Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Ketika Samosir Lahir

Jumat, 24 Juli 2020

Tentang anak-anak yang dikaruniai kepintaran, mendapat nilai bagus di sekolah, yang menurutnya karena selalu sarapan dengan ikan dan udang Danau Toba

885f3a4e-ab87-44b1-b21f-a53734207389.jpg
T Bachtiar

 

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan membantu upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan Kaldera Toba. Artikel ini merupakan bagian ketiga dari tiga tulisan. 

______________________________________________________________________

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

DARI pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian +906 m dpl terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian +1.600 m dpl, yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m, di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian +1.400 m dpl.

Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat. Bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat 1.100 m ke posisinya yang sekarang.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Menjelajah Kemegahan Kaldera Toba

________________________________________________________________________

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan Tumor Batak, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya Gunung Toba Purba.

Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan terjadinya kekosongan di dalam tubuh gunung, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu ambruk. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya.

Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir saat ini, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter.

Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Purun dan Pemberdayaan Perempuan Desa

________________________________________________________________________

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga Pulau Samosir sisi timur rona buminya lebih tinggi, yang menurun halus ke bagian baratnya. 

Perjalanan dari Pulau Samosir kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan atau sesar di sisi baratnya. 

Sekitar 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah Bakkara terlihat keindahannya. Di lembah ini lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Halaman selanjutnya: Uluan yang tidak terangkat...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR