Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Raksasa Granit Belitung

Rabu, 9 September 2020

Jejak granit yang membelah dan mengelupas, terlihat nyata saat berjalan-jalan di atas batu yang datang puluhan juta tahun yang lalu itu

189b1a0e-619a-42a6-9794-2d6e50f7d1c8.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)


 

Bongkah-bongkah raksasa granit di Pulau Blitung, semula berupa lakolit, intrusi melembar yang menerobos lapisan batuan sedimen, jauh di bawah permukaan bumi. Tekanan magmanya cukup tinggi, sehingga bagian atasnya ditekan naik ke atas, menyebabkan lakolit berbentuk kubah. Tekanan yang kuat dari dalam bumi, menyebabkan lakolit terangkat ke permukaan.

Raksasa granit inilah yang membuat rasa kagum para pengunjung pada saat melihat instalasi alam yang kolosal dari raksasa granit di pantai-pantai Pulau Blitung. Inilah granit yang datang dari masa lalu, berdiri kokoh di pantai, di laut, dan di daratan, merupakan saksi sejarah alam pembentukan pulau Blitung. Batu granit raksasa yang tersingkap itu merupakan daya tarik wisata yang utama. Inilah wisata kekaguman akan bentang alam di pulau seluas 4.88 km2

Begitu keluar dari kendaraan, pengunjung langsung berhamburan mendekat ke batu-batu raksasa itu. Memegangnya, dan tentu, berfotoria di depan granit, adalah sisi pemotretan yang paling seru.

Granit yang ada di bumi Blitung ini merupakan ujung selatan dari Sabuk Timah yang membelit dari utara ke selatan, mulai dari Birma, Muangthai, Malaysia, Kepulauan Riau, Pulau Bangka, Pulau Blitung, panjangnya sekitar 3.500 km. dengan lebar antara 400 - 800 km. Sekitar 60% produksi timah tahunan dunia berasal dari Asia Tenggara.

_________________________________________________________________

BACA JUGA: Invasi Akasia Berduri di Sabana Baluran

_________________________________________________________________

Di kawasan ini telah menghasilkan sekitar tiga perempat dari total produksi timah dunia selama abad ini. Sebagian besar bijih timah di Asia Tenggara ditambang di darat maupun di lepas pantai.

Batu granit itu terasa kasar kalau dipegang. Kalau diinjak tidak licin. Itulah salahsatu ciri batuan yang membeku jauh di dalam bumi, seperti granit yang terdapat di Blitung. Batuan yang membeku di dalam bumi disebut juga batuan plutonik, istilah yang diambil dari nama Dewa Pluto dalam mitologi Yunani, Dewa penguasa perut Bumi. Batuan plutonik memiliki butiran-butiran kasar, karena proses pembekuannya yang sangat lama. 

Kalau granit diamati lebih dekat, di dalam batuan beku yang tersusun dari kristal feldspar ini butirannya kasar hingga menengah, akan terlihat banyak butiran yang menyerupai biji-bijian atau granum. Itulah sebabnya batu ini dinamai granit.

Rasa ingin tahu dari pengunjung terus berlanjut. Maka pertanyaan yang spontan terucap, dari mana granit raksasa ini berasal? 

Berjalan di lorong-lorong batu granit sangat menyenangkan pengunjung. Meloncat dari batu ke batu, tidak terasa sudah berada di paling ujung atau di puncaknya, menjadi atraksi wisata yang menyenangkan di raksasa batu granit.

Kemunculan batu granit di Pulau Blitung mempunyai sejarah yang panjang. Semula, bongkah-bongkah granit raksasa itu berada jauh di bawah permukaan bumi. Sekitar 540 juta tahun yang lalu, keadaannya masih berupa batu cair yang menerobos kulit bumi, lalu mendingin secara perlahan, membentuk tubuh kubah granit berukuran gunung yang sangat luas, sedikitnya 100 km2.

Halaman selanjutnya: tersingkap di permukaan...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR