Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto

Rabu, 7 Oktober 2020

Tantangan terbesar membangun geowisata di Taman Bumi Sawahlunto adalah merangkai narasi tentang sejarah bumi-tambang-budaya

939dd57a-e497-4f98-893e-94899d71e723.jpg
T Bachtiar

Sawahlunto sangat terkenal dengan penambangan dalam. Oleh karena itu peta lorong-lorong tambang sangat diperlukan untuk memberikan gambaran bagaimana usaha penambangan batubara dengan tambang dalam itu dilakukan. Peta penyebaran batubara di Bumi Sawahlunto yang menyimpan 205 juta ton batubara berkualitas prima, yang tersebar di daerah Perambahan, Sikalang, Sungaidurian, Sigaluik, Padangsibusuk, Lurahgadang, dan Tanjungampalu.

Di mulut lubang tambang yang memungkinkan, aman bagi pengunjung, perlu dibukanya mulut lubang tambang, walaupun yang ditampilkan hanya bagian luarnya, tapi sudah dilengkapi dengan rel lori, gerbong terbuka yang bermuatan batubara, dan patung para penambangnya.

Diperlukan satu mulut lubang tambang yang dibangun kembali untuk memberikan gambaran konstruksi lubang, agar para pengunjung mendapatkan pengetahuan tentang konstruksi lorong tambang yang dipakai pada saat itu.

 


BACA JUGA: Invasi Akasia Berduri di Sabana Baluran


 

Untuk memberikan gambaran yang nyata kepada geowisatawan, diperlukan gambar bagaimana proses penambangan batubara itu dilakukan di kedalaman perut bumi Sawahlunto. Bagaimana batubara yang sudah digali itu diangkut dari lubang-lubang di atas rel lori. Peta-peta rel lori, peta rel keretaapi perlu divisualkan dengan baik, agar wisatawan mendapatkan gambaran tentang urutan proses pengakutan batubara di dalam tambang dan di luar lubang tambang.

Setalah batubara diangkut dari dalam lubang tambang, proses lanjutannya diperlukan gambar yang dapat memberikan penjelajasan bagaimana batubara itu diolah menjadi bahan bakar yang berkualitas tinggi, dan layak untuk dikapalkan menuju Negara tujuan.

Dari jumlah batubara yang dikapalkan, diketahui statistik produksinya, dapat ditampilkan dalam infograis, sehingga wisatawan akan mengetahui dalam periode tertentu, berapa jumlah batubara yang sudah digali dari bumi Sawahlunto ini.

Untuk menjalankan penambangan batubara yang mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1920-1921, telah dibangun gedung/bangunan yang menunjang terselenggaranya penambangan, baik untuk para pengelola, dalam hal ini rumah untuk orang Belanda, dan bedeng-bedeng untuk para pekerja. Gedung/bangunan yang ada di Kota Sawahlunto, pada saat ini sudah terdokumentasi dengan sangat baik, semoga ada tindak lanjut untuk pemulihan gedung/bangunan yang sudah rusak, tak terpelihara, tapi sangat terkait dengan penambangan batubara.

Tantangan terbesar dalam membangun geowisata di Kota Sawahlunto adalah bagaimana merangkai informasi yang sudah tersedia, menjadi narasi tentang sejarah bumi – tambang – budaya, sehingga menggambarkan karakter dan identitas Kota Sawahlunto. Itulah yang disajikan kepada wisatawan!*

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR