Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Ketika Utusan Tolomo tak Datang Lagi ke China

Senin, 3 Mei 2021

Di kompleks percandian Batujaya pun didapati gerabah bercorak Buni. Ini menunjukkan adanya kesinambungan keahlian, menerus sejak prasejarah hingga kini

c4064c11-6afe-47ba-b5ac-8d15df7c475c.jpg
T. Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam)

 

_______________________________________________________________________

Kompleks percandian Batujaya, Karawang mulai tersingkap dari balik lemah duwur. Sesungguhnya masyarakat sudah mengetahui sejak lama bahwa di gundukan tanah yang berupa bukit-bukit kecil yang ada di hamparan persawahan itu di dalamnya terdapat bata. Namun penduduk tidak mengira itu sebagai candi. Setelah para mahasiswa dan dosen dari Jurusan Arkeologi UI mengadakan peninjauan ke sana, barulah diyakini, di lahan yang oleh penduduk ditanami ubi jalar, pisang, atau kayu penghijauan itu di dalamnya terdapat candi dari bata.

Mulanya lemah duwur yang berisi candi itu jumlahnya lebih dari 24. Namun, jumlah bukit-bukit kecil di tengah sawah itu makin hari semakin menyusut jumlahnya, dijadikan persawahan, atau dijadikan lahan untuk bermukim.

Diduga kuat, kompleks percandian di Batujaya ini dibangun di bawah kekuasaan Raja Tarumanagara yang berkembang antara abad IV – VII, yang pengaruhnya meluputi kawasan yang sangat luas, mencakup Provinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Hal ini dapat kita baca dari prasasti dari Kerajaan Tarumanagara yang berangka abad pertengahan kelima.   

_______________________________________________________________________

BACA JUGA:

Kars Pangkalan Bagian Situs Kerajaan Tarumanagara

_______________________________________________________________________

Sumber lain di antaranya, laporan perjalanan Fa Hsien yang berjudul Fo-kuo-chi pada tahun 414 M. Dalam laporannya disebutkan keadaan di Ya-wa-di, tempat ia tinggal selama lima bulan, karena kapalnya mendapat kerusakan di Laut Seylon hingga terdampar di Ya-wa-di. Apakah Ya-wa-di sama dengan Ya-wa-da seperti ditulis oleh Goeneveldt? Dalam catatan di Kerajaan China, raja dari Ya-wa-da yang berkunjung ke China tahun 435 M. adalah S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo.  

Ya-wa-di atau Ya-wa-da, ditafsirkan juga sebagai Yawadipa, Jawadipa, dan kerajaan tertua di Pulau Jawa adalah Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara tercatat di Kerajaan China dengan sebutan To-Lo-Mo, dengan rajanya S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo atau Sri Purnawarman, sejak abad ke VI (dinasti Soui) hingga abad VII (dinasti Tang). Kerajaan To-Lo-Mo diperkiran runtuh pada tahun 669 M.

Hasan Djafar, dkk. (2000) menulis, bahwa candi yang berada di Batujaya bercorak Budha. Sedangkan Raja Tarumanagara saat itu beragama Hindu yang melaksanakan ritual keagamaannya di lapangan terbuka yang luas, bukan mengadakan peribadatan di candi-candi. Kebebasan menganut agama di Kerajaan Tarumanagara sudah terjadi dan dipermaklumkan oleh Raja.

Saat itu ada yang menganut agama Hindu Waisnawa-Saura, ada yang menganut agama Budha (V-VII), seperti dianalisis oleh Ferdinandus (1999), karena ditemukannya votive tablet dari tanah liat yang ditemukan di Candi Blandongan, di komplek percandian Batujaya, serta masih ada yang menganut, menurut istilah Fa Hsien, agama kotor.

Sangat mungkin, sebutan agama kotor ini untuk menggambarkan tradisi religi megalitik, yang peninggalannya masih ada hingga kini, seperti adanya batu tegak dan batu besar. Jadi, pada masa Kerajaan Tarumanagara itu ada tiga kepercayaan yang hidup berdampingan, yaitu Hindu, Budha, dan religi prasejarah.

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: 

Teratai Mekar di Batujaya

________________________________________________________________________

Banyak orang terkesima ketika di pantura Karawang ditemukan komplek percandian di Batujaya. Asosiasi orang akan candi bata selalu menghubungkannya dengan candi bata yang ada di Jawa Timur, yang didirikan abad XI – XV, terutama pada masa Singasari – Majapahit. Tapi candi yang ada di Batujaya jauh lebih tua lagi umurnya.

Bagi masyarakat di pantura Jawa Barat, seperti pantura Bekasi, keahlian mengolah tanah liat menjadi perkakas adalah bukan hal yang aneh. Jauh sebelum kedatangan para penyebar agama Hindu dan Budha, masyarakat di sana sudah ada yang mempunyai keahlian membuat gerabah yang berkembang antara tahun 300-400 M., kemahiran membuat gerabah terus bersinambung, seperti terjadi alam tradisi membuat gerabah dari Kompleks Buni (Soejono, 1984), yang sudah ada sejak masa perundagian, atau setingkat di atas masa bercocok tanam.

Masyarakatnya hidup dari pertanian dan menangkap ikan. Di kompleks percandian Batujaya pun didapati gerabah bercorak Buni. Ini menunjukkan adanya kesinambungan keahlian, menerus sejak prasejarah, hingga Hindu-Budha berkembang ketika candi-candi itu dibangun. 

Tradisi mengolah tanah liat merupakan kemahiran yang turun temurun sejak zaman prasejarah. Sehingga ketika para penyebar agama membawa tradisi membangun candi dari bata, kemampuan itu sudah tersedia di masyarakatnya. Bahkan, tradisi mengolah tanah liat di sekitar Batujaya itu menerus hingga kini, di pinggiran Ci Tarum masih ada penduduk yang membuat bata merah.

Dari situs Batujaya ini pun ditemukan oleh para peneliti berupa votive tablet/clay tablet yang berumur antara abad V – VII, yang tercetak dalam tanah liat itu pantheon Budha dan tulisan di bawahnya. 

Candi-candi di Batujaya, seperti di Candi Balandongan, bata merahnya sudah dilapisi dengan plesteran atau lepa (stucco). Lepa terbuat dari batu kapur yang dibakar, berfungsi sebagai plesteran dan hiasan candi, umumnya seperti yang berkembang pada candi pada abad ke V–VII.

Kerajaan Tarumanagara berjaya dalam rentang waktu 358-669 M. Ketika raja Tarumanagara Sri Maharaja Linggawarman meninggal 666-9, di Jawa Bagian Barat terdapat Kerajaan Galuh yang sudah 37 tahun berkembang dan masih mengikuti kedaulatan Tarumanagara, dan Kerajaan Sunda (669-723 M) yang didirikan oleh Sri Maharaja Tarusbawa. Jadi, sesungguhnya secara politis, nama Kerajaan Tarumanaga sudah tamat riwayatnya.

Indikasi memudarnya kerajaan ini terdapat dalam berita China dari Dinasti Tang yang menuliskan bahwa pada tahun 666 dan 669 masih ada utusan dari To-Lo-Mo (Taruma) yang datang ke China. Tapi setelah itu tidak ada lagi catatan kedatangan utusan dari kerajaan To-Lo-Mo. Sesungguhnya hal ini dapat dimengerti, karena tahta Kerajaan Tarumanagara ke 13 sudah diserahkan kepada menantunya, Tarusbawa, yang kemudian mengubah nama kerajaannya*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR