Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Sepuluhribu Bukit, Jangan Lagi Dikurangi!

Jumat, 17 Juli 2020

Selain berfungsi ekologis, pendidikan, dan rekreasi, juga dapat berfungsi sebagai benteng alam bila terulang kembali letusan gunung

61ddb2c1-645a-4cfc-9f20-fa37476c5973.jpg
T Bachtiar

Dalam mendukung pengembangan ekowisata yang bernilai edukasi dan mendorong upaya konservasi, pekan ini, kabaralam.com menyajikan serial artikel perjalanan Gunung Galunggung. Artikel ini merupakan tulisan ketiga dari tiga tulisan. 

____________________________________________________________

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

RONA bumi kawasan Gunung Galunggung dapat dicirikan dengan adanya kerucut gunung api, kaldera, dan perbukitan di bawahnya. Kawah Gunung Galunggung hasil letusan tahun 1982-1983 itu berada di dalam kaldera Gunung Galunggung yang berbentuk tapal kuda raksasa.

Kaldera Galunggung terbentuk karena terjadinya letusan dahsyat Gunung Guntur atau Gunung Galunggung Tua. Aktivitas gunungapinya terjadi sebelum pembentukan kaldera tapal kuda Galunggung. Aktivitas Gunung Guntur terjadi selama periode 50.000 - 10.000 tahun yang lalu, yang menghasilkan material letusan gunung api sebanyak 56,5 km3. Kegiatan letusannya berakhir dengan terbentuknya intrusi magma yang membentuk kubah lava di bawah kawah (cryptodome). 

Di puncak Gunung Guntur terdapat kawah yang sudah tidak aktif, dikenal dengan nama Kawah Guntur atau Kawah Saat. Bentuk kawahnya melingkar, diameternya sekitar 500 m, dengan kedalaman antara 100-150 m. Bagian tenggara kawah Gunung Guntur dipotong oleh tepi Kaldera Galunggung yang terbentuk kemudian.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Sembilan Bulan Letusan Galunggung

_____________________________________________________________________

Kubah lava yang tersembunyi di bawah kawah inilah yang menutupi diatrema Gunung Guntur, kemudian aktivitas letusan bergerak mengarah ke bagian terlemah dari kerucut Gunung Guntur sisi tenggara. Letusan yang menghancurkan tubuh gunung ini menghembuskan material letusan lebih dari 20 km3, kemudian membentuk kaldera berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah tenggara, dengan panjang 9 km dan lebar 2,7 km.

Tinggi dinding kaldera sekitar 1.000 m di barat laut, menjadi hanya 10 m di ujung tenggara. Endapan longsoran puing gunungapinya meluncur secara lateral membentuk endapan kipas ke arah tenggara Kaldera Galunggung, mencakup kawasan sekitar 170 km2, memanjang hingga 23 km. 

Mata air panas permanen muncul dari batuan gunung api, seperti di hulu Ci Kunir, Ci Banjaran, dan di Cipanas. 

Sutikno Bronto (1989) melakukan penelitian untuk mengetahui kapan terjadinya letusan yang membentuk kaldera tapal kuda Galunggung. Penanggalan radio karbon dari arang pohon yang gosong, yang terdapat di dalam endapan material letusan, umurnya mencapai 4.200  tahun.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Purun dan Pemberdayaan Perempuan Desa

_____________________________________________________________________

Guguran puingnya mengendap di tenggara Gunung Galunggung, yang mengarah ke kaldera tapal kuda raksasa Galunggung, membentuk perbukitan yang dikenal dengan nama Sepuluhribu Bukit Tasikmalaya.

Ahli geologi Escher (1925) menyebutnya The Ten Thousand Hills of Tasikmalaya (Sepuluhribu Bukit Tasikmalaya) untuk menyebut perbukitan yang sesungguhnya pada tahun 1925 jumlahnya ada 3.648 bukit. Escher mengajukan hipotesis rekonstruksi letusan gunung ini yang disertai giga banjir lahar.

Halaman selanjutnya: Materi lahar ... 

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR