Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Gunung Guntur dan Tabiat Polikonida

Senin, 28 September 2020

Perlu terus dilakukan penelitian agar dapat menjawab apakah ada pergeseran titik letusan bila gunung ini meletus di kemudian hari.

69e15b8f-3323-4a7d-a0c9-0af70c210fc7.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)


 

BEGITU memasuki Tarogong, Kabupaten Garut, Gunung Guntur terlihat begitu jelas. Lerengnya masih gersang warna emas kecoklatan. Aliran lava yang meleler pada letusan besar pada tahun 1840, berhenti persis di atas Cipanas, bentuknya menyerupai sepatu but raksasa sepanjang 2,75 km.

Sebelumnya, 16 kali letusan Gunung Guntur telah melelerkan lava yang saling menindih. Leleran lava terakhir terlihat seperti sungai kering. Ketika leleran lava itu terkena udara, maka bagian luar lava itu segera kering membatu, sementara bagian dalamnya masih tetap cair, meleler menuruni lereng dengan suhunya yang tinggi.

Ketika pasokan magma dari dalam kekuatannya melemah, tersumbat, sebut saja habis, maka akan membentuk lorong panjang yang menurun. Terowongan lava atau goa lava. Karena atap terowongan lava itu tidak mampu lagi menyangga beban, maka atapnya ambruk, membentuk seperti sungai kering.

Hujan yang turun meresap jauh ke dalam tubuh gunung, lalu direbus dengan tungku alam raksasa Gunung Guntur, menjadi air panas yang keluar di Ciengang, Cipanas. Mata air panas ini dimanfaatkan untuk balneoterapi, terapi kesehatan di bak-bak pemandian.

Di kaki Gunung Guntur, kolam dan persawahan tak pernah kekurangan air, menjadi jalan keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya. Pohon kelapa berjajar di pematang, tak henti bercermin di kolam yang luas. Inilah sesungguhnya ciri bumi kawasan Tarogong, yang terus memudar berbarengan dengan semakin hilangnya kolam karena diurug untuk permukiman dan penginapan.

____________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Cereme dan Matahari yang Datang Terlambat

____________________________________________________________________________

Tak seperti gunung api lain yang pada umumnya berkerucut tunggal atau monokonida, Gunung Guntur berkerucut banyak atau polikonida, dengan kerucut yang berjajar mulai Gunung Masigit, Gunung Sangiangburuan, Gunung Parupuyan, Gunung Kabuyutan, dan Gunung Guntur. Sangat mungkin, karena gunung ini berkerucut banyak, sehingga bentuknya terlihat sangat besar, maka penduduk Garut menyebutnya Gunung Gedé.

Gunung polikonida ini mencirikan bahwa titik letusannya terus bergeser. Oleh karena itu perlu terus dilakukan penelitian yang seksama agar dapat menjawab apakah ada pergeseran titik letusan bila gunung ini meletus di kemudian hari.

Presisi jawaban sangat penting artinya untuk tujuan mitigasi, karena bila terjadi letusan terarah di bagian tenggara dari kawah saat ini, maka dampaknya akan lebih besar dari yang diperkirakan selama ini, sehingga diperlukan skenario mitigasi jauh sebelum bencana itu terjadi.

Gunung Guntur masa lalu pernah meletus dahsyat dan meluncurkan awan panas, jatuhan abu tebal, pasir, kerikil, bom gunungapi, dan melelerkan lava. Bila aliran bahan letusan gunung api mengendap di tubuh gunung, lalu bercampur dengan air hujan, maka akan menjadi lahar, menjadi adonan yang dapat meluncur di lereng, di lembah, menguruk apa saja yang dilaluinya. Banjir lahar maha dahsyat inilah yang telah mengubah nama Gunung Gede menjadi Gunung Guntur.

____________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gerbang Waktu Toraja Utara

____________________________________________________________________________

Letusan dahsyat manakah yang menyebabkan banjir lahar yang telah mengubur penduduk dan peradabannya? Apakah letusan 110.000 – 80.000 tahun yang lalu dengan banjir lahar yang  sangat luas, ataukah letusan yang pertama kali tercatat, yaitu pada tahun 1690, yang mengakibatkan kerusakan besar dengan jumlah korban yang banyak?   

Lahar yang melanda kaki gunung itu meluncur sejauh 7,5 km dari pusat letusan dengan lebar sampai 3,5 km. Endapkan material jatuhan yang terjadi pada letusan antara tahun 1840-1847 di Cipanas setebal 24 cm, dan di Tarogong 18 cm.

Halaman berikutnya: Guntur, peristiwa banjir lahar...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR