Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Teka Teki Letusan Besar Gunung Salak

Jumat, 19 Juni 2020

Lumpur dan batang kayu memenuhi muara Ci Liwung di Batavia, menjadi malapetaka bagi kota ini

cov3.jpg
t bachtiar

Pekan ini, kabaralam.com menyajikan rangkaian catatan perjalanan Gunung Salak dalam tiga artikel feature dari redaktur senior kabaralam.com T. Bachtiar, yang juga pemandu geowisata (PAR. 103003436.2019). Tulisan ini merupakan bagian pertama dari tiga tulisan untuk mengantar aktivitas wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan mendukung upaya konservasi. Selamat menikmati.

 

UNTUK meneliti gempabumi yang telah menyebabkan aliran Ci Liwung di dekat muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter, pemerintah kolonial mengirimkan ekspedisi Ram dan Coops tahun 1701 ke kaki Gunung Pangrango. Ekspedisi ini melaporkan, bahwa tidak terdapat berita mengenai nasib penduduk di sepanjang Ci Liwung. 

Saleh Danasasmita (1983) berkeyakinan, bila pada tahun 1701 penduduk Kampungbaru masih bisa mengantar Ram dan Coops, dan diberitakan aliran Ci Keumeuh ambles ke dalam tanah, kemudian robekan itu dapatlah diperkirakan bahwa tanah yang terbelah hebat itu antara Ci Liwung dengan Ci Sadane. 

Arthur Wihmann dalam desertasinya, The Earthquakes of the Indian Archipelago Until the Year 1857, menuliskan, bahwa pada tanggal 5 Januari 1699, telah terjadi gempa bumi dahsyat di Jawa Barat dan bagian barat daya Sumatra.

______________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

______________________________________________________________________

Di Batavia (Jakarta) di bawah badai hujan lebat, muncul pada malam hari sekitar pukul 01:30, setelah ledakan sebelumnya, getarannya berlangsung sekitar 15 menit, yang menyebabkan runtuhnya 21 rumah dan lumbung, dan 28 orang hilang. 

Di tebing utara Pangrango [Gunung Gede] serta Gunung Salak dekat Buitenzorg (Bogor), terjadi gempa yang sangat kuat, yang menyebabkan di gunung itu terjadi longsor. Tumpukan puingnya berhenti di sungai dan menyebabkan banjir. Lumpur dan batang kayu memenuhi muara Ci Liwung di Batavia, menjadi malapetaka bagi kota ini.

Teka-teki letusan atau bukan letusan yang terjadi pada tahun 1699 terjawab oleh hasil penelitian Christopher J. Harpel (2015) dari Earth Observatory of Singapore. Harpel menulis bahwa endapan vulkaniklastik yang terdapat di sekitar Gunung Salak menyimpan sejarah letusan eksplosif dan aliran guguranpuing.

Endapan Lahar dan piroklastik menunjukkan bahwa Gunung Salak pernah meletus eksplosif 37.500 tahun yang lalu dan 25.000 tahun yang lalu. Deposit hasil letusan 37.500 tahun yang lalu itu terdapat di semua sisi gunung, hal ini menunjukkan telah terjadi letusan yang sangat besar. 

Batang kayu yang terdapat dalam endapan aliran guguran puing menghasilkan umur sekitar 4.500 tahun yang lalu. Dari laporan kolonial Belanda, pada tahun 1699 M terjadi gempabumi besar dan longsoran besar atau guguranpuing yang bersumber dari dinding Gunung Salak, yang menyebabkan banjir di Batavia (sekarang Jakarta), dan membendung tiga sungai, yaitu Ci Liwung, Ci Pinanggading, dan Ci Apus. 

Dari batang pohon yang terdapat dalam endapan aliran guguranpuing di Ci Apus dan di tiga sungai lainnya, penelitian Harpel menghasilkan umur yang sama, bahwa batang-batang pohon itu telah tertimbun sejak sekitar 1699 M. 

Christopher J. Harpel menegaskan, dari hasil penelitiannya, ia menolak kemungkinan terjadinya letusan Gunung Salak pada tahun 1699. Harpel beralasan karena sangat sedikitnya kandungan batuapung atau skoria yang terdapat dalam deposit aliran guguranpuing tahun 1699. Hal ini menyiratkan tidak pernah terjadinya letusan yang berbarengan dengan guguranpuing. 

Selain bahaya letusan dari Gunung Salak, longsor gunungapi yang dipicu oleh gempa bumi merupakan bahaya gunungapi non letusan yang harus diwaspadai, karena pernah terjadi pada tahun 1699. Kewaspadaan perlu terus ditingkatkan, mengingat di sepanjang sungai itu kini sudah dipadati oleh pemukiman.

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak Dalam Catatan Pantun Kebumian

________________________________________________________________________

Sudah lama ditegaskan, bahwa pada tahun 1699 itu terjadi letusan Gunung Salak, seperti ditulis oleh Verbeek dan Fennema (1896) dalam tulisannya De Salak, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh K Kusumadina (1982), yang menegaskan bahwa, “Letusan Gunung Salak pada tahun 1699 itu tidak terjadi, sehingga harus dicoret dari daftar gejala letusan gunung api”. 

Hasil penelitian sudah menyatakan kebenaran, bahwa pada tahun 1699 Gunung Salak tidak meletus, tetapi dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (edisi kedua) yang disusun dan diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2011, dalam bagian sejarah letusan Gunung Salak, masih menuliskan bahwa: “tahun 1668-1699 terjadi erupsi samping dan erupsi normal, erosi yang merusak lingkungan di Gunung Salak II. Erupsi berupa letusan magmatik”.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR