Senin, 19 April 2021
News & Nature

Menyusuri Arus Ci Genter di Ujungkulon

Jumat, 3 Juli 2020

Ci Genter termasuk ke dalam kawasan yang menjadi jelajah badak, satwa yang sangat langka

4dec2040-382b-4e80-88d9-686af1aa1554.jpg
T Bachtiar

Pada tatanan normal baru, wisata alam menjadi salah satu aktivitas yang paling diminati. Dalam upaya turut mendorong kegiatan ini lebih bernilai edukasi dan meningkatkan upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan ke taman nasional Ujungkulon yang ditulis editor senior T. Bachtiar. Artikel ini merupakan bagian ketiga dari tiga tulisan. 

 

Hempasan gelombang meninggi pada saat mendekati Tanjunglayar. Perahu beberapa kali berayun keras dan menghempas. Dengan cekatan perahu dibelokan sedikit menjauh dari Tanjunglayar, bagian paling barat dari Pulau Jawa.

Mengamati pantai dan bebatuan yang ada Tanjunglayar dari kejauhan. Bila melalui jalan darat, Tanjunglayar dapat dicapai dengan berjalan kaki, dengan pemberangkatan dari Cibom selama satu jam.

Bebatuan di Tanjunglayar dan sekitarnya berupa batuan hasil letusan gunungapi dua juta tahun yang lalu. Menurut S. Atmawinata dan  H.Z. Abidin (1991), kawasan ujung barat Pulau Jawa itu didominasi oleh breksi gunungapi (batuan rombakan, butiran-butiran batunya ada yang seukuran batu cor beton yang bersudut, pasir, dan tereratkan oleh bahan yang lebih halus), dan tufa (bahasa setempat: cadas atau padas) dengan sisipan lava pejal bersusunan andesit, tufa pasiran, tufa gampingan, dan lava berstruktur bantal. 

______________________________________________________________________

BACA JUGA: Ujungkulon dalam Kemeriahan Ekosistem

______________________________________________________________________

Dari Tanjunglayar, perahu terus melaju ke arah utara menuju Tanjung Alang-alang, bagian dari puncak segitiga Ujungkulon. Di sekitar laut Tanjung Alang-alang ini terdapat karang yang mendinding membentengi pantai. Keadaannya sebagian sudah hancur digempur ombak.

Verstappen (2014) menjelaskan, terumbu karang ini merupakan contoh klasik dari indikator geomorfologi pantai yang berpotensi mengalami penurunan. Karang penghalang sisi barat dan timur Tanjung Alang-alang ini merupakan contoh yang baik dari kawasan pantai yang mengalami penurunan.

Dari Tanjung Alang-alang perahu berputar menuju muara Ci Genter. Mengadakan pengamatan di aliran Ci Genter ini dapat dilakukan pada saat pergi atau pulang menuju Sumur. Dalam bahasa Sunda, genter berarti suara yang bergemuruh.

Boleh jadi, pada saat musim penghujan, ketika arus sungai sangat deras, lalu beradu dengan ombak laut yang keras pula, menimbulkan suara seperti gemuruh yang sangat keras. Maka dinamai lah sungai itu Ci Genter. 

T Bachtiar

Daya tarik utama menyusuri aliran Ci Genter hingga beberapa ratus meter ke arah hulu aliran sungai yang tenang, jernih, kehijauan, dengan bayangan pepohonan di muka air. Pohon-pohon raksasa rimba raya, dan dahon atau nipah yang berjajar memagari sungai.

ke halaman berikutnya ...

 

Di atas pohon, terdengar suara-suara burung yang bersahutan, dan burung caladi yang sedang memahat melubangi pohon dengan paruhnya. Menurut pemandu, kawasan Ci Genter ini termasuk ke dalam kawasan yang menjadi jelajah badak, satwa yang sangat langka, yang sudah lolos dalam perubahan alam.

Di Ci Genter juga terdapat buaya, yang sering tampak seperti pohon tua yang tumbang mengambang di muara sungai. Sedikit ke arah dalam dari sekitar muara Ci Genter, di sana terdapat padang penggembalaan.

Bagaimana nasib penghuni Ujungkulon dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya ketika terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau 27 Agustus 1883? Kawasan Ujungkulon tidak luput dari amukan tsunami.

______________________________________________________________________

BACA JUGA: Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang

______________________________________________________________________

Hantaman tsunami di Sumur yang jaraknya 66 km dari Gunung Krakatau terjadi 36 menit setelah letusan. Sedangkan di pantai-pantai utara dan barat Ujungkulon yang berjarak 74 km, hantaman tsunami baru datang 38 menit kemudian.

Perkampungan di Teluk Camar antara Tanjung Alangalang dan Tanjung Layar, musnah tak bersisa. M van Mens melaporkan dari Tanjung Layar, kilat memutuskan penangkal petir mercusuar yang berdiri di dekat Teluk Camar. Kilat menyambar melalui pintu, melukai 4 dari 10 orang narapidana yang sedang dikerjakan di sana. Penduduk di Kampung Cikujah, Rumahtiga, dan Ujungkulon di sekitar mercusuar, semuanya perlaya. 

Bila kecepatan tsunami di Ujungkulon tak teredam oleh hutanhujan tropis yang masih terjaga dengan baik, maka satwa yang sedang berada di ketinggian antara +0 sampai 10-15 m dpl, akan tersapu tsunami. 

T Bachtiar

Berekowisata atau bergeowisata di Taman Nasional Ujungkulon, bukan saja menghidmati alam raya, tapi juga napak tilas peradaban masa lalu, dan peristiwa alam mahadahsyat peristiwa letusan Gunung Krakatau 1883 yang menelan korban lebih dari 36.417. 

Ekowisata atau Geowisata di Taman Nasional Ujungkulon itu bobot pembelajarannya sangat tinggi, untuk kewaspadaan, dan menjadi tindakan nyata dalam upaya penyelamatan bumi dengan segala isinya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR