Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Teratai Mekar di Batujaya

Kamis, 28 Januari 2021

Peristiwa alam masa lalu sangat membantu bagi para ahli kebudayaan untuk merekonstruksi suatu peristiwa budaya.

f7f478b1-56f3-4b6d-852e-592570debbc6.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


Candi putih itu laksana teratai yang mekar di tengah telaga. Di Pantai Batujaya abad ke 5 akan terlihat kompleks percandian yang terbuat dari bata merah yang dilapisi plesteran/lepa batu kapur bakar warna putih. Laut Jawa di sekitar Pantai Batujaya yang tenang, dekat muara Ci Tarum yang besar, kawasan yang tingginya antara 1-2 meter dari permukaan laut (m.dpl.) itu, berjajar candi-candi putih, laksana teratai putih yang mengambang di permukaan air yang biru, seperti Candi Jiwa yang bagian atasnya membentuk delapan kelopak bunga teratai yang mekar.

Sekarang, saat hujan turun begitu lebatnya, hamparan persawahan maha luas di daerah Batujaya, Karawang itu berubah menjadi genangan air yang tiada berujung. Berhari-hari di bulan Januari 2006 itu, sawah yang baru ditanami itu tergenang. Pada saat bajir inilah lumpur dari Ci Tarum dan sungai sungai kecil lainnya mengendap di daerah limpahan banjir.

Lumpur dari gunung-gunung itu, mulai dari Gunung Wayang dan daerah hulu lainnya di Kabupaten Bandung, setiap waktu mengendap di sepanjang alirannya, dan tersebar secara merata ketika banjir menggenangi seluruh hamparan persawahan.


 

BACA JUGA: Danau Tempe, Mangkuk Ikan dan Poros Pelayaran

 


Kalau setahun diendapkan setebal 1 mm., maka selama 10 tahun akan mengendap setebal 1 cm. lumpur di kasasan ini. Pengendapan lumpur itu bukan saja dapat mempertebal lapisan tanah, tapi juga dapat memperpanjang aliran sungai. Muara sungai pun terus bergeser ke arah laut.

Nama-nama tempat di kawasan Batujaya, Karawang Utara, banyak yang berkaitan dengan air atau laut. Misalnya Telukampel, Telukbango, atau Telukbuyung. Nama-nama tempat ini sekarang berada jauh dari pantai. Teka-teki penamaan ini akan terjawab bila kita hubungkan dengan turun-naiknya muka laut di Indonesia, seperti yang pernah diteliti oleh De Klerk (1983).

Sekitar 5000 tahun yang lalu, pantai utara Karawang tidak berada pada posisinya sekarang, melainkan jauh menjorok ke dalam, di daerah yang saat ini mempunyai ketinggian 5 m.dpl. Batujaya saat itu masih berupa pantai dangkal. Muka laut terus menurun, sampai pada suatu saat muka laut berada di daerah yang mempunyai ketinggian 2 meter dpl. yang terjadi 1500 tahun yang lalu, atau terjadi pada tahun 483 M (1983, saat penelitian, dikurangi 1500).

Peta geomorfologi yang dibuat oleh Herman Th. Verstappen (2000) menggambarkan riwayat bentang alam Jakarta – Bekasi – Karawan Utara, seperti aliran Ci Tarum purba, serta tanggul-tanggul pantai purba yang berada jauh dari pantai saat ini. Bila melihat keadaan bentang alamnya yang terjadi waktu itu, sangat mungkin pembangunan komplek percandian di Batujaya dimulai pada saat Raja Tarumanagara ke-5 yang bernama Indrawarman yang bertahta antara tahun 455-515.

Halaman berikutnya: Konstruksi budaya dengan peristiwa alam...

 

Peristiwa alam masa lalu sangat membantu bagi para ahli kebudayaan untuk merekonstruksi suatu peristiwa budaya. Misalnya hal ini pernah dirintis oleh Sampurno (1980) untuk menjawa teka-teki keruntuhan Kerajaan Majapahit. Demikian juga Yahdi Zaim (1997) mencoba menjawab pertanyaan mengapa Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran.

Kerajaan yang berpusat di pinggir pantai dan di muara sungai itu, mengalami kemunduran ketika pengendapan lumpur yang tinggi, dibarengi adanya pengangkatan Pulau Sumatra, serta pengaruh perubahan muka laut (regresi) yang mengakibatkan pusat kerajaan menjadi jauh dari pantai. Akhirnya Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan memudar pengaruhnya.

S. Sartono pun, seperti diungkapkan Yahdi Zaim (1997), bahwa di sekitar Tosara, Kabupaten Bone, terdapat sebuah kerajaan yang berkembang pada abad ke 16 yang berpusat di Teluk Bone, Sulawesi. Ketika Kerajaan ini berada pada puncak kejayaannya, perdagangan sudah sangat maju. Saat itu, dari Teluk Bone di timur, dapat langsung memotong Pulau Sulawesi ke Selat Makasar di sebelah barat, karena masih berupa selat yang sangat baik untuk dilayari.

Saat ini jalur tersebut telah menjadi daratan. Ketika jalur lintas ini mendangkal, maka pelayaran harus memutar ke selatan, melewati Selat Selayar di Laut Flores yang jauh dan penuh risiko. Jalur lintas ini amat penting, karena telah menghubungkan jalur perdagangan antara kerajaan di Tosara dengan kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

R.W. van Bemmelen melihat adanya perubahan alam di selat antara Gunung Muria dengan Pulau Jawa pada abad ke 16. Kala itu, selat ini merupakan jalur perekonomian di pantura Jawa Tengah, yang menghubungkan pusat-pusat kerajaan di sana. Keadaannya kemudian berubah medangkal dan berakhir menjadi daratan yang saat ini sangat padat lalu-lintas darat antara Jakarta – Cirebon – Semarang – Surabaya.


 

BACA JUGA: Tiga Kesultanan Di Kaki Tambora Perlaya

 


Inilah pentingnya menganalisis keadaan alam dan ekologi masa lalu ketika kerajaan itu masih berdiri dengan peninggalan kebudayaannya. Ekologi di sekitar percandian di Batujaya abad ke IV – VII tentu beda dengan ekologi sekitar candi saat ini.

Ketika garis pantai berada di daerah yang mempunyai ketinggian dua meter dpl. di sana didirikan lebih dari 24 candi bata merah berlepa kapur bakar yang putih. Jadi, candi yang saat ini berada jauh dari pantai itu dulunya didirikan di pinggir pantai, di pinggir Ci Tarum purba. Lokasi ini memberikan kemudahan bagi hubungan dengan daerah lain.

Kapal-kapal merapat di pantai yang tenang, diteruskan sedikit ke muara sungai, lalu masuk komplek percandian di Batujaya. Aliran peribadatan di kompleks Candi di Batujaya haruslah dimulai dari baratlaut, arah datangnya para peziarah, lalu berputar serah jarum jam, mengalir seirama gerak alamraya di bumi selatan khatulistiwa.

Kerajaan Tarumanagara tumbuh menjadi kerajaan yang sangat berpengaruh luas hingga seluruh Provinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jaya saat ini, berkembang sejak tahun 358. Dewawarman VII raja Kerajaan Salakanagara (308-340), menyerahkan kekuasaannya kepada menantunya Jayasinghawarman. Nama kerajaanya kemudian diubah menjadi Tarumanagara, dan ia menjadi rajanya yang pertama (358–382). Kerajaan Tarumanagara berkembang dari tahun 358 hingga 669, ketika Tarusbawa, menantu Raja Tarumanagara ke 12 mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda.

Kompleks percandian Batujaya berada di sebelah timur Tugu, tempat Prasasti Tugu ditemukan. Prasasti ini memberitahukan tentang pembuatan dua saluran irigasi, yang lokasinya telah direkonstruksi oleh Herman Th. Verstappen dan Nurduyn (2000).

Penataan lanskap kompleks candi harus dibuat oleh ahlinya, kalau perlu dilombakan, selagi kawasan itu belum dipadati permukiman, sebelum masalah yang makin rumit datang. Perencanaan dan penataan untuk proyeksi sekian puluh tahun ke depan, bila wujud percandian di Batujaya dan Cibuaya ini sudah dipugar dengan utuh, jalan tol pantura sudah rampung, jembatan di Ci Tarum yang menghubungkan Bekasi dengan Karawang sudah selesai, betapa mudahnya akses masuk ke kawasan ini.

Kompleks percandian ini mempunyai prospek yang amat strategis bagi pengembangan daerah, seperti sektor pariwisata pendidikan. Nantinya kawasan ini akan sangat mudah dijangkau.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR