Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto

Rabu, 7 Oktober 2020

Tantangan terbesar membangun geowisata di Taman Bumi Sawahlunto adalah merangkai narasi tentang sejarah bumi-tambang-budaya

939dd57a-e497-4f98-893e-94899d71e723.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com

 


 

 

Dari Puncak Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, kota tambang batubara itu dapat diamati dengan nyata. Tata letak bangunan yang terkait dengan tambang batubara dapat dilihat dengan baik. Tempat ini, pada pertengahan abad ke-19 masih berupa dusun kecil yang jauh terpencil, berlokasi di dasar lembah dari cekungan yang memanjang, yang ditumbuhi hutan belantara. Semula, lahannya tidak potensial, karena padi tidak dapat tumbuh dengan baik. Penduduknya sebagian besar enggan mendiami lahan ini, sehingga pada pertengahan abad ke-19 jumlah penduduk hanya 500 orang.

Setelah Ir. WH De Greve mengadakan penelitian di kawasan ini, dan menemukan cadangan batubara di Sawahlunto pada tahun 1867, tempat ini mendapat perhatian, karena mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Revolusi industri di Eropa sangat membutuhkan bahan bakar untuk menghidupkan mesin uap. Batubara menjadi pilihan utama, sehingga pasar batubara sangat menjanjikan keuntungan.

Pengadaan dan pembangunan fasilitas pertambangan batubara terus dilaksanakan berbarengan dengan pembangunan fasilitas lainnya, seperti gedung-gedung untuk berbagai kegiatan yang dapat menunjang berjalannya penambangan, proses, dan pengapalan batubara Eropa. Pada tanggal 1 Desember 1888, Sawahlunto tercatat dalam administrasi Pemerintahan Hindia Belanda, yang wilayahnya masuk ke dalam Afdeling Tanahdatar.

Karena sangat terkenal sebagai daerah tempat penambangan batubara yang pertama di Nusantara, maka Kota Sawahlunto pada masa lalu terkenal dengan sebutan kota arang. Kota yang dibangun karena ada kegiatan penambangan batubara terbaik dan terbesar di Nusantara. Selama satu abad, dari dalam bumi Sawahlunto sudah digali 30 juta ton batubara.

 


BACA JUGA: Gunung Cereme dan Matahari yang Datang Terlambat


 

Memperhatikan sejarah kota ini, maka kegiatan geowisata di Kota Sawahlunto harus lebih fokus pada sejarah kota ini, yaitu pada apa yang menjadi alasan kota ini dibangun.

Geowisata di Taman Bumi Sawahlunto, bukan hanya bercerita tentang bumi Sawahlunto, tentang batuannya, tapi bagaimana kandungan utama bumi Sawahlunto, yaitu batubara kualitas terbaik, yang membuat nama Sawahlunto mendunia, sebagai kota tambang batubara terbesar dan tertua di Nusantara.

Dengan geowisata itu, wisatawannya mendapatkan pengalaman nyata dan pengetahuan tentang bumi Sawahlunto dan kegiatan penambangannya. Oleh karena itu informasi geowisatanya harus dapat memberikan gambaran keadaan geografi Kota Sawahlunto pada masa lalu, pada saat awal batubara terbentuk.

Untuk memberikan gambaran yang nyata, bagaimana geografi purba kawasan Sawahlunto 44-33 juta tahun, pada saat batubara terbentuk. Rekonstruksi geografi yang berupa kawasan ini yang masih berupa sungai berkelok dan berrawa, dengan hutan di lahan rawa-gambut. Visualisasi geografi purba ini sangat penting, agar dapat pengunjung dalam waktu yang sangat singkat dapat memahami bagaimana batubara itu terbentuk.

Bagaimana upaya yang dilakukan oleh Ir WH De Greve di Sumatra Barat ini, sampai menemui azalnya di sungai pada saat melakukan survei kemungkinan pengangkutan batubara melalui jalur sungai. Ia dikebumikan di bumi Minang, tak jauh dari sungai yang telah merenggut nyawanya.

Halaman berikutnya: Penambangan dalam...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR