Senin, 19 April 2021
News & Nature

Menyaksikan Tradisi Penguburan Megalitik Sumba

Sabtu, 2 Januari 2021

Tana humba bermakna tanah asli. Mereka menyebut dirinya tau humba, orang asli. Orang asing yang datang ke wilayahnya disebut tau Jawa.

355f87fc-b4de-4a0b-9e6e-36af7c08bfd4.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

Rombongan wisatawan datang silih berganti. Di pos penjagaan sebelum masuk ke kampun adat Praijing, Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat, di sana terdapat informasi tentang Kampung adat Praijing, dan berapa harga sewa pakaian adat bagi para tamu yang ingin bergaya seperti warga di sana dengan pakaian khasnya.

Jalan aspal sudah sampai di lokasi perkampungan. Wisatawan terus berjalan ke pelataran paling tinggi, di sana sudah disediakan pelataran untuk berfoto dengan latar jajaran perumahan dengan atap alangalang yang mencuat ke langit. Di sana terdapat tinggalan megalitik yang menerus sampai sekarang.

Rumah adat Praijing dibagi ke dalam tiga bagian utama. Pertama lei bangun, kolong rumah, yang berfungsi sebagai tempat untuk memelihara ternak, seperti babi dan ayam. Di atas lei bangun ada bagian rongu uma, sebagai tempat tinggal keluarga pemilik rumah, dan bagian atas, uma daluku, digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan pusaka keluarga atau pusaka adat.

Kampung adat Praijing berada di bukit yang lebih tinggi dari lingkungan persawahan yang luas di sekitarnya. Berbeda dengan lingkungan kampung adat lainnya, yang secara umum mendiami kawasan batu kapur maha luas. Di bagian depan rumah panggung, mama pemilik rumah asyik menenun, yang hasilnya dapat dibeli langsung oleh wisatawan.


 

BACA JUGA : Kemegahan Sabana Bumi Sumba

 


Tana humba bermakna tanah asli. Mereka menyebut dirinya tau humba, orang asli. Untuk membedakan dengan orang asing yang datang ke wilayahnya, mereka menyebut orang asing itu tau Jawa. Para leluhur tau humba membentuk paraingu (permukiman) untuk satu atau beberapa kabihu (kelompok warga dalam satu klan).

Setiap paraingu dikelilingi dengan pagar tumbuhan hidup atau benteng yang disusun dari batukarang selebar 1 m dengan tinggi antara 1-1,5 m, seperti yang terdapat di paraingu Ratenggaro, Desa Umbungedo, Kecamatan Kodibangedo, Kabupaten Sumba Barat.

Di tengah perkampungan, terdapat pelataran yang dipergunakan sebagai tempat penguburan para leluhur, dan di luar pagar kampung, terdapat jajaran kubur batu, baik yang dibuat dari batu alam maupun yang sudah menggunakan tembok atau beton.

Mereka membentuk komunitas-komunitas dalam perkampungan adat, seperti di Kampung adat yang saya kunjungi di Ratenggaro dan Praijing. Mereka membangun uma humba, rumah asli, dengan atap rumahnya yang dibuat dari alangalang kering yang disusun rapat, sehingga air hujan tidak masuk, tapi dapat memberikan kesejukan di dalam rumah. Atap rumah bagian tengahnya mencuat tinggi.

Kehidupan masyarakat di kampung adat itu tak lepas dari binatang yang banyak dipelihara di sekitar rumahnya, yaitu kuda, babi, anjing, dan ayam. Lingkungan alam inilah yang menjadi inspirasi motif  atau gambar dalam kain tenunnya.

Halaman berikutnya: Tradisi megalitik dalam penguburan...

 

Di kampung-kampung adat di Sumba, tradisi megalitik dalam penguburan anggota keluarganya masih menerus sampai sekarang. Batu-batu untuk keperluan kubur batunya berupa batu cadas (ignimbrite), hasil letusan gunung api purba yang sudah padat dan kompak.

Batu kubur ini  didatangkan dari luar kampungnya secara bergotong-royong. Puluhan, bahkan ratusan orang bersama-sama menarik batu dengan tali dari alam, seperti cara-cara yang dipraktekkan oleh nenek-moyang mereka selama ribuan tahun yang lalu.

Batu persegi empat itu diletakan di atas puluhan batang kayu seukuran betis orang dewasa, lalu ditarik beramai-ramai. Batu bergeser di atas kayu-kayu bulat itu. Kayu yang sudah lepas di belakang, segera dipindahkan lagi ke bagian depan. Selama berhari-hari mereka menarik batu kubur itu.

Saat ini, ada juga yang sudah memanfaatkan teknologi dalam menarik batu kubur dengan menggunakan katrol untuk mengangkat batu ke atas truk besar. Dengan cara itu pengangkutan batu persegi berukuran besar dan sangat berat itu dapat memangkas waktu pengangkatan dan penarikannya. Namun, dari segi kebersamaan dan kegotong-royongan, nilainya menjadi berkurang.


 

BACA JUGA: Dieng, Pesona dan Peringatan Abadi

 


Hakikat kubur batunya, sampai saat ini masih menerus di dalam masyarakat, namun dengan berbagai alasan, ada yang sudah tidak mengambil material batu alam secara langsung, melainkan memanfaatkan batu bata dan semen batu. Di halaman rumahnya dibuatkan bangunan tembok persegi empat yang di salah satu sisinya dikosongkan, yang berfungsi sebagai pintu untuk memudahkan memasukkan jenazah. Bila kotak beton itu sudah berisi jenazah, “pintu” akan ditutup rapat dengan tembok.

Ada juga yang membuat kubur batu dengan beton berbentuk segi empat yang ditopang oleh empat atau enam tiang. Di bawahnya dibuat beton berbentuk kubus yang tertanam ke dalam tanah, dengan ukuran yang sudah ditentukan, dan sudah dilengkapi dengan penutup beton untuk memudahkan membukanya pada saat mayat akan dimasukan.

Di teras rumah panggungnya yang khas, ibu dan anak perempuan menenun, membuat kain sarung untuk laki-laki dan perempuan. Motif-motifnya terinspirasi dari alam lingkungannya. Namun, generasi muda yang banyak menyerap lingkungan di luar kampungnya, mulai membentuk motif-motif baru.

Masyarakat Sumba, dengan tradisinya yang khas, harmoni di Bumi Humba yang megah. Kain tenunnya yang indah, motif-motifnya mengambil inspirasi dari alam sekitar, menyatu dalam senyuman para mamak dan gadis Sumba, yang bibirnya memerah karena mengunyah sirih-pinang.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR