Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Merawat Kedermawanan Tambora

Minggu, 18 Oktober 2020

Kehancuran hutan Duabanga moluccana mencapai puncaknya bukan karena letusan gunung, melainkan akibat ekstraksi perusahaan pemegang konsesi

7e72eace-a28f-45ce-863b-17569a1bfa7f.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

WARGA masyarakat yang selamat dari bencana letusan gunung api, mereka yang melihat sendiri dampak letusan Gunung Tambora yang mengerikan, kehadiran Syair Kerajaan Bima menambah ketaatan kepada segala perintah Allah SWT. Siapa saja yang melakukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran agama, dianggap akan merugikan kesultanan secara keseluruhan. Maka sultan-lah yang akan memberikan hukuman.

Dampak letusan Gunung Tambora ternyata bukan hanya diderita di Nusantara, tapi juga sampai di Eropa. Abu halus dan aerosol yang masuk ke lapisan atmosfer, terus berputar menghalangi cahaya matahari menembus langit Eropa.

Bagaimana mencekamnya Eropa tahun 1816 pasca letusan Gunung Tambora, yang dikenal sebagai Tahun tanpa musim panas, karena suhunya hanya mencapai 13,37 derajat Celsius. Bagaimana mencekamnya Eropa pada tahun itu terekam dalam buku Mary Godwin, Frankenstein dan puisi panjang Darkness karya Lord Byron.

Matahari bertirai kabut, tak terbaca tanda akan segera tersibak dalam waktu dekat. Setelah tiga jam menuruni lereng beralaskan lava hitam, hujan yang menguyur mengiringi makan siang hari itu. Siang ini udaranya menjadi sangat segar dengan langit yang biru. Di kejauhan, tampak bukit-bukit kecil berbagai bentuk, itulah kerucut terak, kerucut scorea, atau cinder cone, kerucut yang terbetuk oleh kerak lava yang tidak terekat.


 

BACA JUGA: Tambora, Letusan yang Mendinginkan Dunia

 


Sedikitnya ada 40 kerucut kerak yang mengelilingi Gunung Tambora, yang terbentuk antara 15.000 - 4.000 tahun yang lalu. Bukit-bukit ini akan menjadi daya tarik wisata alam yang luar biasa bila ditata dengan baik, seperti Doro Peti, Doro Ncanga, dan Doro Donggotabe di selatan Gunung Tambora.

Sebelum letusan terdahsyat dalam sejarah manusia, kawasan Gunung Tambora itu terkenal sebagai penghasil kayu Duabanga moluccana, kayu sepang/secang atau kayu merah, kayu cendana, kayu jati, padi, kacang ijo, jagung, kopi, merica, kapas, lilin lebah, madu, sarang burung, garam, dan kuda.

Surat Schelie dan Tobias, seperti dikutip Burnice de Jong Boers dapat membuktikan hal ini. “Alam telah mencurahkan kedermawanannya yang penuh berkah atas pulau ini, sehingga tak ada satu pun masalah. Bagaimana gunung-gunungnya, laksana seorang pemilik yang bangga di suatu lapangan yang luas dengan lembah-lembah tercantik yang membentang. Padi, kacang-kacangan dan jagung yang bermutu, kopi, merica, dan kapas yang istimewa telah tumbuh dan menjadi sumber penting bagi pendapatan penduduk.”   

Dalam tulisan K Heyne (1927), pohon Duabanga moluccana itu tingginya antara 25 – 45 m. dengan garis tengah batang antara 70 – 100 cm, bahkan dalam sumber lain bisa mencapai 150 cm lebih. Tumbuh dengan baik di Indonesia bagian timur.

Batangnya berbentuk pilar tanpa banir dan tanpa alur-alur, sehingga kayu berukuran besar ini banyak dibuat perahu tanpa sambungan yang awet bertahun-tahun. Perahu yang dibuat dari kayu ini harganya cukup mahal saat itu.


 

BACA JUGA: Tiga Kesultanan Di Kaki Tambora Perlaya

 


Setelah letusan tahun 1815, tanah di selatan, barat, dan di utara gunung lebih cepat melapuk, sehingga terjadi suksesi hutan yang sangat cepat. Pohon-pohon asli seperti Duabanga moluccana segera tumbuh menjulang, menjadi raksasa hutan Tambora.

Namun, kehancuran hutan Duabanga moluccana mencapai puncaknya bukan karena letusan gunung, melainkan ketika pada tahun 1972, PT Veneer Indonesia menguasai konsesi penebangan kayu di lereng-lereng Gunung Tambora, yang seharusnya seluas 20.000 Ha, sampai ketinggian 1.400 m dpl. 

Halaman berikutnya: Kayu secang...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR