Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Menyaksikan Tradisi Penguburan Megalitik Sumba

Sabtu, 2 Januari 2021

Tana humba bermakna tanah asli. Mereka menyebut dirinya tau humba, orang asli. Orang asing yang datang ke wilayahnya disebut tau Jawa.

355f87fc-b4de-4a0b-9e6e-36af7c08bfd4.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

Rombongan wisatawan datang silih berganti. Di pos penjagaan sebelum masuk ke kampun adat Praijing, Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat, di sana terdapat informasi tentang Kampung adat Praijing, dan berapa harga sewa pakaian adat bagi para tamu yang ingin bergaya seperti warga di sana dengan pakaian khasnya.

Jalan aspal sudah sampai di lokasi perkampungan. Wisatawan terus berjalan ke pelataran paling tinggi, di sana sudah disediakan pelataran untuk berfoto dengan latar jajaran perumahan dengan atap alangalang yang mencuat ke langit. Di sana terdapat tinggalan megalitik yang menerus sampai sekarang.

Rumah adat Praijing dibagi ke dalam tiga bagian utama. Pertama lei bangun, kolong rumah, yang berfungsi sebagai tempat untuk memelihara ternak, seperti babi dan ayam. Di atas lei bangun ada bagian rongu uma, sebagai tempat tinggal keluarga pemilik rumah, dan bagian atas, uma daluku, digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan pusaka keluarga atau pusaka adat.

Kampung adat Praijing berada di bukit yang lebih tinggi dari lingkungan persawahan yang luas di sekitarnya. Berbeda dengan lingkungan kampung adat lainnya, yang secara umum mendiami kawasan batu kapur maha luas. Di bagian depan rumah panggung, mama pemilik rumah asyik menenun, yang hasilnya dapat dibeli langsung oleh wisatawan.


 

BACA JUGA : Kemegahan Sabana Bumi Sumba

 


Tana humba bermakna tanah asli. Mereka menyebut dirinya tau humba, orang asli. Untuk membedakan dengan orang asing yang datang ke wilayahnya, mereka menyebut orang asing itu tau Jawa. Para leluhur tau humba membentuk paraingu (permukiman) untuk satu atau beberapa kabihu (kelompok warga dalam satu klan).

Setiap paraingu dikelilingi dengan pagar tumbuhan hidup atau benteng yang disusun dari batukarang selebar 1 m dengan tinggi antara 1-1,5 m, seperti yang terdapat di paraingu Ratenggaro, Desa Umbungedo, Kecamatan Kodibangedo, Kabupaten Sumba Barat.

Di tengah perkampungan, terdapat pelataran yang dipergunakan sebagai tempat penguburan para leluhur, dan di luar pagar kampung, terdapat jajaran kubur batu, baik yang dibuat dari batu alam maupun yang sudah menggunakan tembok atau beton.

Mereka membentuk komunitas-komunitas dalam perkampungan adat, seperti di Kampung adat yang saya kunjungi di Ratenggaro dan Praijing. Mereka membangun uma humba, rumah asli, dengan atap rumahnya yang dibuat dari alangalang kering yang disusun rapat, sehingga air hujan tidak masuk, tapi dapat memberikan kesejukan di dalam rumah. Atap rumah bagian tengahnya mencuat tinggi.

Kehidupan masyarakat di kampung adat itu tak lepas dari binatang yang banyak dipelihara di sekitar rumahnya, yaitu kuda, babi, anjing, dan ayam. Lingkungan alam inilah yang menjadi inspirasi motif  atau gambar dalam kain tenunnya.

Halaman berikutnya: Tradisi megalitik dalam penguburan...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR