Senin, 19 April 2021
News & Nature

Keriangan Pagi Padang Sabana Baluran

Selasa, 18 Agustus 2020

Pada mulanya nama geografi Baluran hanya untuk menamai gunung yang kawasannya jauh lebih tinggi daripada kawasan di sekitarnya.

28f75d78-0369-4141-ad74-7d1dad8d7138.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)


 

SUBUH di langit Baluran, bintang-gemintang menyinarkan simbol-simbol irama semesta. Taman Nasional itu belum terang, tapi tidak terlalu gelap. Udara tak bertiup subuh itu, pucuk-pucuk pohon diam tak bergerak walau sedikit. Suara binatang terdengar riang bersahutan.

Banyak suara binatang yang asing di telinga, tapi dalam sekian banyak suara itu ada harmoni. Suara burung yang cerewet, suara rusa yang memekik, lenguh kerbau liar yang bergerombol, dan suara ayam hutan paling nyaring dari semua suara yang datang dari sabana.

Pagi yang lembab di Sabana Bekol. Nama sabana ini diambil dari nama pohon widuri bekol (Zyziphus rotundifolia), pohon yang sangat khas di hamparan padang rumput. Di sisi sabana yang berbatasan dengan hutan, terlihat kerbau liar (Bubalus bubalis) berkelompok merumput. Rusa (Cervus timorensis) memandang curiga ketika ada suara-suara yang diduga mengancam.

Kubangan-kubangan kecil dalam lintasan kerbau di sabana ini mulai ada yang mengering. Burung merak yang terusik, terbang menuju pohon yang rimbun. Keriangan pagi di padang sabana. Semua penghuninya sudah bergerak menyambut pagi.

____________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gerbang Waktu Toraja Utara

____________________________________________________________________________________

Walau masih ada hujan di bulan Juni, namun, Sabana Bekol sudah mengering. Secara keseluruhan warnanya sudah berubah menjadi warna gading, namun masih tersisa rumput yang hijau di sela-selanya. Kawanan kerbau liar dan rusa masih merumput di sana.

“Sabana di Taman Nasional Baluran itu kenampakannya berlainan sesuai dengan musim. Bila menginginkan suasana kering, datanglah pada musim kemarau. Tapi bila menginginkan suasana yang hijau, datanglah pada musim penghujan,” Begitu penjelasan Badruzaman, yang akrab dipanggil Ejen, polisi hutan Taman Nasional. Secara umum, pada bulan April sampai Oktober terjadi musim kemarau, dan pada akhir Oktober sampai awal April terjadi musim hujan. Dengan temperature antara 27,2 - 30,90 C.

Kemeriahan pagi itu dinaungi Gunung Baluran, yang menjadi latar bentang alam sabana, yang sering dijuluki Afrika kecil di Pulau Jawa. Itulah daerah tertinggi di tengah-tengah Taman Nasional. Dari berbagai arah, terlihat hamparan lahan datar yang luas, yang terus meninggi ke arah gunung. Dari arah Selat Bali, bentang alamnya landai mulai dari pantai, lalu menanjak, mencuat tinggi di Gunung Baluran.

Sangat mungkin, karena alasan rona buminya, ada gunung yang terlihat mencuat dari berbagai sisinya, sehingga gunung ini dinamai Baluran. Pada mulanya nama geografi Baluran hanya untuk menamai gunung yang kawasannya jauh lebih tinggi daripada kawasan di sekitarnya.

Halaman selanjutnya: Tempat yang tinggi...

 

Ba-lur-an, yang secara bahasa, dapat diartikan sebagai “tempat yang tinggi”. Namun dalam perkembangannya, baluran dipakai untuk menyebut kawasan yang lebih luas lagi, seperti Taman Nasional Baluran, yang kawasannya bukan hanya tempat tinggi Gunung Baluran (+1.247 m. dpl.) yang berbatu dengan rona bumi berlereng curam, tapi sampai batas terluarnya pada ketinggian 0 m. dpl. di pantai.

Taman Nasional Baluran yang luas keseluruhannya 25.000 hektar itu berada di ujung timur Pulau Jawa, yang secara geografis terletak antara 7045’ - 7015’ Lintang Selatan, dan antara 114018’ - 114027’ Bujur Timur. Di sebelah utara, Taman Nasional berbatasan dengan Selat Madura, sebelah barat dengan Kali Bajulmati, sebelah timur dengan Selat Bali, dan sebelah barat laut berbatasan dengan Kali Klokoran.

____________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Di Ujungkulon, Bos Javanicus Merumput

____________________________________________________________________________________

Rona bumi Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ini, mulai dari yang datar dengan ketinggian 0 - 124 m dpl, bergelombang dengan ketinggian 125 - 900 m dpl, dan terjal pada ketinggian lebih dari 900 m dpl. Pada garis pantai di Mesigit, Balanan, dan Montor, terdapat hamparan batukarang yang terjal. Sedangkan di sebelah selatan dan barat, rona buminya bergelombang.

Berdasar pada rona buminya, ekosistem sabana di TN Baluran dibedakan menjadi sabana datar dengan tanah endapan, berada di dataran rendah sepanjang pantainya yang menutupi daerah Pandean, Tanjung Sedano, Tanjung Sumberbatok, dan Tanjung Lumut, dan sabana datar sampai bergelombang dengan tanah berwarna hitam dan berbatu. Batas terluarnya berupa dataran pasir sepanjang hutan mangrove.

Keriuhan subuh menjadi senyap, ketika matahari mulai meninggi. Kertak ranting dan seresah yang terinjak rusa, serta derak ranting yang patah terdesak kerbau yang mencari keteduhan. Hamparan sabana keemasan, dikipasi daun gebang yang berjajar di dekat pantai, dilatari Gunung Baluran yang menjulang.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR