Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Tambora, Letusan yang Mendinginkan Dunia

Selasa, 13 Oktober 2020

Dengan berskala 7 dari 8 skala VEI, kekuatan ledakannya setara dengan 171.000 kali bom atom Hiroshima - Nagasaki

9fd40f07-0315-42ec-87b7-ea63f91f78b1.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

ADA semburat merah di penghujung malam, pertanda fajar akan segera berganti pagi. Tebing raksasa yang berlapis-lapis itu mulai terlihat temaram, sesekali tersapu kabut yang mengubah bentang alam menjadi putih susu. Hembusan angin lembah menggigilkan tubuh yang semalaman terus berjalan menanjak diterangi rembulan, meretas rerumputan berembun, sedada tingginya, di lereng yang bergelombang.

Saat berdiri di bibir kaldera yang menganga, deru angin meniup kabut, dinginnya terasa mencekam, teringat akan masa lalu letusannya yang mendinginkan dunia. Aura kedahsyatan letusan 199 tahun yang lalu masih sangat terasa.

Letusan mahadahsyat Gunung Tambora 11 April 1815 itu menyebabkan kekosongan di dalam tubuh gunung, sehingga bagian atasnya tidak kuat lagi menahan beban, kemudian retak-retak, lalu ambruk ke dalam tubuh gunung, membentuk kaldera, kawah yang diameternya lebih dari 2 km. Dari dasar kaldera inilah kehidupan gunungapi muda membangun dirinya. 

Kaldera dengan garis tengah bagian atas mencapai 9 km, dan bagian dasarnya 6 km, lingkarannya hampir bulat, seperti cawan maha besar yang menghunjam sedalam 1.551 m. Dari rahim kaldera Tambora, lahir gunung api muda, tampak mengepulkan asap belerang, Doro Afi Toi, namanya, yang dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil, hasil kegiatan mulai tahun 1847 - 1913.  

 


 

BACA JUGA: Menjelajah Lava Gunung Guntur

 


 

Wahibur Rahman pernah menuruni kaldera hingga di dasarnya pada tanggal 9 September 2013, lalu mengukur gunung api penerus dinasti Tambora. Sampai September 2013, tingginya baru mencapai 15 m. diukur dari dasar kaldera. Dasar tubuhnya 105 m x 148 m.

Gunung muda ini memang masih kecil bila dibandingkan dengan Gunung Tambora saat ini yang tingginya 2.851 m. dpl, apalagi dengan tinggi gunung sebelum meletus tahun 1815 yang mencapai 4.300 m. dpl. Selain Doro Afi Toi, yang suhu tubuhnya 98o C, ada juga Doro Afi Bou, suhunya 77o C. Di dasar kaldera itu terdapat pula air panas, suhunya antara 92o - 96o C.

Kaki Gunung Tambora langsung berbatasan dengan laut. Di sebelah barat bersentuhan dengan Selat Batahai, di selatan dengan Teluk Saleh, di utara dengan Laut Flores, dan di timur berbatasan dengan Doro Labumbun. Bila ditarik garis lurus dari ujung kaki Gunung Tambora di sekitar Laut Flores sampai ujung kaki gunung di sekitar Teluk Saleh, panjangnya mencapai 40 km.

Boleh jadi, pada mulanya Tambora merupakan gunung api pulau yang dikelilingi laut. Letusan-letusan Gunung Tambora menumpahkan rempah-rempah yang bertemu dengan rempah-rempah dari letusan-letusan Doro Labumbun, yang meletus terakhir 690.000 tahun yang lalu, menyambungkan kaki Gunung Tambora sisi timur dan kaki Doro Labumbun sisi barat.

Perjalanan dari Pos 3 pada jalur pendakian Doro Ncanga ke arah puncak, meniti sebagian aliran lava kehitaman yang mengalir 15.000 tahun yang lalu, yang di sela-selanya ditumbuhi edelweiss kecil, di antara padang ilalang yang akarnya banyak diseruduk babi hutan. Perjalanan juga melintas di atas aliran piroklastika letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang berupa batu apung sebesar kacang tanah hingga berukuran bola sepak, menutupi hampir seluruh gunung ini hingga di kakinya.

Halaman berikutnya: Dua kilometer menjelang bibir kaldera...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR