Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Lahir Dari Letusan Ketiga Supervolkano Toba

Rabu, 22 Juli 2020

Di setiap sudutnya, danau ini menyimpan pesona, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur

a17d30d0-b700-4b53-937e-1658dc9359c8.jpg
T Bachtiar

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan membantu upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan Kaldera Toba. Artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga tulisan. 

______________________________________________________________________

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

SAAT beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan mega-kolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang.

Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km. Abu halus dan aerosol-nya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim.

Abu letusan tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan.

Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan.

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Menjelajah Kemegahan Kaldera Toba

_______________________________________________________________________

Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m, namun, endapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.  

Kekuatan letusannya berada di urutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu.

Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir.

Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km, yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba. 

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak 240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai.

Sungai-sungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang.

Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman.

Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt. 

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Banyupahit ke Banyuputih, dari Rasa turun ke Mata

_______________________________________________________________________

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai.

Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau. Semua apa yang dibawa sungai-sungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau.

Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan enceng gondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.   

Halaman selanjutnya: Menjaga pesona...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR