Rabu, 30 September 2020
News & Nature

Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

Senin, 15 Juni 2020

Air meteorik yang jatuh di seputaran gunung, diresapkan oleh akar pohon di dalam hutan yang terjaga, lalu keluar dengan teratur di mata air.

8f488812-48a9-4df3-98c6-f909e64326d3.jpg
T. Bachtiar

Pekan ini, kabaralam.com menyajikan rangkaian catatan perjalanan Gunung Salak dalam tiga artikel feature dari redaktur senior kabaralam.com T. Bachtiar, yang juga pemandu geowisata (PAR. 103003436.2019). Tulisan ini merupakan bagian pertama dari tiga tulisan untuk mengantar aktivitas wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan mendukung upaya konservasi. Selamat menikmati.

 

MENDAKI ke Gunung Salak seperti memasuki gedung konser dalam keheningan semesta. Pertunjukan musik keabadian yang tiada henti mengiringi derap langkah para kelana. Pucuk pepohonan yang tertiup angin, cuitan beragam suara burung, derit serangga, dan irama derasnya air di anak sungai yang menuruni lereng.

Jejak langkah di atas tanah dan serasah, suara kerikil yang bergeser, atau kecipak air yang terinjak di jalan setapak, melebur dalam irama kesunyian hutan. 

Inilah gunung yang oleh para penjelajah abad ke-19 awal disebut gunung biru, untuk menyebut tiga gunung berwarna biru yang terlihat jelas pagi hari dari Batavia, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango. 

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Situgunung Destinasi Wisata Favorit di Jawa Barat

_______________________________________________________________________

Dilihat dari Bogor, Gunung Salak terkesan sangat besar. Ke mana pun pergi, seolah gunung ini mengikuti, sehingga selalu terlihat dengan jelas. Banyak sekali orang yang terobsesi oleh gunung ini, satu di antaranya adalah Daendels, yang menginginkan foto resmi dirinya dengan latar Gunung Salak.

Dalam segel Kota Bogor zaman kolonial pun terdapat gambar Gunung Salak dengan tiga kerucut utama. Demikian juga dalam lambang Kota Bogor pascakemerdekaan, Gunung Salak digambarkan dengan empat kerucut. 

Untuk ukuran sekarang, jarak antara Jakarta dengan Gunung Salak itu terhitung cukup dekat, hanya sekitar 60 km. Ketika jalan yang menghubungkan Batavia dengan daerah-daerah di pedalaman belum dibangun, jarak itu, apalagi keadaan alam saat itu masih ada yang berupa hutan belantara, pastilah akan terasa sangat jauh. 

Karena Bogor menjadi pusat kerajaan pada masa lalu, dan Gunung Salak begitu jelas terlihat wujudnya, maka dapat diduga, nama geografi salak itu diberikan oleh orang Bogor. Dari kota hujan inilah geomorfologi puncak gunungapi aktif tipe A yang tingginya 2.211 m dpl nampak jelas seperti empat buah salak yang berjajar.

Bentuk geomorfologi puncak yang seperti empat buah salak inilah yang telah menginspirasi orang Bogor dan sekitarnya pada masa lalu untuk memberi nama gunung itu sebagai Gunung Salak.

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Hijau yang Sedikit Berbeda di Danau Kelimutu

_______________________________________________________________________

Letusan Gunung Salak 37.500 tahun yang lalu telah meruntuhkan sebagian dinding tubuhnya, membentuk rona bumi seperti tapal kuda. Di dasarnya terdapat Kawah Ratu, dengan asap belerang yang terus mengepul tiada henti.

Di dasar kawah terdapat bualan-bualan lumpur belerang panas. Magma di dalam perut gunung ini terus memanasi tubuh gunung terus-menerus, dikukus tak mengenal jeda, sehingga bebatuannya menjadi terubah.

Pengukusan tubuh gunung semakin sempurna dengan melimpah-ruahnya air. Di dasar Kawah Ratu terdapat aliran Ci Kaluwung, ci bermakna air atau sungai, dan kaluwung kependekan dari kawah luwung. Luwung berarti sepi, kosong, atau hampa. Ci Kaluwung, bermakna sungai yang mengalir di dasar kawah yang sepi, kosong, atau hampa. 

Air sangat berlimpah di Gunung Salak. Sepanjang perjalanan menuju Kawah Ratu, tak henti mendengar suara air yang menurun deras. Air meteorik yang jatuh di seputaran gunung, diresapkan oleh akar pohon di dalam hutan yang terjaga, lalu keluar dengan teratur di mata air.

Di sekeliling Gunung Salak terdapat tujuh sub Daerah Aliran Sungai (DAS). Enam Sub DAS Ci Sadané, yaitu: sub DAS Ci Jeruk, sub DAS Ci Kaluwung, sub DAS Gunungmalang, sub DAS Gunungpicung, sub DAS Tamansari, dan sub DAS Tapos, dan satu sub DAS Cicatih, yaitu sub DAS Cicurug.

(bersambung: Gunung Salak dalam Cerita Pantun)*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR