Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Kemegahan Sabana Bumi Sumba

Selasa, 29 Desember 2020

Bumi Sumba merupakan laboratorium karst, laboratorium batu kapur, di sana dapat ditemukan bagaimana karstifikasi berproses.

27b6a5cf-0a53-4b04-86ed-d76696ea0d19.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

Ketika musim penghujan, bumi Sumba akan menampilkan padang sabana yang menghijau, yang tumbuh di calah-celah batukapur di perbukitan yang bergelombang. Ketika musim kemarau, warnanya berubah menjadi warna coklat keemasan, pantulan cahaya matahari di rerumputan yang mengering.

Kedua musim itu mengubah bentang alam begitu nyata, terlihat dari perubahan warna bentang alam, menyajikan kekhasan yang mengagumkan. Datanglah ke Sumba pada musim penghujan atau pada musim kemarau, sama-sama akan disuguhi bentang alam yang menakjubkan. Bumi Sumba, menyajikan kemegahan bentang alam dan keeksotisan masyarakatnya, yang melakoni hidup dengan indah di kawasan berbatukarang.

Secara alam, Pulau Sumba terisolir di selatan Kepulauan Nusa Tenggara. Fragmen-fragmen pulau ini sudah menjalani perjalanan yang jauh dan lama, telah bergerak dari utara ke selatan sejak 70 juta tahun yang lalu. Pulaunya bergerak maju sambil berputar berlawanan dengan arah jarum jam secara evolutif, sampai pada wujud dan letaknya seperti saat ini.

Dinamika bumi terus berlangsung, kerak bumi berjalan membentuk wujud baru pulau-pulau kecil yang berjajar dengan arah barat - timur. Pulau Sumba terbentuk jauh sebelum pulau-pulau gunungapi yang berjajar di utaranya, di Kepulauan Nusa Tenggara atau Kepulauan Sunda Kecil, mulai dari Bali di barat sampai Pulau Alor di timur.


 

BACA JUGA: Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

 


Iklimnya kering, musim penghujan sangat pendek, dan musim kemaraunya lebih panjang. Padang sabana terhampar luas di perbukitan kapur. Kuda-kuda Sumba yang terkenal sejak lama, berkelompok merumput di hamparan sabana yang tak berujung, seperti di sabana Wairinding, Waimarang, Tanarara, di perbukitan sepanjang jalan menuju Desa Tanggedu.

Rumput dan bunga-bunga liar tumbuh di rekahan-rekahan batu kapur, yang di dalamnya terendapkan terrarosa, tanah kemerahan hasil pelapukan dari batu kapur. Air hujan tertampung diceruk-ceruk kecil, membasahi tanah muda, kemudian biji rumput dan bunga liar yang diterbangkan angin, berkecambah, menghijau di musim penghujan, halus menutupi perbukitan.

Ketika hujan tak menyirami Bumi Humba, air yang sedikit dalam tanah telah diuapkan, menyebabkan tanah tipis dalam rekahan batu kapur itu menjadi kerontang. Rerumputan mengering, biji-biji rumput dan bunga liar beterbangan ditiup angin, menyebar ke berbagai arah.

Batu kapur yang retak-retak itu kemudian membelah dipanggang matahari, dan bila hujan datang, batu kapur melarut. Akar tumbuhan menghantarkan air hujan sampai jauh ke dalam, melarutkan batukapur, membentuk rekahan, membentuk goa-goa yang tegak, membentuk goa-goa yang mendatar di kedalaman, membentuk sungai bawah tanah dengan air yang melimpah.

Halaman berikutnya: Laboratorium karst...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR