Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Menelusuri Jejak Letusan Merapi

Selasa, 12 Januari 2021

Dari kejauhan terlihat rumah-rumah sudah meniti lereng-lereng terjal Merapi, mereka ingin semakin dekat dengan kesuburan

6083c879-511b-472a-8f9a-1b7e8a51da4f.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


Dalam perjalanan pulang, di lereng bawah, di antara pohon-pohon hutan produksi, terlihat rumput subur menghijau setinggi orang dewasa, yang sengaja ditanam untuk pakan ternak. Para penyabit rumput ada yang menggunakan sepeda motor sebagai alat angkutnya. Namun masih banyak juga menggendong rumput sebesar perbau itu. Sapi dan domba banyak dipelihara di perkampungan di lereng bawah Merapi. Ternak ini menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga.

Ketika Gunung Merapi meletus, seisi kampung mengungsi di pos-pos yang sudah disediakan. Para pemilik ternak sangat khawatir untuk meninggalkan ternaknya, karena bagaimana kalau satwa peliharaannya kelaparan, karena semua rumput di kampung terkena hujan abu panas. Bagaimana agar ternaknya dapat makan? Bahkan, dalam situasi krisis segmenting itu, dalam beberapa kejadian, pernah ada penjahat yang masuk, memanfaatkan situasi, mencuri ternak dan isi rumah yang mereka tinggalkan.

Upaya pengungsian warga yang akan terdampak letusan Gunung Merapi akan dapat dengan mudah untuk mengungsi dan tidak kembali ke kampungnya pada situasi krisis untuk melihat rumah dan memberi makan ternaknya, bila di lokasi pengungsian untuk warga terdampak, juga perlu dibuatkan tempat pengungsian ternak secara komunal.

Lewat tengah hari kami kembali sampai di pos pendakian di Selo. Sop panas terasa nikmat sekali siang itu. Perjalanan menanjak saat pergi dan terus menurun saat pulang, cukup menguras tenaga dan membuat otot-otot kaki menjadi kaku. Latihan sebelum pendakian merupakan hal wajib agar mendaki gunung menjadi lebih menyenangkan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah rencanakan jadwal pendakian dengan matang, sehingga diketahui berapa lama akan di lapangan. Hal ini penting untuk persiapan membawa perbekalan dan perlengkapan.


 

BACA JUGA: Di atas Mega-mega Dieng

 


 

Mulailah mendaki dengan pelan, jangan langsung cepat, agar terjadi penyesuaian suhu tubuh dan suhu di luar, apalagi bila melakukan perjalanan malam. Bawalah makanan dan air minum yang cukup. Pakailah jasa porter bila tidak kuat membawa perbekalan dan perlengkapan berkemah. Pakailah sepatu yang nyaman untuk berjalan antara 12-16 jam. Bawa pakaian ganti, baju hangat tahan air dan tahan angin, sarung tangan, kaus kaki, serta jas hujan. Saat turun dari puncak Merapi, janganlah berlari, terutama di medan berbatu lepas dan berpasir.

Banyak kejadian, mereka yang berlari tak bisa mengerem laju larinya sampai Pasar bubrah, dan ada yang menemui ajalnya karena kepalanya membentur batu besar. Jangan lupa membawa obat-obatan, tisu basah, dll. Jangan terlewat membawa catatan dan alat-alat dokumentasi. Matikan musik, nikmati irama alam dengan leluasa. Jangan sekali-kali membuang sampah di gunung. Bawa kembali bungkus makanan dan botol minuman ke bawah untuk dibuang ditempatnya.   

Di kaki Gunung Merapi, para pemuda yang tergabung dalam komunitas “Wisata Gunung api” di Desa Kinahrejo, sudah lama mengembangkan wisata menelusuri jejak letusan Merapi, seperti kawasan yang tersapu awan panas dan lahar dengan menggunakan jeep. Wisata ini sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi kegunungapian, khsususnya tentang Gunung Merapi. Para pemuda itu bila dibekali informasi tentang hal-ihwal Gunung Merapi, mereka akan menjadi penyampai informasi yang baik.

Pemuda yang menjadi pengemudi jeep wisata itu dapat menjadi penyampai pesan kegunungapian, misalnya dari mana batu-batu sebesar gajah sampai di tempat yang jaraknya sekitar 15 km. Bagaimana batu itu datang dan terhanyutkan. Apa, bagaimana, dan bahaya wedhus gembel dan beberapa kejadian yang menimpa warga. Atau tentang lahar yang mengubur perkampungan, yang mendangkalkan sungai, tentang para penambang pasir yang berasal dari lahar Merapi.

Halaman berikutnya: Wisata pengalaman nyata...

 

Hal lainnya yang menarik tentang ikatan kuat masyarat terhadap Gunung Merapi, sehingga menjadi pengetahuan bagi para pengunjung. Informasi disampaikan dalam situasi yang menyenangkan, sambil mengunjungi situs-situs letusan Merapi, melaju di jalan bekas tambang pasir dan batu. Inilah wisata dengan pengalaman nyata.

Kesegaran udara, kesuburan tanah, dan kelimpahan air, merupakan keberkahan alam yang terus dinikmati oleh warga di sekeliling Merapi. Namun, ketika gunung ini meletus membangun dirinya, abu, pasir, batu, selalu datang, bahkan sering menimbun peradaban. Dengan jarak letusan yang dekat, warga di sekeliling Merapi selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Melindungi, agar keberkahan alam terus adanya, dan dilindungi dari bahaya letusan gunung api.


 

BACA JUGA: Mendaki Lapis demi Lapis Letusan Gunung Gede

 


Gunung Merapi, bukan hanya diperuntukan bagi para pendaki yang secara fisik masih kuat untuk berjalan selama tujuh jam, namun, gunung ini dipersembahkan juga bagi penikmat dan pengagum bentang alam. Melihat Gunung Merapi dari Punthuk Setumbu, misalnya. Dari puncak bukit, pengunjung dengan sabar menanti detik-detik matahari terbit, menyaksikan perubahan warna langit menjadi jingga yang membias di antara mega-mega. Menjelang matahari menghangatkan semesta, Candi Borobudur dan bukit-bukit di kaki Merapi, masih dalam belitan selimut kabut.

Dari kejauhan terlihat rumah-rumah sudah meniti lereng-lereng terjal Merapi, mereka ingin semakin dekat dengan kesuburan, namun sesungguhnya semakin dekat dengan sumber ancaman. Hidup selaras di gunungapi adalah kunci, adil dalam menimbang, kapan mengolah keberkahan Merapi, dan kapan harus menjauh dari ancamannya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR