Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Mendaki Merapi ketika Tenang

Senin, 18 Januari 2021

Asap tebal berwarna abu, hitam, coklat, dan merah yang bergumpal bergulung‑gulung, terlihat seperti rombongan domba yang menuruni lereng Merapi.

dcbf5a19-c922-4a7e-bbd0-069d03798683.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar  (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


Menjelang subuh di Pasarbubrah. Cahaya lampu di tenda-tenda yang terpencar sudah meredup. Para pendaki beristirahat beberapa waktu di sini sebelum pendakian ke puncak Gunung Merapi dilanjutkan.

Angin dingin bertiup kencang di lembah yang memanjang, menimbulkan suara menyerupai riuhnya orang-orang sepulang belanja di pasar, dengan bebatuan besar kecil yang berserakan, seperti kios dan dagangan yang ditinggalkan.

Itulah yang menjadikan tempat ini dinamai Pasarbubrah, seperti pasar yang baru bubaran. Lembah ini sesungguhnya semula berupa kawah, Kawah Pasarbubrah yang terbentuk karena letusan Gunung Merapi yang terjadi antara 60.000-8.000 tahun yag lalu.

Lengkungan bibir kawahnya terkenal dengan sebutan Pusunglondon. Dari bibir kawah Merapi Pertengahan ini banyak pendaki yang mengabadikan detik-detik perubahan antara malam berganti siang.


 

BACA JUGA: Mitigasi Merapi Berbasis Masyarakat

 


Dari Kawah Pasarbubrah ini kemudian lahir gunung api baru, Gunung Anyar, namanya, yang meletus sejak 2.000 tahun yang lalu. Secara umum, kerucut ini disebut Gunung Merapi, tingginya +2.978 m dpl. dengan volume sebesar 150 km3.  

Tak menanti hitungan menit, kami sudah terlelap dalam dingin yang mengerutkan kulit telapak tangan. Untung ada seorang yang terjaga, yang membangunkan kami, mengingatkan untuk segera bejalan kembali, agar sampai di puncak saat langit di ufuk timur dipulas warna mambang kuning keemasan.

Kami berjalan melewati tenda-tenda yang didirikan di balik batu-batu besar, sehingga sedikit terhindar dari tiupan angin. Selang beberapa menit, perjalanan meniti pasir berbutir kasar, yang sedikit ambles kalau diinjak, pasir hasil letusan tahun 2010 yang lalu. Inilah perjalanan terakhir yang sangat berat, ketika energi sudah terkuras dan rasa kantuk bergelayut di bibir mata.

Halaman berikutnya: pendakian tahap akhir...

 

Pada pendakian tahap akhir di medan yang berpasir dan berbatu lepas ini disarankan memakai masker, karena abu gunung api mengandung serbuk kaca yang sangat halus, sehingga bila masuk ke saluran pernafasan, akan terjadi iritasi yang akan mengganggu kesehatan. 

Di dalam tubuh manusia tidak seketika itu terasa akibatnya. Kalaupun terasa, pasti akan menduga karena sebab lain. Namun, yang paling merasakan dampak dari letusan gunung api adalah jasa penerbangan. Jalur penerbangan yang melintasi gunung yang sedang meletus akan langsung ditutup, dan semua jadwal keberangkatan akan ditangguhkan.

Pesawat jet modern menghisap udara dalam jumlah yang sangat banyak. Saat letusan gunung api, udara dipenuhi abu gunung api yang mengandung banyak serbuk halus kaca. Abu itu akan masuk ke dalam mesin pesawat yang panas, menyebabkan serbuk kaca yang sangat halus itu akan meleleh, lalu menyumbat saluran bahan bakar, yang menyebabkan mesin pesawat mati.


 

BACA JUGA: Menelusuri Jejak Letusan Merapi

 


Menjelang puncak, perjalanan meniti batuan lepas, sehingga perlu sangat berhati-hati, karena bila terpeleset, bukan hanya bermasalah bagi si pendaki, tapi batu yang terlepas menggelinding itu sangat membahayakan bagi pendaki yang berada di bawahnya.

Teriakan-teriakan yang mengabarkan ada batu yang jatuh menggelundung sering terdengar, agar yang di bawah waspada dan menghindar. “Stop! Stop!”, “Rock! “Rock!”, “Awas batu!”, atau “Brenti!” Ternyata, teriakan itu bukan hanya mengabarkan ada batu yang jatuh, tetapi juga menyuruh agar batu itu berhenti. Di medan berbatu lepas ini disarankan memakai helm karena batu tak pernah permisi bila membentur kepala.

Menjelang pagi, kami berdiri di bibir kawah Gunung Merapi yang dibongkar pada letusan tahun 2010, sehingga bentuk kawahnya menjadi berubah, dengan diameter tak kurang dari 400 meter yang terbuka ke selatan. Di dasar kawah terlihat bentukan hitam melingkar besar, dari sisinya asap putih terus mengepul.  

Setiap kali ingat Merapi, selalu terbayang bahaya awan panas. Inilah ancaman yang paling mengerikan. Sekarang kami berada di bibir kawah, di depan terlihat kawah yang terbuka sebagai sumber dari ancaman itu.

Di Masyarakat setempat awan panas disebut wedhusgembel, karena awan panas itu terlihat seperti asap tebal berwarna abu, hitam, coklat, dan merah yang bergumpal bergulung‑gulung, terlihat seperti rombongan domba yang menuruni lereng Merapi. Suhu wedhus gembel mencapai 1.000 derajat C. Pada jarak 8 km dari puncak, suhunya masih 450 derajat C, dengan kecepatan luncurnya sekitar100 km per jam. 

Awan panas Merapi diawali dari kubah lava yang sudah terbentuk itu terganggu stabilitasnya karena adanya desakan dari magma yang baru naik. Kubah lava yang lama akan dihancurkan seluruhnya atau sebagian pada saat letusan, lalu digantikan dengan kubah lava yang baru. Guguran kubah lava saat letusan itulah yang menyebabkan terjadinya wedhus gembel runtuhan.

Selain wedhusgembel runtuhan, ada satu lagi jenis awan panas Merapi yang terjadi ketika letusan, material letusan yang terhempas itu kemudian jatuh kembali di sekitar puncak, lalu material itu meluncur di lereng sebagai wedhus gembel jatuhan. Semakin banyak volume awanpanas, maka akan semakin cepat daya luncurnya, dengan jangkauan yang semakin jauh.*
 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR