Senin, 18 Januari 2021
News & Nature

Menelusuri Jejak Letusan Merapi

Selasa, 12 Januari 2021

Dari kejauhan terlihat rumah-rumah sudah meniti lereng-lereng terjal Merapi, mereka ingin semakin dekat dengan kesuburan

6083c879-511b-472a-8f9a-1b7e8a51da4f.jpg
T Bachtiar

Hal lainnya yang menarik tentang ikatan kuat masyarat terhadap Gunung Merapi, sehingga menjadi pengetahuan bagi para pengunjung. Informasi disampaikan dalam situasi yang menyenangkan, sambil mengunjungi situs-situs letusan Merapi, melaju di jalan bekas tambang pasir dan batu. Inilah wisata dengan pengalaman nyata.

Kesegaran udara, kesuburan tanah, dan kelimpahan air, merupakan keberkahan alam yang terus dinikmati oleh warga di sekeliling Merapi. Namun, ketika gunung ini meletus membangun dirinya, abu, pasir, batu, selalu datang, bahkan sering menimbun peradaban. Dengan jarak letusan yang dekat, warga di sekeliling Merapi selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Melindungi, agar keberkahan alam terus adanya, dan dilindungi dari bahaya letusan gunung api.


 

BACA JUGA: Mendaki Lapis demi Lapis Letusan Gunung Gede

 


Gunung Merapi, bukan hanya diperuntukan bagi para pendaki yang secara fisik masih kuat untuk berjalan selama tujuh jam, namun, gunung ini dipersembahkan juga bagi penikmat dan pengagum bentang alam. Melihat Gunung Merapi dari Punthuk Setumbu, misalnya. Dari puncak bukit, pengunjung dengan sabar menanti detik-detik matahari terbit, menyaksikan perubahan warna langit menjadi jingga yang membias di antara mega-mega. Menjelang matahari menghangatkan semesta, Candi Borobudur dan bukit-bukit di kaki Merapi, masih dalam belitan selimut kabut.

Dari kejauhan terlihat rumah-rumah sudah meniti lereng-lereng terjal Merapi, mereka ingin semakin dekat dengan kesuburan, namun sesungguhnya semakin dekat dengan sumber ancaman. Hidup selaras di gunungapi adalah kunci, adil dalam menimbang, kapan mengolah keberkahan Merapi, dan kapan harus menjauh dari ancamannya.*

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR