Rabu, 30 September 2020
News & Nature

Mendaki Lapis demi Lapis Letusan Gunung Gede

Senin, 22 Juni 2020

Di sinilah berada pedagang asongan tertinggi di Indonesia, menjajakan dagangannya di puncak Gunung Gede pada ketinggian 2.958 m dpl.

1a61852f-86fa-4293-8607-dfd5131d53b1.jpg
T Bachtiar

Pekan ini, kabaralam.com kembali menyajikan catatan perjalanan wisata alam dalam rangka mendorong bangkitnya kembali ekowisata pasca-pandemi yang lebih bernilai edukasi dan mendorong upaya konservasi. Catatan perjalanan Gunung Gede dari redaktur senior kabaralam.com, T. Bachtiar diturunkan dalam tiga artikel feature secara bersambung. Selamat menikmati.

 

LANGIT bersih tak berkabut ketika kami menginjakan kaki di tubir kawah Gunung Gede yang melingkar. Angin meniup dari lembah-lembah yang lebih dingin, mengapungkan kabut tebal yang tadi malam menyelimuti para pendaki yang tidur pulas sambil tersenyum bahagia dalam pelukan semesta.

Asap putih mengepul dari dasar kawah, tertiup bayu bersama hangatnya matahari pagi. Dinding kawah menjadi terlihat berlapis-lapis, pertanda gunung ini dibangun oleh letusan yang berkali-kali. 

__________________________________________________________________________

BACA JUGA: Ada Sakola Relawan Konservasi di TNGGP

__________________________________________________________________________

Para pendaki gunung merayakan kegembiraan begitu sampai di puncak dengan berswafoto sambil mengibarkan bendera merah-putih. Di balik kawah, berdiri kerucut Gunung Pangrango yang gagah, menjadi latar foto yang megah. 

Di bawah cantigi, para penjual nasi uduk dan kopi yang berasal dari Gunung Putri, bukan hanya berjualan di Kandangbadak dan Alun-alun Suryakancana, tapi sampai di puncak gunung.

Dengan wadah yang mampu menjaga nasi uduk tetap hangat, mereka menjadi sangat terbiasa bolak-balik mendaki gunung dengan membawa gendongan nasi uduk, termos berisi air panas, dan puluhan bungkus kopi kemasan pabrik. Inilah pedagang asongan tertinggi di Indonesia, menjajakan dagangannya di puncak Gunung Gede pada ketinggian 2.958 m dpl.

Di depan, begitu dekat, terlihat Gunung Pangrango berdiri megah. Gunung ini pernah didaki oleh Junghuhn pada April 1839. Dialah peneliti pertama yang mendaki gunung seorang diri, karena kawan sependakiannya harus turun karena demam.

Menurut para pembawa barang, yang tak berani mendaki karena ketakutan ada hantu-hantu jahat yang bergentayangan. Junghuhn berkali-kali mendaki Gunung Gedeh dan Gunung Pangrango, dan membuat gambar Kawah Gunung Gede dari ketinggian Gunung Pangrango.

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR