Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Pusaka Saujana Gunung Rinjani

Sabtu, 9 Januari 2021

Konon, bila yang berendam di air panas ini lalu airnya berubah menjadi keruh, dikatakan, orang yang sedang mandi itu banyak dosanya.

7dafe882-0458-4a09-9534-926085632660.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


MENJELANG pagi, angin bertiup kencang saat berada di tubir kaldera Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Angin meniup lubang telinga, menimbulkan suara yang terdengar aneh pada mulanya.

Matahari semakin meninggi, menggulung tirai malam, membuka kegelapan subuh. Paras danau yang semula gelap berangsur terang. Selang beberapa menit, kerucut Gunung Barujari menampakkan kegagahannya. Gunung ini tumbuh membangun dirinya dari dalam kaldera Gunung Rinjani.

Menurut kepercayaan masyarakat, di puncak gunung ini dihuni oleh mahluk halus yang dipimpin oleh Rara Anjani atau Dewi Anjani. Penyebutannya berubah menjadi Renjani, kemudian menjadi Rinjani. Dari puncak gunung ke arah tenggara, di sana terdapat Segara Muncar, yang dipercaya sebagai tempat istananya. Ada juga yang berpendapat, bahwa kata Rinjani berarti tinggi dan tegak, sesuai dengan wujud gunungnya.


 

BACA JUGA: Partitur Jejak Lava Gunung Batur

 


Dinding kaldera yang tegak membentang mengitari danau. Terlihat celah-celah raksasa, semula merupakan bagian yang dihancurkan saat letusan, memberikan jalan bagi material letusan gunung ini menuju perhentiannya di kaki gunung. Torehan yang menganga itu, dipergunakan sebagai jalan klasik bagi para peziarah, untuk melantunkan pujian akan kesuburan yang dibawa gunung ini bagi kehidupan, dan do’a-do’a permohonan untuk keselamatan setahun ke depan.

Deru angin, kepulauan asap Gunung Barujari, tebing tegak yang membentang, kabut yang berarak, terbayang tentang kejadian yang ditulis dalam Babad Lombok yang mengisahkan kedahsyatan letusan Gunung Rinjani dan Gunung Samalas. Bujangga yang menyaksikan letusan dahsyat gunung ini menuangkan pengalamannya yang mencekam dalam Babad Lombok, yang penggalannya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

….

Gunung Rinjani dan Gunung Samalas runtuh,

banjir batu bergemuruh,

menghancurkan Desa Pamatan,

rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur,

terapung-apung di lautan,

penduduknya banyak yang mati.

….

Kebenaran catatan dalam Babad Lombok itu tersingkap di kawasan penambangan galian C di Desa Tanakbeak, Kecamatan Batukliang. Di sanalah bukti peradaban dari Kerajaan Pamatan dapat disaksikan. Perabotan rumah tangga, pecahan gerabah, padi yang gosong, tertimbun ignimbrit dari letusan Gunung Rinjani tua setinggi 15 m. Bukti kedahsyatan letusan ultra-plinian ini juga dapat dilihat di pantai tebing Korleko, Desa Korleko, Kecamatan Labuhanhaji.

Memandang lingkaran kaldera raya yang megah, Segara Anak, dan Gunung Barujari dari puncak Gunung Kondo, rasanya tak ingin berpaling sedikit pun. Ingin terus berlama-lama di sana untuk melihat kemegahan yang tak ada bandingannya. Kaldera Segaraanak berukuran 3,5 km x 4,8 km, tampak begitu indah. Di dalamnya, pada ketinggian 1.998 m dpl, terdapat danau kaldera seluas 12 km persegi, dengan bagian terdalamnya mencapai 230 m. Volume air danau sebanyak 1.375.000.000 meter kubik.

Halaman selanjutnya: Mengalir melalui Kokok Putih...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR