Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Tiga Kesultanan Di Kaki Tambora Perlaya

Jumat, 16 Oktober 2020

Waktu itulah api menyala di gunung, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan.

fc52544a-c9d6-4cba-939b-22658c5db4e2.jpg
T Bachtiar

 

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

 

SULTAN Sanggar selamat dari letusan Gunung Tambora. Kesultanannya berada di tenggara Gunung Tambora, dan luncuran awanpanas dan material letusan lainnya terhalang oleh Gunung Labunbun. Tentu, kalau abu letusannya mengguyur Kesultanan Sanggar.

Sultan menuturkan kesaksiannya kepada letnan Owen Phillips, yang ditugaskan Letnan Gubernur Raffles untuk memeriksa dampak letusan Gunung Tambora. Anggota tentara Kerajaan Inggris ini mendarat di Bima tanggal 18 April 1815, lalu berlayar selama 8 hari menyeruak tumpukan batuapung ke Dompu.

Sepenggal penuturan Sultan Sanggar itu: …. Sekitar pukul tujuh malam pada 10 April 1815, terlihat tiga tiang nyala api keluar dari puncak Gunung Tambora. Yang semula terpisah, kemudian tiang itu membesar dan semakin tinggi, akhirnya tiga tiang letusan itu menyatu menjadi hal yang sangat mengerikan. Dalam sekejap, tubuh gunung di dekat Sanggar berubah menjadi aliran api ke segala arah….

Awan panas menumbangkan dan membakar hutan. Batu-batu berjatuhan, badai melanda, menyapu dan menerbangkan rumah, manusia, binatang, pepohonan, dan membakar apa saja yang dilaluinya, kemudian melenyapkannya. Air laut naik setinggi empat meter dari biasanya.

 


BACA JUGA: Tambora, Letusan yang Mendinginkan Dunia


 

Ketika kekuatan letusan masih melebihi tekanan atmosfer, maka material letusan itu akan terus didorong naik menembus atmosfer. Namun, bila tekanannya melemah, bahkan menghilang, maka kekuatan angin akan berperan meniupkannya.

Material letusan yang berukuran besar, akan segera jatuh di sekitar puncak, lalu meluncur dengan kecepatan 200 km per jam, suhunya antara 400o - 600o C., sehingga apa saja yang dilaluinya akan dengan seketika hangus terbakar. Badai guguran membara dengan kecepatan yang tinggi, mampu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. 

Abu halus yang melayang-layang di stratosfer sampai mesosfer, terus berputar mengelilingi Bumi. Inilah yang menyebabkan cahaya Matahari tak mampu menembusnya, sehingga suhu di Bumi menjadi dingin.

Musim panas tanpa kehadiran Matahari dengan suasana yang mencekam, langit yang berwarna lembayung. Suhunya lebih dingin dari biasanya, telah menyebabkan panen gagal, sehingga kekurangan bahan pangan melanda di mana-mana, kelaparan meluas di Eropa dan Amerika.    

M Nugraha Kartadinata (1997) menulis, material letusan Gunung Tambora ini dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu material aliran utama piroklastika yang meluncur ke arah timur, tenggara, dan timur laut, merupakan campuran abu, pasir, kerikil, dan batuapung berukuran 6 – 40 cm, berwarna abu-abu sampai hitam. Sementara abu yang meniang, lalu ditiup angin tenggara pada bulan April, menyebabkan aliran abu panasnya menyebar ke arah barat, barat daya, dan barat laut gunung.

 


BACA JUGA: Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto


 

Perbedaan material telusan inilah yang menyebabkan perbedaan tutupan vegetasi di lereng Gunung Tambora di kemudian hari dan perbedaan dampak yang diakibatkannya. Laporan Petroeschevsky (1947), empat tahun setelah letusan, Agustus 1819, lereng barat Gunung Tambora sudah ditumbuhi hutan lebat. Padahal, pada saat yang sama, di sisi timur, selatan, dan tenggara, tak terlihat adanya pepohonan, karena masih menyisakan kehancuran yang mengerikan.

Halaman berikutnya: Kitab Bo' Sangaji Kai...

 

Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dicatat dalam Kitab Bo’Sangaji Kai, seperti dibacakan Umi Ka’u Siti Maryam R Salahuddin pada tanggal 14 April 2014 di kediamannya di Bima:

“Pada Selasa, 11 April 1815

Tatkala itulah di tanah Bima datang takdir Allah

Melakukan kodrat dan iradat atas hamba-Nya

Maka gelap berbalik lagi lebih dari malam

Maka berbunyilah seperti meriam perang

Kemudian turunlah kersik, abu, seperti dituang

Lamanya dua hari tiga malam

Maka heranlah sekalian hamba-Nya

melihat karunia Rabbi Al Amin

yang melakukan fa al li ma yurid.

Setelah itu maka teranglah hari

rumah dan tanaman rusak semuanya

Demikianlah adanya itu

pecah Gunung Tambora

menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat.”

 

Di sisi barat Gunung Tambora terdapat Kesultanan Tambora yang berpenduduk 6.000 jiwa, hancur dilanda aliran abu panas, tak menyisakan seorang pun yang selamat. Di sisi selatan terdapat Kesultanan (Pa) Pekat yang berpenduduk 2.000 jiwa, semuanya tersapu awan panas, dan di sisi timurnya terdapat Kesultanan Sanggar yang berpenduduk 2.200 jiwa, yang menjadi korban langsung setengah dari jumlah penduduknya. Sementara di Kesultanan Dompu yang berpenduduk 10.000 orang, yang meninggal secara langsung sebanyak 1.000 orang. 

Ladang, sawah, semuanya tertimbun pasir sehingga tidak bisa digarap dalam waktu singkat. Keadaan ini menambah jumlah yang meninggal karena kalaparan, seperti tercatat di Kesultanan Sanggar sebanyak 825 orang, di Kesultanan Dompu 4.000 orang, di Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, di Kesultanan Bima 15.000 orang.

Di luar Pulau Sumbawa, seperti di Pulau Lombok, Junghuhn memperkirakan yang meninggal karena kelaparan berjumlah 40.000 orang dan di Pulau Bali sebanyak 25.000 orang. Kelaparan yang diderita masyarakat, telah menyebabkan banyak orang tua tega menukar anaknya dengan beras, kemudian oleh majikannya yang baru, budak tersebut dijadikan pekerja di kebun, bahkan dapat diperjualbelikan kembali.

Dampak letusan telah menyebabkan terjadinya migrasi penduduk, seperti dari Kesultanan Sanggar sebanyak 275 orang, dari Kesultanan Dompu 3.000 orang, dari Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, dan dari Kesultanan Bima 15.000 orang. Pada umumnya mereka mengungsi ke Pulau Jawa, Makasar, Bone, Selayar, Ambon, Banda, dan tempat lainnya yang lebih jauh.

Tiga kesultanan yang hancur, kemudian wilayahnya digabungkan dengan Kesultanan Dompu dan Bima. Wilayah Kesultanan Pa (Pekat) dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Dompu, sedangkan wilayah Kesultanan Sanggar dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Bima.

Dalam Syair Kerajaan Bima yang ditulis oleh Khatib Lukman, seperti yang disunting oleh Henri Chambert-Loir (1982), letusan Gunung Tambora terjadi karena murka Allah kepada Sultan Tambora yang telah menganiaya Said Idrus asal Bengkulu, yang singgah di Kesultanan Tambora.

 


BACA JUGA: Seharusnya ada 'Tipe Letusan Papandayan'


 

Singkat ceritera, suatu hari, Said Idrus melihat seekor anjing dan penjaganya di dalam masjid. Said Idrus menyuruh penjaga agar membawa anjing keluar masjid. Namun penjaga itu tidak menerima perintah itu, malah ia segera melapor kepada sultan, sebagai pemilik anjing.

Sultan marah, dan ingin membalas dendam. Dibuatlah pesta yang menyajikan masakan daging kambing dan daging anjing. Said Idrus diundang dan kepadanya disajikan daging anjing. Setelah disantap, sultan mengatakan bahwa itu adalah daging anjing. Terjadilah saling bantah, dan sultan menitahkan untuk membunuh Said Idrus. Waktu itulah api menyala di gunung, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan. Dalam Syair Kerajaan Bima itu dituliskan:  

“…

Sultan Tambora Abdul Gafur

barang pekerjaannya sangatlah takabur

tidalah percaya riwayat dan tutur

negeri dan badan menjadi lebur.

 

Tanah Tambora yang kena durhaka

Bima dan Sumbawa dipindahkan belaka

sekalian orang telah celaka

sampai sekarang menanggung duka.

….”

 

Dampak letusan Gunung Tambora, tergambar dalam Syair Kerajaan Bima:  

….

Pada tahun Jim awal mulanya

diturunkan bala kepada hambanya

tanah Bima hangus semua padinya

laparlah sekalian isinya.

 

Lapar itu terlalu sangat

rupanya negeri tiada bersemangat

serasa dunia bekas kiamat

sukarlah gerangan baiknya bangat.

 

Adalah hujan lalu tertanam

padinya jadilah sangatlah kelam

datanglah takdir Khalik al-alam

turunlan abu dua hari tiga malam.

 

Habu yang turun sebagai rebut

rupanya alam kelam kabut

datanglah banjir mudik dari laut

terdampar ke darat perahu hanyut.

….

*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR