Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Kars Pangkalan Bagian Situs Kerajaan Tarumanagara

Minggu, 7 Februari 2021

Teknologi beton tidak bertulang pun, pada saat itu sudah dipergunakan, terutama untuk bagian-bagian pelataran candi yang memerlukan pengerasan

1e538e9b-1d14-41aa-b345-2cdc0ea0df12.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


 

Unur, bukit-bukit kecil, terlihat menonjol di antara hamparan persawahan yang luas. Bila ditarik garis lurus, lalu dibuat penampang utara-selatan, akan terlihat unur tertinggi mencapai 8,08 m. dari permukaan sawah, dan unur terendah di selatan setinggi, 3,75 m.

Pada umumnya unur-unur itu dimanfaatkan oleh penduduk untuk menanam pisang, pepaya, kayu, ubi, dan tanaman lainnya. Dengan mengorek sedikit saja permukaan unur itu, akan terlihat tumpukan bata merah, yang sebelum tahun 1985, tak ada yang menyangka bahwa itu adalah bangunan candi.

Ketika candi ini dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanagara, lokasi komplek percandian, yang kini secara administratif berada di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, masih berada di pinggir pantai pada ketinggian 0 m. dari permukaan laut (dpl.). Lokasinya bersebelahan dengan muara sungai besar Ci Tarum. Namun kini, komplek percandian Batujaya ini berada pada ketinggian 2 m.dpl. Pangangkatan daratan secara evolutif itu, telah mengasingkan kerajaan-kerajaan bahari, tak terkecuali Kerajaan Tarumanagara.

Satu candi yang sudah diekskavasi oleh Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Indonesia adalah Candi Jiwa, berukuran 19 x 19 m. Sejak abad ke V, teknologi lepa stuko, sudah dikenal dan menjadi salah satu keahlian teknik sipil di Kerajaan Tarumanagara. Hasil penelitian Hasan Djafar (2000, 2010) diketahui bahwa hampir di semua kaki candi bata di komplek percandian Batujaya yang ditelitinya, terdapat lapisan kapur padam antara 1-2 cm.

Menariknya, teknologi beton tidak bertulang pun, pada saat itu sudah dipergunakan, terutama untuk bagian-bagian pelataran candi yang memerlukan pengerasan. Beton stuko yang dicampur dengan batu kerikil sebesar kelereng dan kemiri, menghasilkan adukan yang sangat kuat. Sekarang pun sesungguhnya, semen itu bahan utamanya adalah batu kapur sebanyak 75-80%, sisanya lempung dan pasir silika dengan tambahan gips.

Kalau ada yang membahas tentang kapan beton masuk ke Nusantara, harusnya dimulai dari abad ke V-VII ini, terutama bila membahas beton tanpa tulang. Kalau membahas beton bertulang, memang baru 14 abad kemudian, yaitu pada abad ke XIX, teknologi beton bertulang itu masuk ke Nusantara, seperti yang dipakai dalam pembuatan Gedung Sate di Bandung. Teknologi pemanfaatan kapur tohor/kapur padam itu, selain untuk lepa dan beton stuko, juga dimanfaatkan dalam pembuatan ornamen relief dan arca-arca kecil.

Di dalam komplek percandian ini, pastilah terdapat lebih dari 24 candi bata. Untuk memplester seluruh bagian candi tersebut diperlukan bahan dalam jumlah yang banyak. Kapur tohor (quicklime) dihasilkan dari batu gamping yang mengalami proses pemanasan atau kalsinasi. Batu kapur itu dibakar pada suhu antara 6000-9000 C.

Batu gamping bakar ini dikenal dengan sebutan kapur tohor. Apabila kapur tohor disiram dengan air secukupnya, akan menghasilkan kapur padam (hydrated/slaked quicklime, atau apu menurut istilah setempat. Mutu terbaik kapur tohor adalah yang terbakar secara lunak, yang menghasilkan kapur yang sarang dan tidak begitu mengkerut. Sedangkan kapur tohor yang bermutu kurang baik, bila proses pemanasannya terlalu masak, sehingga kapurnya mengerut, kompak dan kurang sarang.

Bila satu candi sedikitnya memerlukan antara 30-35 kubik kapur padam, maka, untuk 24 candi saja memerlukan 24 x 35 kubik = 840 kubik. Dan pastilah keperluan akan kapur padam ini lebih dari jumlah itu, karena jumlah candi dapat dipastikan lebih dari 24. Ditambah lagi, setiap candi memerlukan beton stuko untuk mengeraskan pelatarannya, sehingga jumlahnya akan semakin bertambah.

Halaman selanjutnya: Situs bumi dan budaya...

 


Situs Bumi dan Budaya

Pada abad ke V di Kerajaan Tarumanagara, pasti sudah memiliki banyak ahli yang dapat bekerja dengan baik untuk pembangunan komplek percandian ini, seperti ahli “geologi” yang dapat mencari sumber bahan, ahli “pertambangan” yang mengetahui bagaimana memproses batu kapur menjadi kapur tohor/kapur padam, ahli “transportasi” yang dapat mengangkutnya dari tempat pembakaran ke pusat percandian, ahli “teknik sipil” yang dapat membangun candi dengan baik sesuai aturan yang berlaku saat itu, membuat beton stuko, dan melepanya dengan stuko, sehingga bangunan candi menjadi putih dan kuat. Ahli patung, ahli desain eksterior, sehingga berbagai materai (votive tablet) tanah liat dan arca dibuat dengan baik.

Sumber bahan itu biasanya dipilih karena dua sebab utama. Pertama kualitas bahannya baik, dan adanya kemudahan dalam pengangkutannya. Batu kapur sebagai bahan lepa dan beton ini pastilah diproses di lokasi bahan baku, hasilnya berupa kapur padam diangkut ke lokasi pembangunan percandian.

Lokasi sumber bahan yang memenuhi dua syarat itu adalah perbukitan kapur, yang kini terkenal dengan sebutan kars Pangkalan. Kawasan batu gamping ini telaknya 27 km selatan kota Karawang. Kars Pangkalan merupakan perbukitan rendah dengan puncak-puncaknya, seperti Guhawalet, Guha Haji, Guha Bagung, Pasir Lengis, Leuweungsurupan, dll.

T. Martadipura (1977), menggambarkan, batu gamping di Pangkalan ini terdiri dari dua jenis, pertama batugamping pasiran yang cadangannya tidak banyak, dan kedua batu gamping murni yang terdapat di Guhawalet, dengan sifat batu gampingnya yang kompak, keras, berwarna putih agak abu, dan cadangan mencapai puluhan juta ton. Kars Pangkalan ini termasuk Formasi Parigi, melintang barat-timur sejajar garis pantai. Secara Geologi, umurnya antara 10-15 juta tahun yang lalu.

Ketika Kerajaan Tarumanagara giat membangun komplek percandian Batujaya, kawasan perbukitan ini tingginya antara 48-118 (sekarang antara 50-120 m dpl.). Kawasan kars Pangkalan sepanjang 20 km ini diapit oleh dua sungai yang memudahkan pengangkutannya. Di sisi barat mengalir Ci Beet, dan di sisi timur mengalir dengan deras induk Ci Beet, yaitu Ci Tarum. Kedua sungai itu menjadi sarana tranportasi yang sangat baik untuk mengangkut kapur tohor/padam ke Batujaya sejauh 62 km.

Kawasan batu gamping di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang ini nilainya menjadi bertambah tinggi, karena selain kualitas karsnya yang termasuk kars kelas I, seperti tercantum dalam Peta Klasifikasi Kawasan Kars Provinsi Jawa Barat tahun 2006, kawasan ini pun termasuk ke dalam situs sejarah Kerajaan Tarumanagara.

Bila mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2006, kawasan kars kelas I ini merupakan kawasan yang wajib dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk kegiatan budi daya yang merusak fungsinya. Pasal 13 dalam Pergub itu dinyatakan bahwa peruntukan kawasan kars kelas I ini sebagai kawasan lindung, yang dapat dimanfaatkan, namun hanya untuk kegiatan yang sifatnya tidak menurunkan mutu lingkungan dan biofisik.

Hal ini pun sesuai dengan kriteria kawasan kars kelas I, seperti yang tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1456K/20/MEM/2000, yang merupakan kawasan lindung sumber daya alam, dan budaya, sehingga tidak diperbolehkan ada kegiatan penambangan.

Kawasan kars Pangkalan mempunyai nilai yang sangat tinggi, baik secara alam maupun budaya. Batu gampingnya diolah sebagai kapur tohor/padam, menjadi sumber bahan dalam pembuatan komplek percandian Batujaya dari Kerajaan Tarumanagara, candi bata tertua di Indonesia yang dilepa stuko!*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR