Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Gunung Salak Dalam Catatan Pantun Kebumian

Rabu, 17 Juni 2020

Peristiwa alam berupa gempa bumi dan tanah longsor pun tidak luput dari pengamatan, kemudian diceritakan kembali dalam bentuk carita pantun

cov2muat.jpg
T Bachtiar

Pekan ini, kabaralam.com menyajikan rangkaian catatan perjalanan Gunung Salak dalam tiga artikel feature dari redaktur senior kabaralam.com T. Bachtiar, yang juga pemandu geowisata (PAR. 103003436.2019). Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tiga tulisan untuk mengantar aktivitas wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan mendukung upaya konservasi. Selamat menikmati.

 

ANAK-anak sungainya menuruni lereng di lembah-lembah yang curam dan dalam. Jumlah air permukaan dan air tanah di tubuh gunung yang melimpah, telah menyempurnakan sebab-sebab terjadinya guguran puing, longsor gunung api, atau debris avalanche, seperti yang terjadi pada tahun 1699.

Setelah kawasan Bogor termasuk Gunung Salak diguncang gempa bumi berkekuatan sangat besar, lereng sisi utara gunung ini termemarkan, kemudian memicu longsor gunung api yang sangat besar, membentuk lembah raksasa seluasnya 4,75 km2.

___________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

___________________________________________________________

Gunung Salak merupakan salah satu gunungapi strato aktif tipe A yang berada di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, yang meletus pada tahun 1780, 1902, 1919, 1935, dan 1938. Pentarikhan yang dilakukan oleh Christopher J Harpel (2015), menunjukkan bahwa Gunung Salak pernah meletus besar secara eksplosif sekitar 37.500 tahun yang lalu, membentuk Kawah Ratu.

Harpel pun mentarih batang-batang kayu yang tertimbun oleh endapan longsor gunungapi, hasilnya menyimpulkan bahwa batang pohon itu tertimbun sejak tahun 1699. 

Gempa besar yang memicu longsor gunungapi, pernah terjadi di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 10 November 2002. Gempa itu telah memicu longsor di bagian dinding luar Kawah Nangklak, kemudian membendung hulu Ci Beureumgede.

Curah hujan yang lebat telah menambah beban yang sangat besar, sehingga bendungan alami itu bobol petang harinya, yang menggerus ladang, jembatan, pemukiman, dan menimbun jalan yang menghubungkan Kota Garut dengan Cikajang sepanjang 2 km.

Setelah gempa terjadi, disusul dengan letusan Gunung Papandayan pada tanggal 11 November 2002, yang mencapai puncaknya pada tanggal 20 November 2002. 

"Urug"

Peristiwa kebumian yang besar, seperti letusan gunung api dan longsor, banyak yang dikisahkan warga setempat dalam berbagai catatan, seperti catatan tentang letusan Gunung Krakatau 1883, letusan Gunung Samalas 1257, dan letusan Gunung Tambora 1815.

___________________________________________________________

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

___________________________________________________________

Peristiwa alam berupa gempa bumi dan tanah longsor pun tidak luput dari pengamatan, kemudian diceritakan kembali dalam bentuk carita pantun, yaitu cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan, bahkan dinyanyikan. Dalam pantun Bogor pun diceritakan tentang gempabumi yang terjadi sangat besar. 

Inotji Hajatullah (almarhum) menuliskan penggalan pantun itu dalam tulisannya di majalah berbahasa Sunda Balébat nomor 15 tahun 2010.

Pada halaman 33 dikutip penggalan pantun Disaeurna Talaga Rancamaya: “Baheula mah Gunung Salak tara eureun ngelun bae di puncakna. Tapi harita mah, laju bae ngadadak eureun ngebulna. Kawahna ngadadak ngaguruh mani eundeur, lamping-lampingna loba nu arurug. Ti suku gunung terus ka jauh, taneuh ngariyeg deui ngariyeg deui. Ngariyegna, ngariyegna lila. Jagad sakalereun Gunung Salak dioyag-oyag lini gede nu terus noron ririntakan”. 

Bila diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, “Diurugnya Talaga Rancamaya”. Zaman dulu, Gunung Salak tidak pernah berhenti mengeluarkan asap dari puncaknya. Tapi, pada waktu itu, bubungan asap mendadak berhenti. Kawahnya bergemuruh sampai bergetar. Lereng-lereng gunung banyak yang urug (longsor).

Dari kaki gunung sampai jauh, tanah bergoyang lagi dan bergoyang lagi. Bergoyangnya, bergoyangnya lama. Begitu pun kawasan di utara Gunung Salak digoyang-goyang gempa besar terus beruntun.

Kapankah peristiwa gempa bumi dan banjir bebatuan (longsor gunung api) yang diceritakan dalam pantun Disaeurna Talaga Rancamaya itu? Sangat mungkin peristiwa itu terjadi pada tahun tahun 1699. B

Cerita tentang gempabumi dan banjir bebatuan dilaporkan dalam Nederlandsch-Indisch Plakaatboek, 1602-1811 (Mr JA Van Der Chijs, 1886), seperti yang dikutip oleh Saleh Danasasmita (1983), “Dataran tinggi antara Batavia dengan Ci Sadane, di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan, yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pepohonan sama sekali.

Permukaan tanah tertutup oleh tanah liat merah yang halus, seperti yang biasa digunakan tukang tembok. Di beberapa tempat telah mengeras, sehingga dapat menahan beban langkah yang berjalan di atasnya. Tetapi pada tempat-tempat lain, orang dapat terbenam sedalam satu kaki.

Di tempat bekas keraton yang disebut Pakuan, yang terletak di antara Batavia dan Ci Sadane, belum pernah terjadi bencana lain yang menyebabkan tanah tersobek dan pecah terbelah-belah menjadi retakan-retakan besar yang lebih dari satu kaki lebarnya”.*

Bersambung: Ambruk Akibat Gempa



BAGIKAN

BERI KOMENTAR