Kamis, 25 Februari 2021
News & Nature

Mendaki Merapi ketika Tenang

Senin, 18 Januari 2021

Asap tebal berwarna abu, hitam, coklat, dan merah yang bergumpal bergulung‑gulung, terlihat seperti rombongan domba yang menuruni lereng Merapi.

dcbf5a19-c922-4a7e-bbd0-069d03798683.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar  (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


Menjelang subuh di Pasarbubrah. Cahaya lampu di tenda-tenda yang terpencar sudah meredup. Para pendaki beristirahat beberapa waktu di sini sebelum pendakian ke puncak Gunung Merapi dilanjutkan.

Angin dingin bertiup kencang di lembah yang memanjang, menimbulkan suara menyerupai riuhnya orang-orang sepulang belanja di pasar, dengan bebatuan besar kecil yang berserakan, seperti kios dan dagangan yang ditinggalkan.

Itulah yang menjadikan tempat ini dinamai Pasarbubrah, seperti pasar yang baru bubaran. Lembah ini sesungguhnya semula berupa kawah, Kawah Pasarbubrah yang terbentuk karena letusan Gunung Merapi yang terjadi antara 60.000-8.000 tahun yag lalu.

Lengkungan bibir kawahnya terkenal dengan sebutan Pusunglondon. Dari bibir kawah Merapi Pertengahan ini banyak pendaki yang mengabadikan detik-detik perubahan antara malam berganti siang.


 

BACA JUGA: Mitigasi Merapi Berbasis Masyarakat

 


Dari Kawah Pasarbubrah ini kemudian lahir gunung api baru, Gunung Anyar, namanya, yang meletus sejak 2.000 tahun yang lalu. Secara umum, kerucut ini disebut Gunung Merapi, tingginya +2.978 m dpl. dengan volume sebesar 150 km3.  

Tak menanti hitungan menit, kami sudah terlelap dalam dingin yang mengerutkan kulit telapak tangan. Untung ada seorang yang terjaga, yang membangunkan kami, mengingatkan untuk segera bejalan kembali, agar sampai di puncak saat langit di ufuk timur dipulas warna mambang kuning keemasan.

Kami berjalan melewati tenda-tenda yang didirikan di balik batu-batu besar, sehingga sedikit terhindar dari tiupan angin. Selang beberapa menit, perjalanan meniti pasir berbutir kasar, yang sedikit ambles kalau diinjak, pasir hasil letusan tahun 2010 yang lalu. Inilah perjalanan terakhir yang sangat berat, ketika energi sudah terkuras dan rasa kantuk bergelayut di bibir mata.

Halaman berikutnya: pendakian tahap akhir...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR