Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Mitigasi Merapi Berbasis Masyarakat

Kamis, 14 Januari 2021

Gunung Merapi menjadi gunung api yang sangat aktif, meletus paling cepat setiap 4 tahun, dengan waktu istirahat paling lama 15 tahun.

fbf713c9-642d-4656-9c7f-706e6fb60b23.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


Kubah lava di Merapi sudah menjadi perhatian sejak lama, ketika para ahli gunung api zaman kolonial mulai mengamati gunung api aktif di Nusantara. Pada awal abad ke 19, kedalaman dasar kawah Merapi mencapai 100 m. Dari dasar kawah itu mulai teramati adanya kubah lava pada April 1883, yang keadaannya terus membesar. Awal abad ke 20, tinggi kubah lava sudah melebihi bibir kawah. Pasokan magma dari dapur magma ke kantung magma sebanyak 100.000 kubik setiap bulannya menjadi penggerak utama letusan Gunung Merapi.

Tekanan yang kuat dari dapur magma akan menggerakan magma untuk naik mengisi kantung magma yang berada di bawah tubuh Gunung Merapi. Bila tekanan di kantung magma melebihi kekuatan “katup” kantung magma untuk menahannya, maka akan terjadi letusan, yang melelerkan lava, mengugurkan kubah lava, dan menghamburkan material dari dalam kantung magma sebanyak 4-10 juta meter kubik.

Gunung Merapi menjadi gunung api yang sangat aktif, meletus paling cepat setiap 4 tahun, dengan waktu istirahat paling lama 15 tahun. Letusan besar pada umumnya terjadi per seratus tahun. Dapur magma sebagai pemasok magma itu volumenya jauh lebih besar dari kantung magma Merapi, sehingga bila pasokannya berlebih, seperti yang terjadi pada letusan besar tahun 2010, menghempaskan material vulkanik lebih dari 100 juta meter kubik.

Letusan Gunung Merapi ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan, membentuk kubah lava baru yang terus membesar. Munculnya lava baru itu diawali dengan penghancuran kubah lava yang lama yang menutup pipa kawah, sehingga terjadi ketidakstabilan, maka terjadilah guguran lava yang disebut wedhusgembel.


 

BACA JUGA: Menelusuri Jejak Letusan Merapi

 


Berdiri di puncak Merapi, terlihat lembah yang menoreh kawasan perkampungan. Terbayang bagaimana dampak yang diderita masyarakat ketika gunung ini meletus pada tahun 2006 yang menyebabkan 400.000 meter kubik dari sebagian Gegerboyo runtuh, sehingga alur Gendol menjadi lebih terbuka. Akibatnya, di minggu kedua bulan Juni tahun 2006 itu, awan panas meluncur sejauh 7 km di Kali Gendol, mengubur objek wisata Kaliadem, dan merenggut korban jiwa.

Kehangatan matahari pagi menyibakkan kabut yang membalut tubuh gunung, sehingga bentang alam di kaki gunung semakin jelas. Kawasan yang terdampak letusan Merapi 2010 terlihat dengan jelas. Letusan kali ini berbeda dengan letusan Merapi yang selama ini terjadi.

Pada 4-5 November 2010 terjadi letusan yang menghembuskan material vulkanik setinggi lebih dari 17 km, dengan luncuran awan panas sejauh 15 km. ke arah selatan, mencapai Desa Kinahrejo, dan telah merenggut 40 orang, termasuk juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan. Pada 30 Oktober, gunung ini meletus kembali, abu letusannya tersebar sejauh 30 km dari kawah.

Kematian jurukunci Merapi itu sangat mempengaruhi persepsi warga Merapi tentang risiko letusan gunung api. Selama ini banyak masyarakat yang percaya kepada sang jurukunci. Namun, setelah kematiannya, warga desa semakin mempercayai pemerintah dan ahli vulkanologi sebagai penjaga Merapi yang baru.

Kesadaran masyarakat itu harus terus ditumbuhkan, karena risiko dari letusan Merapi termasuk yang tertinggi di dunia, dan mengancam lebih dari 450.000 warga Merapi yang berada di kawasan yang berisiko tinggi terkena sapuan wedhusgembel dan terjangan lahar. Korban meninggal karena letusan Merapi 2010 sebanyak 347 orang, yang tersebar di Kabupaten Sleman 246 orang, di Kabupaten Magelang 52 orang, di Kabupaten Klaten 29 orang, dan di Kabupaten Boyolali 10 orang. Warga Merapi yang mengungsi sebanyak 410.388 orang.

Halaman berikutnya: Setiap kali meletus...

 

Setiap kali meletus, seperti letusan Gunung Merapi tahun 2010, material letusan yang jatuh di lereng gunung itu bila bercampur dengan air hujan, akan menjadi adonan yang disebut lahar. Bebatuan yang berukuran kacangtanah hingga bongkah seukuran gajah, dapat meluncur dengan “ringan”, dan mengalir ke Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Krasak, dan Kali Boyong sampai jauh. Pasir dan batu inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ditambang tiada henti setiap hari.

Dari bibir kawah Merapi terlihat jelas dinding-dinding kawah yang retak-retak, seperti akan roboh bila digoyang sedikit saja. Di sisi yang lain, rekahan besar merobek dinding kawah sedalam 200 m. Di bibir kawah kami mengobrol dengan dua orang sukarelawan Merapi. Mereka sangat bangga menjadi bagian dari upaya penanggulangan behaya gunung api.


 

BACA JUGA: Pusaka Saujana Gunung Rinjani

 


Dengan alat berupa telepon genggam, handytalkie, siaran radio, dan kentongan, serta media sosial seperti twitter dan facebook, semuanya itu dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menyampaikan pesan kepada warga Merapi. Komunitas itu sangat berperan bukan hanya dalam mendistribusikan bantuan, tetapi juga berperan dalam hal komunikasi antar warga di lapangan selama 24 jam.

Letusan Gunung Merapi menjadi momentum mempersatukan tekad warga untuk secara bersama-sama mengurangi risiko bencana letusan gunung api. Masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari program penanggulangan bencana. Dengan bekerja secara kolektif, warga Merapi telah terbukti lebih siap dalam pengurangan risiko bencana. Warga diikutsertakan dalam program pengurangan risiko bencana secara menyeluruh dan partisipatif, seperti dalam simulasi evakuasi masyarakat, dan program pelatihan wajib untuk mitigasi bencana.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR