Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Tiga Kesultanan Di Kaki Tambora Perlaya

Jumat, 16 Oktober 2020

Waktu itulah api menyala di gunung, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan.

fc52544a-c9d6-4cba-939b-22658c5db4e2.jpg
T Bachtiar

 

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

 

SULTAN Sanggar selamat dari letusan Gunung Tambora. Kesultanannya berada di tenggara Gunung Tambora, dan luncuran awanpanas dan material letusan lainnya terhalang oleh Gunung Labunbun. Tentu, kalau abu letusannya mengguyur Kesultanan Sanggar.

Sultan menuturkan kesaksiannya kepada letnan Owen Phillips, yang ditugaskan Letnan Gubernur Raffles untuk memeriksa dampak letusan Gunung Tambora. Anggota tentara Kerajaan Inggris ini mendarat di Bima tanggal 18 April 1815, lalu berlayar selama 8 hari menyeruak tumpukan batuapung ke Dompu.

Sepenggal penuturan Sultan Sanggar itu: …. Sekitar pukul tujuh malam pada 10 April 1815, terlihat tiga tiang nyala api keluar dari puncak Gunung Tambora. Yang semula terpisah, kemudian tiang itu membesar dan semakin tinggi, akhirnya tiga tiang letusan itu menyatu menjadi hal yang sangat mengerikan. Dalam sekejap, tubuh gunung di dekat Sanggar berubah menjadi aliran api ke segala arah….

Awan panas menumbangkan dan membakar hutan. Batu-batu berjatuhan, badai melanda, menyapu dan menerbangkan rumah, manusia, binatang, pepohonan, dan membakar apa saja yang dilaluinya, kemudian melenyapkannya. Air laut naik setinggi empat meter dari biasanya.

 


BACA JUGA: Tambora, Letusan yang Mendinginkan Dunia


 

Ketika kekuatan letusan masih melebihi tekanan atmosfer, maka material letusan itu akan terus didorong naik menembus atmosfer. Namun, bila tekanannya melemah, bahkan menghilang, maka kekuatan angin akan berperan meniupkannya.

Material letusan yang berukuran besar, akan segera jatuh di sekitar puncak, lalu meluncur dengan kecepatan 200 km per jam, suhunya antara 400o - 600o C., sehingga apa saja yang dilaluinya akan dengan seketika hangus terbakar. Badai guguran membara dengan kecepatan yang tinggi, mampu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. 

Abu halus yang melayang-layang di stratosfer sampai mesosfer, terus berputar mengelilingi Bumi. Inilah yang menyebabkan cahaya Matahari tak mampu menembusnya, sehingga suhu di Bumi menjadi dingin.

Musim panas tanpa kehadiran Matahari dengan suasana yang mencekam, langit yang berwarna lembayung. Suhunya lebih dingin dari biasanya, telah menyebabkan panen gagal, sehingga kekurangan bahan pangan melanda di mana-mana, kelaparan meluas di Eropa dan Amerika.    

M Nugraha Kartadinata (1997) menulis, material letusan Gunung Tambora ini dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu material aliran utama piroklastika yang meluncur ke arah timur, tenggara, dan timur laut, merupakan campuran abu, pasir, kerikil, dan batuapung berukuran 6 – 40 cm, berwarna abu-abu sampai hitam. Sementara abu yang meniang, lalu ditiup angin tenggara pada bulan April, menyebabkan aliran abu panasnya menyebar ke arah barat, barat daya, dan barat laut gunung.

 


BACA JUGA: Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto


 

Perbedaan material telusan inilah yang menyebabkan perbedaan tutupan vegetasi di lereng Gunung Tambora di kemudian hari dan perbedaan dampak yang diakibatkannya. Laporan Petroeschevsky (1947), empat tahun setelah letusan, Agustus 1819, lereng barat Gunung Tambora sudah ditumbuhi hutan lebat. Padahal, pada saat yang sama, di sisi timur, selatan, dan tenggara, tak terlihat adanya pepohonan, karena masih menyisakan kehancuran yang mengerikan.

Halaman berikutnya: Kitab Bo' Sangaji Kai...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR