Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Menjelajah Lava Gunung Guntur

Rabu, 30 September 2020

Beragam bentuk dan jenis lava dapat ditemukan di sini

495eab54-f50a-4be8-9093-df1b9be2810d.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

 

SEJAK 1847 sampai 2019, sudah 172 tahun Gunung Guntur setinggi 2.249 meter ini tidak meletus besar, seakan terlelap dalam tidur panjangnya. Menyiapkan diri dari segala kemungkinan bahaya letusan bila sewaktu-waktu gunung ini meletus, adalah tindakan yang bijaksana.

Bagaimana menyiapnyiagakan warga di 61 kampung yang berada di dalam radius 5 km yang termasuk ke dalam kawasan yang berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu pijar, yang sebagian kawasannya ada yang berpotensi terlanda aliran awan panas, lava, lahar, dan kemungkinan terlanda awan  panas.

Demikian juga warga di 155 kampung yang berada di dalam radius 8 km yang termasuk ke dalam kawasan yang berpotensi terlanda hujan abu dan kemungkinan dapat terkena lontara batu pijar, dan sebagian kawasannya ada yang berpotensi terlanda aliran lahar dan terkena perluasan aliran awan panas, lava, dan guguran puing gunung api. Menyiapkan apa yang harus dilakukan adalah tindakan yang lebih baik daripada panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat terjadi letusan.

 


BACA JUGA: Gunung Guntur dan Tabiat Polikonida


 

Gunung Guntur itu instagramable. Bagaimana keadaan gunungnya, bebatuannya, tumbuhannya, rona buminya, semuanya sangat menarik dan indah untuk difoto. Bahkan gunung-gunung di sekitarnya sangat menarik dan menjadi ciri bumi suatu kawasan. Gunung Cikuray, misalnya, berjalan ke sisi mana pun di gunung ini, Gunung Cikuray akan terlihat dengan jelas.

Di kaki gunungnya, di kawasan bekas penambangan pasir, jalan-jalan tambang sudah malang melintang, dan beberapa aliran lava sudah terbuka bekas penambangan batu. Kawasan inilah dapat dimanfaatkan menjadi kawasan yang dapat dikelola dengan perencanaan yang baik, memanfaatkan alam dengan tidak menjual wujud fisik alamnya berupa batu dan pasir, salah satu caranya melalui kegiatan geowisata.

Geowisata itu hanya mengambil jasa dari alam, di tempat-tempat yang secara hukum alam dan hukum Negara memungkinkan, sehingga wujud fisik gunung dengan segala isinya tetap lestari. Jasa atau manfaat dari alam itulah yang dikelola menjadi kegiatan wisata untuk kesejahteraan masyarakat.

Bahkan sebelum mengikuti lava tour di kaki gunung, dari arah Tarogong atau dari jalan yang menuju Cipanas, hamparan persawahan dan Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 m dari permukaan laut dapat dilihat dengan jelas. Lereng gunungnya masih gersang berwarna kecoklatan.

Aliran lava yang meleler pada letusan besar tahun 1840 yang berhenti persis di atas pemandian Cipanas, bentuknya sangat unik, leleran lavanya menyerupai sepatu but raksasa sepanjang 2,75 km, terlihat seperti sungai kering.

 


BACA JUGA: Menjelajah Kemegahan Kaldera Toba


 

Selama 16 periode letusan Gunung Guntur itu melelerkan lava dengan volume yang banyak, lavanya yang sudah lama membeku itu menjadi titik-titik yang instagramable, yang sangat menarik dan bagus untuk difoto. Lava pejal berwarna abu-abu tua setebal dua tumpuk truk tronton, meleler di atas lereng gunung, mengakibatkan lava dengan suhu 1.200o C membakar bebatuan yang ditindihnya dengan seketika. Bebatuan yang terkena efek bakar itu kini berwarna merah bata.

Di lereng Gunung Guntur inilah kegiatan lava tour yang sesungguhnya. Beragam bentuk dan jenis lava dapat ditemukan di sini. Lava yang meleler jauh, bentuk lavanya berubah saat sampai di ujung leleran, menjadi bongkah-bongkah lava dengan permukaan yang tajam. Bongkah-bongkah lava itu dihiasi tumbuhan kaso, apalagi pada saat kaso ini berbunga, menjadikan hasil fotonya bernilai lebih.

Halaman berikutnya: Jalur-jalur bekas tambang...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR