Selasa, 29 September 2020
News & Nature

Menjaga Hutan, Laku Puja Toraja pada Sang Pencipta

Jumat, 7 Agustus 2020

Bagaimana leluhur Toraja membuat sawah di pegunungan. Pematangnya berkelok sesuai ketinggian, bukan saja bermanfaat, tapi juga indah

040cd48c-7a90-49fd-ba68-d2bdac9e19a7.jpg
T Bachtiar

 Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan membantu upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel dari catatan perjalanan Redaktur Senior Kabaralam, T. Bachtiar di Toraja 22-27 Juli 2020. Selamat Menikmati.


Oleh T Bachtiar

Puncak-puncak perbukitan mencuat di antara gumpalan awan putih. Dari ketinggian 1.270 m dpl, awan itu terlihat jauh di bawah, menyelimuti Kota Rantepao yang masih terlelap. Dalam dingin menjelang pagi, serta gerimis yang tertiup angin, teh dan kopi Toraja dan kue-kue manis yang disajikan, menjadi sangat istimewa.

Hangat matahari mulai memancar, menyibakkan awan, dan persawahan yang berteras-teras mulai menampakkan pesonanya, seperti titian raksasa menuju langit. Di balik perbukitan yang bergerigi, 500 meter di bawah tempat kami berdiri, atap-atap gedung mulai jelas terlihat.

Dari ketinggian Kampug Lolai, Lembang Benteng Mamullu, Kecamatan Kapalapitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Sungai Sa’dan meliuk menoreh celah sempit di antara benteng-benteng alam.

Wilayah datar mengikuti liuk sungai sekitar 2 km lebarnya, dengan panjang sekitar 7 km. Di sana pula poros jalan Bolu – Rantepao berada. Kawasan datar yang menjadi pusat kegiatan masyarakat, disebut rante. Karena ada pohon pao, pohon mangga yang menjadi ciri khas kawasan, maka dinamailah tempat itu Rantepao.

Dari ketinggian, terlihat persawahan menghijau, diselingi perkampungan yang mengelompok dikelilingi pepohonan dan beragam jenis bambu di lereng-lerengnya. Perbukitan masih menghijau, hutannya rapat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Lereng-lerengnya yang curam ditumbuhi dengan jenis bambu besar dan kuat. Ini bukanlah tanpa usaha para leluhur Toraja yang merintis permukiman di kawasan ini.

Adanya kearifan dalam memelihara alam untuk kehidupan, terdapat dalam ungkapan umpabu’tu mata wai, wai susunna mintu angge menono, bermakna bahwa hutan sebagai sumber mata air bagi kehidupan semua mahluk hidup.

Bagi masyarakat Toraja, kaitan antara hutan dengan adat begitu kuat, bukan sekedar hutan untuk hutan, tetapi mempunyai nilai kemanusiaan, sebagai sumber mata air bagi kehidupan semua mahluk hidup.

Hutan adat (kombong) harus terus hidup secara berkelanjutan, dikelola secara mandiri oleh masyarakat di atas tanah adat. Dengan pengetahuan yang diwariskan, hutan adat yang sudah dirintis dan dikembangkan oleh para leluhur Toraja harus terus dimuliakan. 

Para leluhur Toraja dengan jenius menjaga dan mengembangkan hutan di lingkungan adatnya, sehingga mata air tetap terjaga, persawahan tetap terairi dengan baik, yang menjadi sumber pangan bagi warganya. Dari hutan itu dapat diambil bambu dan kayunya untuk keperluan membangun tongkonan, rumah Toraja, membangun alang (lumbung padi), untuk membuat erong, peti kubur dari kayu dengan ukuran dan bentuknya yang khas, untuk membuat tautau, patung replika dari tokoh yang akan disemayamkan setelah melaksanakan rambusolo’ dan kebutuhan lainnya. 

Dengan hutan yang terjaga seperti dicontohkan oleh para leluhur Toraja, di dalamnya tumbuh dengan baik pohon keras untuk tiang-tiang tongkonan. Ada beragam jenis bambu, seperti bambu tallang, bambu parrin, dan bambu betung, yang bermanfaat untuk beragam kebutuhan hidup, termasuk untuk membuat tongkonan dan pondok- pondok (lantang), yang dibutuhakan pada saat rambusolo’. Ada pohon nangka yang biasa dibuat tautau, ada pohon tara, sehingga tidak kesulitan lagi mencari pohon yang cukup ukurannya untuk menyemayamkan mayat bayi yang belum tumbuh gigi. 

Di dalam hutan campuran, di kebun, dan di pekarangan, terdapat cempaka, suren, aren, alpukat, pinang, kemiri, durian, nangka, dan langsat. Tanaman komoditas yang banyak ditanam adalah kopi robusta dan arabika, kakao, vanili, dan cengkeh.

Halaman selanjutnya: Hutan adat dan sawah di pegunungan...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR