Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Pusaka Bumi Kawah Wurung dalam Kaldera Ijen Tua

Rabu, 8 Juli 2020

Aktivitas kegunungapiannya sudah padam, tidak jadi, gagal, atau wurung menjadi kawah yang aktif

dcacb6d2-bf37-4cb9-94b4-9ed3a10e2331.jpg

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai dari sisi edukasi dan membantu mendorong upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan ke Taman Wisata Alam Ijen. Artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga tulisan. 

_______________________________________________________

Oleh: T. Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 

BUKIT-bukit kecil yang ditutupi rumput hijau pada musim penghujan itu akan berubah menjadi kuning keemasan pada musim kemarau. Itulah bentang alam kompleks dari Kawah Wurung yang berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Di puncaknya ada cekungan yang masih sempurna, namun ada juga yang sumbing ke salah satu sisinya. Tempat inilah yang viral di media sosial sejak tahun 2015. Tak terelakan, wisatawan berdatangan sampai sekarang.

Bila cuaca cerah, delapan kilo meter dari puncak bukit itu lurus ke arah timur, akan terlihat Gunung Ijen. Sembilan kilometer di sebelah utara terlihat dinding yang melengkung sepanjang 18,5 km, itulah Pegunungan Kendeng, merupakan bagian dari dinding kaldera Gunung Ijen Tua yang masih ada.

____________________________________________________________________

BACA JUGA: Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang

____________________________________________________________________

Gunungapi Ijen Tua muncul di lingkungan laut yang dangkal mulai 700.000 tahun yang lalu hingga sekitar 294.000 tahun yang lalu. Gunung ini tingginya mencapai lebih dari +4.000 m dpl, kemudian meletus dahsyat antara 300.000 tahun yang lalu.

Pada saat letusan, tekanan gasnya sangat tinggi, mendorong dan menghamburkan material vulkanik sebanyak 80 km kubik, sehingga terjadi kekosongan di dalam perut gunung. Akibatnya, bagian atas gunung tidak kuat lagi menyangga beban, lalu ambruk, membentuk kaldera dengan diameter 14-16 km. Ketebalan material letusannya antara 100 - 150 m, tersebar paling luas di lereng utara kaldera. 

Dinding kaldera yang bernama Pegunungan Kendeng itu keadaannya curam, terutama di bagian tengah dan timur, tinggi dindingnya antara 200–360 m, dan melandai ke arah barat, sehingga menjadi jalan masuk ke dasar kaldera dari arah Bondowoso.

halaman berikutnya ...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR