Senin, 19 April 2021
News & Nature

Keli Mutu, Gunung yang Mendidih

Selasa, 1 September 2020

Warga adat Lio di sekeliling Keli Mutu selalu mengadakan seremoni atau upacara pati ka du’a bapu ata mata

c1b3986e-13e6-465f-9e70-4ce7ed3a0958.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)


 

Langit masih kelam, hanya satu dua bintang yang tampak cemerlang. Seujung kuku bola api raksasa mulai muncul dari balik awan, kemudian bola api raksasa yang merah menyembul perlahan di ufuk timur, menyibakkan tirai malam. Langit yang semula kelam berganti merah kekuningan, pertanda pagi akan menjelang.

Saat-saat yang dinantikan dan diharapkan para pengunjung dari berbagai belahan dunia telah nyata. Dalam dingin dan tiupan angin subuh yang kencang, semua menanti matahari terbit di puncak Kelimutu (1.640 m dpl). Kemunculan matahari di cakrawala untuk menerangi semesta, disambut dengan penuh sukacita. Penjual makanan ringan dan minuman hangat, sudah menjajakan jualannya di dasar tugu, sebagai penanda titik tertinggi di Keli Mutu, tempat para wisatawan berkumpul.

Peristiwa itu hanya sesaat, sangat singkat, bola matahari kembali menyinari bumi dengan cahayanya yang menyilaukan, memancarkan energi bagi kehidupan. Keli Mutu pun menampakkan wujudnya. Dari tugu tempat melepas pandang, ketiga danau kawah terlihat dengan jelas.

Ada tiga danau kawah di Keli Mutu. Bila diurutkan dari arah barat ke timur, danau kawah paling barat adalah Tiwu Ata Bupu, dipercayai sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur yang berusia tua, Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri, sebagai tempat berkumpulnya arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Polo, kawah tempat bersemayamnya arwah para tukang tenung dan orang-orang jahat lainya.

________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Keriangan Pagi Padang Sabana Baluran

________________________________________________________________________________

Angin meniup cemara gunung (Casuarina junghuhniana) yang lebat di sekeliling danau, suaranya khas, dimeriahkan dengan kicauan burung yang nyaring dan tiada hentinya. Burung garugiwa atau kancilan Flores (Pachycephala nudigula) jantan, pengoceh beragam suara yang ramai antara pukul 06.30-09.30 dan sore hari mulai pukul 15.00. Keagungan suara alam di alam yang mengagumkan, Taman Nasional Kelimutu adalah tempatnya.

Persemayaman Embu Nosi

Bagi warga di sekeliling gunung ini, Keli Mutu pada masa lalu disebut Bhuria, yang berarti rimba berselimut kabut, tempat khusus bagi embu nosi (arwah para eyang/leluhur) dan nitu (roh gaib).

Pada zaman baheula, di Bhuria, di kawasan gunung dalam rimba raya ini terdapat masyarakat, dengan penguasa Konde Ratu. Di sana ada dua tokoh yang menonjol tabiatnya, dan sama-sama kuat dalam bidang masing-masing, yaitu Ata Bupu, orang tua yang bertabiat baik dan mengayomi masyarakat, dan yang satunya lagi Ata Polo, pemeras, penenung, dan pemangsa manusia.

Pada suatu hari, Ata Bupu kedatangan sepasang ana kalo, anak yatim-piatu, yang memohon perlindungan karena kedua orangtuanya sudah meninggal. Ata Bupu menyetujuinya, lalu kedua anak itu tinggal di ladangnya, sehingga tidak mendapatkan gangguan.

Rupanya Ata Polo mengetahui keberadaan kedua anak yang tinggal di rumah Ata Bupu. Ata Polo mendatangi Ata Bupu untuk memangsa anak itu, namun dapat dicegah.

Halaman selanjutnya: Biarlah tumbuh dewasa...

 

“Biarkanlah kedua anak itu tumbuh dewasa”, kata Ata Bupu menenangkan Ata Polo.

Singkat cerita, kedua anak itu sudah remaja, yang perempuan bernama Ko’o Fai dan yang laki-laki bernama Nuwa Muri. Ata Polo datang untuk menagih janji Ata Bupu untuk memangsa kedua anak yang kini sudah menjadi gadis dan jejaka. Tentu saja, Ata Bupu tidak menyetujui hal itu, ia berusaha untuk melindunginya. Untuk menghindari kejahatan Ata Polo, bersama kedua muda-mudi itu Ata Bupu menghilang ke dalam bumi.

Ata Polo tidak puas dengan kenyataan itu, maka ia pun mengejarnya menembus ke dalam bumi. Akhirnya, baik Ata Bupu maupun Ata Polo menghilang ditelan bumi, begitu juga kedua remaja bersaudara itu. Di tempat mereka menembus bumi itulah kemudian menjadi kawah, dan keluar air dengan warna yang berbeda.

Di tempat Ata Bupu menghilang airnya berwarna hijau lumut, dari tempat Ko’o Fai dan Nuwa Muri menghilang keluar air berwarna biru kehijauan yang cerah, dan di tempat Ata Polo menghilang keluar air berwarna merah kecoklatan.

________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Hijau yang Sedikit Berbeda di Danau Kelimutu

________________________________________________________________________________

Itulah asal-usul nama geografi dari tiga kawah yang ada di kompleks Keli Mutu. Di ketiga danau kawah itu kemudian menjadi tempat berkumpulnya arwah sesuai dengan kebaikan atau kejahatan di dunia.

Sebelum ditempatkan di salah satu kawah itu, rohnya akan diperiksa terlebih dahulu oleh penguasa Keli Mutu di gerbang kawah yang disebut Pere Konde. Letaknya sekitar dua kilo meter di bawah Tiwu Ata Polo, persis di lembah yang dindingnya berupa lava pejal yang meleler saat letusan Keli Mutu Muda. Dari gerbang itu sudah ditentukan, ke danau kawah mana roh itu akan ditempatkan.

Warga adat Lio di sekeliling Keli Mutu selalu mengadakan seremoni atau upacara pati ka du’a bapu ata mata, yaitu ritual memberi makan leluhur, berupa binatang yang didapat dari alam liar dan persembahan lainnya. Setelah ritual itu, semua dagingnya akan dimasak dan dimakan secara bersama-sama setelah upacara selesai.

Makna upacara itu pertama sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dan hasil pertanian yang baik, dan kedua memohon agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari Keli Mutu, diberi keselamatan, dan hasil pertanian yang baik dan mencukupi.

Semula, ritual pati ka du’a bapu ata mata itu diadakan di masing-masing perkampungan adat Lio di sekeliling Keli Mutu. Namun kini upacaranya dilaksanakan bersama setiap tanggal 14 Agustus, bertempat di Keli Mutu.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR