Kamis, 26 November 2020
News & Nature

Invasi Akasia Berduri di Sabana Baluran

Jumat, 28 Agustus 2020

Ekosistem sabana berubah menjadi hutan Akasia berduri yang sangat rapat

95660fd6-d071-4fdc-8248-c1df2b69d6a2.jpg
T Bachtiar
Gerombolan sapi di dalam Taman Nasional Baluran. Pemakan polong akasia berduri, sekaligus yang menyebarkannya.

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)


 

Suara bel logam yang tergantung di leher sapi berdentang-dentang. Kawanan sapi di kawasan Karangtekok dan di kawasan TN Baluran utara, setiap harinya terdapat sekitar 1.600 ekor sapi dan 400 ekor domba/kambing yang digembalakan Taman Nasional.

Kawanan ternak yang digembalakan liar itu terus bergerak di bawah kanopi akasia berduri yang sudah rapat. Bila sapi-sapi dan kambing itu juga memakan polong akasia berduri, maka ternak ini telah ikut mempercepat pertumbuhan akasia berduri.

Secara alami, tanah, iklim di kawasan TN Baluran sesuai untuk pertumbuhan Acacia nilotica, sehingga sangat berpengaruh terhadap percepatan tumbuh dan penyebaran tanaman ini. Ditambah adanya sabana yang sangat baik untuk pertumbuhan Acacia nilotica, karena perkecambahannya memerlukan cahaya matahari.

Bila dibandingkan dengan luas sabana alami di Taman Nasional Baluran sekitar 10.000 Ha, dengan tingkat pertumbuhan akasia berduri yang mencapai 100 - 200 Ha per tahun, akasia berduri ini sudah mengambilalih sekitar 50% dari luas sabana, atau sekitar 5.000 Ha.  

_________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Keriangan Pagi Padang Sabana Baluran

_________________________________________________________________________________

Akasia berduri telah tersebar di hampir seluruh sabana yang ada di kawasan Taman Nasional Baluran, seperti di sabana Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Dadap, Asam Sabuk, Curahudang, Widuri, dan Merak. Bahkan di Sabana Kramat, Kajang, dan Balanan, akasia berduri ini telah membentuk kanopi yang tertutup.

Penyebaran biji akasia berduri semakin meluas karena terbantu oleh satwa herbivora yang memakan daun dan biji akasia berduri seperti banteng (Bos javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa timor (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), dan babi hutan (Serpussp.).

Satwa-satwa tersebut akan membuang kotorannya di berbagai tempat, dan biji akasia berduri akan tumbuh sehingga tersebar ke seluruh kawasan. Di samping penyebaran melalui kotoran satwa, pada musim hujan biji akasia berduri yang bercampur dengan lumpur menempel pada kaki dan badan satwa kemudian terbawa dan jatuh di tempat lain.

Pada saat puncak musim kemarau dan musim masak buah, herbivora besar memakan polong akasia berduri. Polong akasia berduri yang mempunyai kandungan karbohidrat dan protein yang tinggi itu lalu dimakan banteng, kerbau liar, dan rusa. Biji yang tidak tercerna akan mengalami penggosokan dan kondisi asam di dalam lambung selama 12-48 jam, lalu kotorannya tersebar ke lokasi lain sesuai dengan daya jelajah satwa tersebut.

_________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gerbang Waktu Toraja Utara

_________________________________________________________________________________

Biji yang terbawa dalam kotoran itu akan tetap lembab dan kotoran itu berfungsi sebagai pupuk, yang memungkinkan biji tersebut berkecambah segera setelah turun hujan. Ratusan, bahkan ribuan biji yang keluar bersama dengan kotoran itu akan menjadi titik serbuan baru dari akasia berduri di Taman Nasional Baluran.

Akasia berduri telah mendesak sabana, mendesak pertumbuhan rumput, sehingga ketersediaan makanan bagi herbivora di Taman Nasional menjadi tidak memadai lagi. Karena asupan pakan yaitu rumput sebagai sumber makanan utamanya yang sudah tidak mencukupi, maka satwa akan mencari pakan alternatif, salah satunya adalah daun dan biji akasia berduri.

Halaman berikutnya: Di sinilah lingkaran setannya...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR