Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Pusaka Saujana Gunung Rinjani

Sabtu, 9 Januari 2021

Konon, bila yang berendam di air panas ini lalu airnya berubah menjadi keruh, dikatakan, orang yang sedang mandi itu banyak dosanya.

7dafe882-0458-4a09-9534-926085632660.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


MENJELANG pagi, angin bertiup kencang saat berada di tubir kaldera Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Angin meniup lubang telinga, menimbulkan suara yang terdengar aneh pada mulanya.

Matahari semakin meninggi, menggulung tirai malam, membuka kegelapan subuh. Paras danau yang semula gelap berangsur terang. Selang beberapa menit, kerucut Gunung Barujari menampakkan kegagahannya. Gunung ini tumbuh membangun dirinya dari dalam kaldera Gunung Rinjani.

Menurut kepercayaan masyarakat, di puncak gunung ini dihuni oleh mahluk halus yang dipimpin oleh Rara Anjani atau Dewi Anjani. Penyebutannya berubah menjadi Renjani, kemudian menjadi Rinjani. Dari puncak gunung ke arah tenggara, di sana terdapat Segara Muncar, yang dipercaya sebagai tempat istananya. Ada juga yang berpendapat, bahwa kata Rinjani berarti tinggi dan tegak, sesuai dengan wujud gunungnya.


 

BACA JUGA: Partitur Jejak Lava Gunung Batur

 


Dinding kaldera yang tegak membentang mengitari danau. Terlihat celah-celah raksasa, semula merupakan bagian yang dihancurkan saat letusan, memberikan jalan bagi material letusan gunung ini menuju perhentiannya di kaki gunung. Torehan yang menganga itu, dipergunakan sebagai jalan klasik bagi para peziarah, untuk melantunkan pujian akan kesuburan yang dibawa gunung ini bagi kehidupan, dan do’a-do’a permohonan untuk keselamatan setahun ke depan.

Deru angin, kepulauan asap Gunung Barujari, tebing tegak yang membentang, kabut yang berarak, terbayang tentang kejadian yang ditulis dalam Babad Lombok yang mengisahkan kedahsyatan letusan Gunung Rinjani dan Gunung Samalas. Bujangga yang menyaksikan letusan dahsyat gunung ini menuangkan pengalamannya yang mencekam dalam Babad Lombok, yang penggalannya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

….

Gunung Rinjani dan Gunung Samalas runtuh,

banjir batu bergemuruh,

menghancurkan Desa Pamatan,

rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur,

terapung-apung di lautan,

penduduknya banyak yang mati.

….

Kebenaran catatan dalam Babad Lombok itu tersingkap di kawasan penambangan galian C di Desa Tanakbeak, Kecamatan Batukliang. Di sanalah bukti peradaban dari Kerajaan Pamatan dapat disaksikan. Perabotan rumah tangga, pecahan gerabah, padi yang gosong, tertimbun ignimbrit dari letusan Gunung Rinjani tua setinggi 15 m. Bukti kedahsyatan letusan ultra-plinian ini juga dapat dilihat di pantai tebing Korleko, Desa Korleko, Kecamatan Labuhanhaji.

Memandang lingkaran kaldera raya yang megah, Segara Anak, dan Gunung Barujari dari puncak Gunung Kondo, rasanya tak ingin berpaling sedikit pun. Ingin terus berlama-lama di sana untuk melihat kemegahan yang tak ada bandingannya. Kaldera Segaraanak berukuran 3,5 km x 4,8 km, tampak begitu indah. Di dalamnya, pada ketinggian 1.998 m dpl, terdapat danau kaldera seluas 12 km persegi, dengan bagian terdalamnya mencapai 230 m. Volume air danau sebanyak 1.375.000.000 meter kubik.

Halaman selanjutnya: Mengalir melalui Kokok Putih...

 

Bila volume air danau berlebih, akan mengalir melalui Kokok Putih. Di hulu sungai ini terdapat sumber mata air panas, yang biasa djadikan untuk berendam para pendaki dan para peziarah. Konon, bila yang berendam di air panas ini lalu airnya berubah menjadi keruh, dikatakan, orang yang sedang mandi itu banyak dosanya.

Dalam beberapa literatur, seperti yang ditulis oleh K Kusumadinata (1979), Gunung Kondo disebut Gunung Sangkareang Daya. Tapi, ada juga penduduk yang menyebut Gunung Punduk. 

Di utara Pulau Sasak, kemudian lebih terkenal dengan nama Pulau Lombok, terdapat gunung api yang tingginya + 4.000 m dpl. Gunung ini kemudian meletus dahsyat, material letusan sebanyak 33-44 km kubik dihamburkan ke angkasa, membentuk kolom letusan yang tingginya mencapai 43 km, memasuki lapisan stratosfer. Kekuatan letusannya mencapai 7,1 VEI (Volcanic Explosivity Index).

Gunung Rinjani itu perpaduan antara kemegahan dan kecantikan. Banyak perempuan pendaki gunung, dalam hatinya tertanam keinginan, bila mempunyai anak perempuan nanti, akan diberi nama Rinjani.

Kaldera ini terbentuk, seperti ditulis oleh K Kusumadina (1979) dan pentarikhan umurnya oleh Lavigne (2013), dibagi ke dalam lima periode, yaitu periode pertama, di utara Pulau Lombok, terdapat gunung api yang tingginya mencapai +4.000 m, namanya Gunung Rinjani Tua. Periode kedua, dari sisi timur Gunung Rinjani Tua tumbuh gunung api baru, dinamai Gunung Rinjani Muda yang meletus membangun dirinya 6.000 tahun yang lalu.


 

BACA JUGA: Ujungkulon dalam Kemeriahan Ekosistem

 


 

Periode ketiga, terjadi letusan dahsyat, menurut Lavigne terjadi pada tahun 1.257 M. Letusan ultra plinian ini telah mengambrukkan tubuh Gunung Rinjani Tua (Gunung Samalas), membentuk Kaldera Segaraanak. Letusan inilah yang telah mengubur masyarakat di Kerajaan Pamatan, yang kedahsyatannya dicatat dalam Babad Lombok.

Periode keempat, dari dalam kaldera itu tumbuh kerucut-kerucut baru generasi ketiga Gunung Rinjani, yaitu: Gunung Barujari, Gunung Rombongan (Gunung Mas), dan Gunung Anakbarujari.

Periode kelima, dasar kaldera ini tidak meresapkan air, sehingga air hujan dapat ditampung di dalam kaldera menjadi danau yang kemudian dinamai Segara Anak. Pada periode ini Gunung Rinjani Muda meletus dari Kawah Muncar.

Kaldera Gunung Segaraanak yang megah dan cantik ini telah menjadi magnet yang sangat kuat, telah menarik puluhan ribu pengagumnya dari seluruh penjuru dunia untuk datang menziarahi gunungapi, yang bukan saja megah dan indah, tapi mengandung sejarah kebumian, dan sangat tinggi nilai kemanusiaannya.

Biarkanlah gunung ini hanya dinikmati oleh para pengagumnya yang berusaha dengan segenap hati untuk berjalan diketerjalan lereng dan dalam dekapan udara yang dingin saat berkemah. Keragaman bumi dan hayatinya tercermin dalam kemegahan pusaka saujana, dalam keheningan semesta, dalam kesyahduan pusaka bahana. Rasanya tidak perlu lagi diganggu dengan beragam ilusi bangunan baru yang justru akan mengurangi nilai segala kemeragan Gunung Rinjani.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR