Jumat, 7 Agustus 2020
News & Nature

Gunung Gede dan Wangi Beras Cianjur

Rabu, 24 Juni 2020

Catatan perjalanannya kemudian dihimpun dalam buku 'Rambles in Java and The Straits in 1852'. Bagaimana kesan dia setibanya di Cianjur?

f3b51249-75d5-41ef-91b2-2a7f44249fbe.jpg
T Bachtiar

Pekan ini, kabaralam.com kembali menyajikan catatan perjalanan wisata alam dalam rangka mendorong bangkitnya kembali ekowisata pasca-pandemi yang lebih bernilai edukasi dan mendorong upaya konservasi. Artikel ini merupakan bagian kedua dari catatan perjalanan Gunung Gede dari redaktur senior kabaralam.com, T. Bachtiar diturunkan dalam tiga artikel feature secara bersambung. Selamat menikmati.

 

Hamparan persawahan yang subur dengan air yang selalu mengalir mencukupi kebutuhan pada saat mengelola sawah, telah menginspirasi para petani pada masa lalu untuk terus memuliakan beragam jenis padi yang ada, telah menghasilkan kualitas padi terbaik yang nasinya banyak disukai di Tatar Sunda karena pulen dengan aromanya yang wangi.

Kesuburan lahan persawahan ini merupakan keberkahan alam karena adanya gunung api yang pernah meletus pada masa lalu, yang menyebarkan material gunung api di sekeliling gunung. Lereng gunung yang ditutupi hutan yang lebat, telah meresapkan air hujan ke dalam tubuh gunung, keluar di mata air dengan teratur. 

Jejak letusan Gunung Gede tua atau Gunung Gumuruh membentuk Perbukitan 777. Bukit-bukit kecil yang tubuhnya berupa campuran material letusan gunungapi, mulai dari bebatuan yang berukuran besar sampai pasir dan abu halus yang mengendap di kawasan Cianjur. Membentuk ronabumi kawasan ini menjadi relatif datar, dengan sedikit miring ke timur, ke arah Ci Laku, Ci Kondang, dan Ci Sokan. 

________________________________________________________________________

BACA JUGA (Bagian 1):  Mendaki Lapis demi Lapis Letusan Gunung Gede

________________________________________________________________________

Dalam Peta Geologi Lembar Cianjur yang dipetakan oleh Sujatmiko (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, edisi 2003), terlihat dengan jelas bukit-bukit kecil di timur-tenggara gunung sejauh 17,5 km - 28 km dari arah puncak, yang terhampar di kawasan seluas 13 km x 17 km.

Di sebelah barat mulai dari Sukamaju, Cibulakan, di selatan dan timur melewati Ci Laku, umumnya berakhir di Ci Kondang, walaupun masih ada yang meloncati Sungai Jati. Di utara tersebar sampai Kota Cianjur dan Munjul.

Material longsoran gunung api mahadahsyat yang terjadi lebih dari 43.000 tahun yang lalu itu meluber ke berbagai arah, tersebar sangat luas dan tebal, bukan hanya menyapu wilayah Cianjur saat ini, namun juga mengalir ke arah Sukabumi. Jumlahnya sangat banyak, sehingga meluas ke berbagai arah dengan endapan yang sangat tebal.

Setelah mengalami pelapukan selama pupuhan ribu tahun, material dari letusan Gunung Gumuruh ini kemudian diolah menjadi kebun dan sawah yang subur. Kesuburan tanahnya didukung oleh lingkungan Gunung Gede muda yang terjaga, sehingga pasokan airnya tak pernah kering.

Inilah yang menjadikan Cianjur pada masa lalu sebagai kawasan pertanian, khususnya sawah yang sangat subur dengan air yang berlimpah, telah mengantarkan Cianjur menjadi gudang beras yang sangat terkenal karena jumlahnya yang berlimpah, pulen, dan wangi. Anugerah alam yang subur ini telah meninggalkan jejak sosial yang terpatri dalam kesantunan dan religiusitas yang tinggi dari warganya. 

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

________________________________________________________________________

Keindahan alam Cianjur sebagai ibu Kota Priangan sudah tidak diragukan lagi. Charles Walter Kinloch (1852) menyusuri jalan dari Batavia (Jakarta) – Bandung – Cianjur – Sumedang – Cirebon – terus sampai Semarang. Dari Semarang ia kembali ke Batavia dengan kapal laut.

Catatan perjalanannya kemudian dihimpun dalam buku Rambles in Java and The Straits in 1852. Bagaimana kesan dia setibanya di Cianjur? Walter menulis, “Desa yang cantik, memiliki udara yang bersih dan nyaman.”

Cianjur yang terletak di sebelah timur Gunung Gede ini mempunyai daya pikat tersendiri, sehingga, kota yang berada dalam perlintasan jalan raya pos antara Jakarta - Bogor - Bandung ini pernah menjadi ibu Kota Priangan. Sejak 1856, satu tahun setelah Gunung Gede meletus, Pemerintah saat itu sudah memerintahkan untuk pemindahan ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Namun kepindahannya baru terlaksana mulai tahun 1864. Dalam beberapa sumber dituliskan, bahwa kepindahan itu berbarengan dengan meletusnya Gunung Gede. Tapi, bila mengacu pada buku Data Dasar Gunungapi Indonesia karya K Kusumadinata (1979), pada tahun 1864 tidak terjadi letusan Gunung Gede. Letusan terjadi pada tahun 1853 dan 1866.

Kecantikan Cianjur dan pesona warganya, telah menginspirasi terciptanya lagu Semalam di Cianjur (1963). Lagu inilah yang semakin mengukuhkan keberhasilan Alfian, seorang pemuda kelahiran Binjai, Sumatera Utara, 27 April 1943, menjadi biduan yang sangat populer pada tahun 1960-an. Saat ini, lagu-lagunya menjadi lagu kenangan yang abadi.

Kan kuingat di dalam hatiku

Betapa indah semalam di Cianjur

Janji kasih yang tlah kuucapkan

Penuh kenangan yang takkan terlupakan.

 

Tapi sayang, hanya semalam 

Berat rasa perpisahan

Namun ku telah berjanji

Di suatu waktu kita bertemu lagi.*

 

(BERSAMBUNG: CIANJUR DI UJUNG TANJUNG)



BAGIKAN

BERI KOMENTAR