk 2.000 jiwa, semuanya tersapu awan panas, dan di sisi timurnya terdapat Kesultanan Sanggar yang berpenduduk 2.200 jiwa, yang menjadi korban langsung setengah dari jumlah penduduknya. Sementara di Kesultanan Dompu yang berpenduduk 10.000 orang, yang meninggal secara langsung sebanyak 1.000 orang. 

Ladang, sawah, semuanya tertimbun pasir sehingga tidak bisa digarap dalam waktu singkat. Keadaan ini menambah jumlah yang meninggal karena kalaparan, seperti tercatat di Kesultanan Sanggar sebanyak 825 orang, di Kesultanan Dompu 4.000 orang, di Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, di Kesultanan Bima 15.000 orang.

Di luar Pulau Sumbawa, seperti di Pulau Lombok, Junghuhn memperkirakan yang meninggal karena kelaparan berjumlah 40.000 orang dan di Pulau Bali sebanyak 25.000 orang. Kelaparan yang diderita masyarakat, telah menyebabkan banyak orang tua tega menukar anaknya dengan beras, kemudian oleh majikannya yang baru, budak tersebut dijadikan pekerja di kebun, bahkan dapat diperjualbelikan kembali.

Dampak letusan telah menyebabkan terjadinya migrasi penduduk, seperti dari Kesultanan Sanggar sebanyak 275 orang, dari Kesultanan Dompu 3.000 orang, dari Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, dan dari Kesultanan Bima 15.000 orang. Pada umumnya mereka mengungsi ke Pulau Jawa, Makasar, Bone, Selayar, Ambon, Banda, dan tempat lainnya yang lebih jauh.

Tiga kesultanan yang hancur, kemudian wilayahnya digabungkan dengan Kesultanan Dompu dan Bima. Wilayah Kesultanan Pa (Pekat) dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Dompu, sedangkan wilayah Kesultanan Sanggar dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Bima.

Dalam Syair Kerajaan Bima yang ditulis oleh Khatib Lukman, seperti yang disunting oleh Henri Chambert-Loir (1982), letusan Gunung Tambora terjadi karena murka Allah kepada Sultan Tambora yang telah menganiaya Said Idrus asal Bengkulu, yang singgah di Kesultanan Tambora.

 


BACA JUGA: Seharusnya ada 'Tipe Letusan Papandayan'


 

Singkat ceritera, suatu hari, Said Idrus melihat seekor anjing dan penjaganya di dalam masjid. Said Idrus menyuruh penjaga agar membawa anjing keluar masjid. Namun penjaga itu tidak menerima perintah itu, malah ia segera melapor kepada sultan, sebagai pemilik anjing.

Sultan marah, dan ingin membalas dendam. Dibuatlah pesta yang menyajikan masakan daging kambing dan daging anjing. Said Idrus diundang dan kepadanya disajikan daging anjing. Setelah disantap, sultan mengatakan bahwa itu adalah daging anjing. Terjadilah saling bantah, dan sultan menitahkan untuk membunuh Said Idrus. Waktu itulah api menyala di gunung, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan. Dalam Syair Kerajaan Bima itu dituliskan:  

“…

Sultan Tambora Abdul Gafur

barang pekerjaannya sangatlah takabur

tidalah percaya riwayat dan tutur

negeri dan badan menjadi lebur.

 

Tanah Tambora yang kena durhaka

Bima dan Sumbawa dipindahkan belaka

sekalian orang telah celaka

sampai sekarang menanggung duka.

….”

 

Dampak letusan Gunung Tambora, tergambar dalam Syair Kerajaan Bima:  

….

Pada tahun Jim awal mulanya

diturunkan bala kepada hambanya

tanah Bima hangus semua padinya

laparlah sekalian isinya.

 

Lapar itu terlalu sangat

rupanya negeri tiada bersemangat

serasa dunia bekas kiamat

sukarlah gerangan baiknya bangat.

 

Adalah hujan lalu tertanam

padinya jadilah sangatlah kelam

datanglah takdir Khalik al-alam

turunlan abu dua hari tiga malam.

 

Habu yang turun sebagai rebut

rupanya alam kelam kabut

datanglah banjir mudik dari laut

terdampar ke darat perahu hanyut.

….

*

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR