Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Seusai Bujangga Manik Mendaki Papandayan

Kamis, 1 Oktober 2020

Gunung ini disebut sebagai panenjoan, semua tempat terlihat dari sini

4a3ab7bb-0ba9-4571-bb47-f2744f5e90c7.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

SUARA gemuruh yang mendesis itu seperti suara pesawat jet yang melintas rendah. Asap mengepul dari rekahan-rekahan yang mengeluarkan belerang, kemudian lelehan kuning itu memadat. Aroma belerang, mengambang di udara di sekitar bualan-bualan lumpur panas dan di sekitar lubang hembusan gas di Kawah Emas dan Kawah Manuk di Gunung Papandayan.

Gunung ini dikenal kalangan penggiat di alam bebas. Umumnya mereka berkemah di Pondok saladah, yang semula berupa danau Kawah Papandayan purba, yang terkenal dengan sebutan Tegalbrungbrung. Edelweiss tumbuh subur di sini, dan menjadi daya tarik yang luar biasa.

Bebatuan di lereng terjal dinding kawah yang berbentuk tapalkuda itu, warnanya abu muda keputihan dan kuning kecoklatan. Di beberapa tempat, batu seukuran ember terlihat bertumpuk di ujung guguran.

Longsor gunungapi atau guguran puing sering terjadi di sini karena bebatuan yang membentuk tubuh Gunung Papandayan sangat rapuh. Air yang berlimpah di kawasan ini meresap ke dalam tubuh gunung, lalu secara terus-menerus mendapatkan pemanasan dari dalam gunung. Tubuh gunung ini ibarat dikukus sepanjang waktu di atas tungku raksasa gunungapi.

Keadaan ini menjadi sangat peka terhadap getaran gempa bumi, seperti yang terjadi pada November 2002. Ketika terjadi gempa vulkanik dangkal pada tanggal 10 November, yang disusul gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam keesokan harinya. Letusan Gunung Papandayan tanggal 11 November 2002 telah memicu longsor di bagian luar dinding kawah Nangklak, yang longsorannya membendung aliran Ci Beureumgede di bagian hulu.

Curah hujan yang lebat hari itu telah menambah beban yang sangat besar, sehingga bendungan alami itu bobol petangharinya, yang menggerus ladang, jembatan, permukiman, dan materialnya menimbun jalan yang menghubungkan Garut – Cikajang sepanjang 2 km. Letusan Gunung Papandayan mencapai puncaknya pada tanggal 20 November.

 


BACA JUGA: Menjelajah Lava Gunung Guntur


 

Ahli gunung api dari berbagai negara pernah berkunjung ke Gunung Papandayan, di antaranya Haroun Tazieff pada tahun 1961, yang banyak menerbitkan laporannya di Eropa. Oleh karena itu jangan heran bila Gunung Papandayan jauh lebih populer di Eropa. Pada tahun 1908 Dinas Topografi mencatat ada saung bekas Raja Siam yang atapnya sudah hancur di sekitar kawah.

Pemerintah kolonial memerlukan belereng untuk berbagai keperluan, baik untuk pertahanan maupun industri. Karena belerang inilah, pada Januari 1706 atas perintah Residen Priangan, Cretain van Houten, seorang tentara, mengunjungi Gunung Papandayan dan Gunung Patuha untuk melihat kandungan belerangnya.

Pemerintah Kolonial saat itu mewajibkan Bupati Bandung untuk menyediakan 400 pikul belerang murni dan halus, yang diterimanya di Tanjungpura, Karawang. Saat itu, Cretain van Houten masih dapat melihat Gunung Papandayan dalam ketinggian penuh, karena pendakiannya itu 66 tahun sebelum letusan Gunung Papandayan 1772 yang mengambrukkan dinding bagian timur lautnya.

Halaman berikutnya: Rahib kelana menulis...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR