Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Seharusnya ada 'Tipe Letusan Papandayan'

Jumat, 2 Oktober 2020

Letusan Gunung Bandai yang disebabkan oleh tekanan hidrotermal, seperti yang terjadi di Papandayan seabad sebelumnya, disebutlah Tipe Letusan Bandai.

10ee7f2a-44dc-483f-97fe-a3752cef0b83.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

Satu tahun setelah letusan yang terjadi pada tanggal 11-12 Agustus 1772, J.M. Mohr berkunjung ke Papandayan, dan menuliskan catatannya:

“Penduduk di kaki gunung dikejutkan dengan munculnya awan yang sangat terang yang menutupi gunung. Mereka melihat kembang api beterbangan di udara, dan dentuman seperti suara meriam.

Pukul 02.00 - 03.00 semburat api raksasa memayungi gunung yang berlangsung sangat singkat, hanya lima menit, yang disusul oleh tebing gunung yang terban, lalu terjadi guguran puing, longsor gunung api yang melanda kawasan seluas 250 km2.

40 perkampungan hancur-mumur, dan 2 orang kulit putih dan 2.957 penduduk di kaki gunung itu seketika kembali ke pangkuan-Nya.

Dari kawasan yang tertimbun sedalam hampir satu meter, ada dua orang yang dapat diselamatkan, dan 40 orang selamat, mereka berlindung di tengah kebun pisang.”

 


BACA JUGA: Seusai Bujangga Manik Mendaki Papandayan


 

F. Junghuhn berkunjung ke Gunung Papandayan pada tahun 1850, dan menulis peristiwa letusan gunung ini yang berdasar pada penuturan penduduk:

“Di malam hari tanggal 11-12 Agustus 1772, terjadi letusan yang disertai gemuruh dan ledakan-ledakan setelah lewat tengah malam. Tiba-tiba terlihat sinar api yang menerangi kegelapan, menggugurkan puncak gunung, melontarkannya dan menghamburkan bongkah-bongkah di sekelilignya. 40 kampung dalam sekejap tertimbun, dan 2.957 orang dan binatang peliharaan seketika menemui ajalnya di bawah timbunan guguran puing. Penduduk dari kampung-kampung yang terletak lebih jauh segera berlari, sehingga dapat terhindar dari hujan batu.

Keesokan harinya penduduk tercengang melihat sebagian besar gunung yang semula berbentuk kerucut, kini telah hilang, hancur, dan di sana kini tampak celah kawah yang dalam dan merekah menghembuskan uap.”

Letusan Gunung Papandayan 1772 ada yang menyamakan dengan letusan dahsyat Gunung Galunggung pada masa prasejarah. Tekanan dari dapur gunung api ini terus menekan ke luar, dan mendapat penglepasannya di samping tubuh gunungnya, yaitu di sisi timur laut. Sisi itulah yang paling lemah, karena di sana terdapat patahan-patahan lokal yang memajang sejajar, yang kini menjadi tebing sisi kiri dan kanan lengkungan tapalkuda itu.

Uap panas dari dapur gunung ini telah melapukkan secara intensif dindingnya, sehingga begitu ada gerakan magma dalam tubuh gunung, akan serta-merta menggoyang lereng yang lapuk itu, sehingga terjadilah apa yang disebut longsor gunung api atau guguran puing.

 


BACA JUGA: Menjelajah Lava Gunung Guntur


 

Sesungguhnya Gunung Papandayan meletus dengan ciri khasnya, yaitu guguran puing atau longsoran gunung api, namun tidak ada yang menyebutnya sebagai Tipe Letusan Papandayan. Ketika terjadi letusan Gunung Bandai di Jepang 1888, yang menunjukkan letusan yang disebabkan oleh tekanan hidrotermal, seperti yang terjadi di Papandayan seabad sebelumnya, disebutlah Tipe Letusan Bandai.

Halaman berikutnya: Tidak ada tanda yang berarti...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR