Jumat, 27 November 2020
News & Nature

Merawat Kedermawanan Tambora

Minggu, 18 Oktober 2020

Kehancuran hutan Duabanga moluccana mencapai puncaknya bukan karena letusan gunung, melainkan akibat ekstraksi perusahaan pemegang konsesi

7e72eace-a28f-45ce-863b-17569a1bfa7f.jpg
T Bachtiar

Di lereng Gunung Tambora pun sangat terkenal dengan kayu secang, atau disebut juga kayu supa, supang, sapan, atau kayu merah (Casealpinia Sappan), sebagai kayu penghasil warna merah yang sangat dibutuhkan saat itu, sehingga pernah mencapai harga yang mahal.  Pohon sapan berduri besar, dan bila sudah tua, durinya akan rontok berjatuhan.

Sapan sengaja ditanam untuk tujuan perdagangan. K Heyne (1927) menulis, pohon sebesar paha ini tingginya 5-10 m. dengan membibitkan bijinya. Tumbuh di daerah berbatu, tapi dengan hawa yang tidak terlalu dingin. Tersebar di seluruh Indonesia. Kayunya keras dengan warna merah, seratnya halus dan mudah dibelah. Bukan hanya sebagai pewarna tekstil, tapi juga dapat digunakan sebagai pewarna bahan tikar.

Kayu sapan sangat baik digunakan sebagai pasak. Kayu ini dapat juga digunakan sebagai obat yang berhubungan dengan gejala darah, seperti memar berdarah, muntah darah, sipilis, luka dalam, dan mempunya sifat disinfektan. Daunnya dapat disuling menjadi minyak atsiri.

Menuruni lereng selatan dari Pos 3 ke arah Doro Ncanga, hanya padang alang-alang yang menutupi lerengnya, kemudian berganti menjadi hamparan sabana sampai di kaki gunung yang berbatas laut. Beristirahat di padang rumput sambil menanti jemputan datang, membentang kehijauan sabana dengan bukit kecil yang di dekatnya sekawanan kerbau berkubang.

Serombongan sapi merumput sambil berjalan perlahan, gentanya berdentang-dentang mengikuti gerakan tubuhnya. Di kejauhan, Gunung Tambora samar dibelit awan. 199 tahun yang lalu, gunung ini meletus dahsyat, abunya menghambur sampai di lapisan mesosfer, menghalangi cahaya matahari, menurunkan suhu bumi. 


 

BACA JUGA: Menjelajah Kemegahan Kaldera Toba

 


Memperingati dua abad lebih letusan Gunung Tambora, harus menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran, bahwa gunung api yang tumbuh di kepulauan Indonesia sewaktu-waktu akan meletus. Bukan saja pengamatan dan penelitian gunung-gunung api itu yang harus semakin presisi, namun dibutuhkan kesadaran dari masyarakat yang sekarang sudah berada di sekeliling gunung api.

Kesadaran bahwa letusan gunung api tak akan bisa dicegah atau dilawan. Menerima semua keberkahan gunung api saat tenang, dan segera menghindar bila gunung sedang melakoni tugasnya membangun dan menyeimbangkan tubuhnya.

Mengenang dua abad lebih letusan Gunung Tambora untuk mengingatkan, bahwa betapa pentingnya untuk menghutankan kembali lereng yang gundul di sekeliling gunung untuk kesejahteraan warganya, agar mata-mata air segera megalirkan kehidupan. Gerakan bersama untuk mengembalikan keberkahan Gunung Tambora, seperti yang ditulis dalam surat Schelie dan Tobias, “Alam telah mencurahkan kedermawanannya yang penuh berkah atas pulau ini.”*

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR