Jumat, 27 November 2020
News & Nature

Tambora, Letusan yang Mendinginkan Dunia

Selasa, 13 Oktober 2020

Dengan berskala 7 dari 8 skala VEI, kekuatan ledakannya setara dengan 171.000 kali bom atom Hiroshima - Nagasaki

9fd40f07-0315-42ec-87b7-ea63f91f78b1.jpg
T Bachtiar

Dua kilometer menjelang bibir kaldera, perjalanan melintasi lava yang mengalir 10.000 tahun yang lalu, terlihat masih kasar dengan warna hitam, di sela-selanya terdapat tumbuhan yang bertahan dalam situasi ekstrim. Gunung Tambora pernah 19 kali meletus effusif, melelerkan lava antara 190.000 – 9.000 tahun yang lalu. Jarak antar letusannya, yang terpendek hanya berjarak setahun, dan jarak terpanjang selama 38 tahun.  

Bentang alam yang megah. Dari bibir kaldera Tambora, tampak jelas di dasarnya terlihat air yang menakung menjadi danau. Pada tahun 1951, M.I. Adnawidjaja, dkk. menuruni dasar kaldera dan mengukur danau hijau kekuningan itu. Garis tengah danau dari utara ke selatan, panjangnya 800 m, dan garis tengah barat timurnya 200 m, dengan titik terdalamnya mencapai 15 m. Danau ini bertambah luas, seperti diukur oleh Wahibur Rahman pada tahun 2013. Garis tengah danau terpanjang menjadi 1.200 m dan terpendek 500 m.

Sambil duduk di bibir kawah, memandang sekeliling kaldera, membayangkan bagaimana letusan yang menghancurkan tiga kesultanan pada tanggal 11 April 1815 malam itu terjadi. Letusan dengan kekuatan berskala 7 dari 8 skala berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), kekuatan ledakannya setara dengan 171.000 kali bom atom Hirosima – Nagasaki, atau 4 kali lebih besar dari letusan Gunung Krakatau 1883.

 


 

BACA JUGA: "Gelenggeng" Gunung Galunggung

 


 

Ledakannya terdengar sampai di Padang, Sumatera Barat, yang jauhnya 2.000 km, terdengar seperti suara meriam. Terdengar dengan jelas di Pulau Bangka yang jauhnya 1.775 km. Gempa buminya terasa di Surabaya yang jaraknya 600 km. Air laut di sekeliling Semananjung Sanggar naik sampai 4 meter.

Tekanan gas dari dalam gunung saat letusan sangat tinggi, sehingga mampu menghamburkan rempah-rempah dari dalam tubuh gunung ini sebanyak 150 km3 ke atmosfer dengan tinggi tiang letusan mencapai 43 km. Aerosolnya menembus lapisan ozon, masuk ke lapisan mesosfer, tempat terbakarnya kebanyakan meteor yang datang dari antariksa.

Kabut bergumpal keabuan dihembus angin menaiki lereng kaldera. Udara terasa lembab dan dingin. Kami harus segera turun. Belum sampai pos tempat kami menyimpan barang, hujan sudah mengguyur. Kami semua mandi air hujan, karena memang sudah dua hari ini tubuh belum tersentuh air.*

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR