Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Gunung Cereme dan Matahari yang Datang Terlambat

Selasa, 22 September 2020

Setelah kegiatan vulkanik Gunung Gegerhalang, disusul oleh kegiatan Gunung Cereme, yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang

63ae980c-3899-43f1-835c-8afbfac6e669.jpg
T Bachtiar

 

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com

 


 

Sayup-sayup azan subuh tertiup angin saat menginjakan kaki di puncak Gunung Cereme. Angin bertiup kencang, sekeliling kawah masih gulita. Bulan menyinari langkah kami meniti keterjalan lereng gunung, yang dimulai dari Apuy, Kabupaten Majalengka.

Dalam hening, tiupan angina yang membelai dedaunan, yang diiringi derap sepatu yang kadang menginjak kerikil di tanah kering, serta derak ranting yang terinjak, menjadi musik alam yang indah.

Tirai malam mulai digulung perlahan, bersitan cahaya kuning menggaris di cakrawala. Warna merah kekuningan memulas langit dengan awan-awan yang mengapas halus. Lengkungan bola raksasa matahari mulai menyembul perlahan.

Para pendaki di puncak Gunung Cereme terdiam membisu. Makin lama, bulatan utuh matahari kuning kemerahan terlihat nyata, dengan latar langit keemasan dengan sapuan warna merah jambu, merah bara, nila, dan hitam.

_______________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Trias, Jura dan Kapur usia Granit Belitung

_______________________________________________________________________________________________

Asap belerang mengepul di dasar kawah. Para pendaki yang mencapai bibir kawah, mengibarkan bendera merah-putih lalu bergantian berfoto dengan latar bola raksasa matahari yang merah.

Kawah puncak Gunung Cereme ini dapat dicapai dari dua arah yang paling sering digunkan. Pendakian dari arah timur melalui Linggajati (580 m dpl) di Kabupaten Kuningan, dengan medan yang terjal, pendakian memakan waktu selama delapan jam. Pendakian dari arah Barat melalui Apuy (1.100 m dpl) di Kabupaten Majalengka, seperti yang kami pilih kali ini, dengan medan yang tidak seterjal lintasan dari Linggajati. Pendakian ke puncak memakan waktu selama 7-7,5 jam.

Dari puncak, terlihat jelas ada segitiga bayangan hitam tubuh gunung yang menutupi wilayah yang luas di sebelah barat gunung. Di sana, matahari akan datang terlambat. Gunung api tertinggi di Jawa Barat ini merupakan gunung api aktif tipe A yang soliter, berdiri menyendiri di pantai utara Jawa Barat. Tubuhnya yang besar dan tinggi, menyebabkan gunung ini begitu menonjol terlihat dari berbagai arah.

Tingginya mencapai +3.078 m dpl, secara administrasi berada di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Majalengka, Kuningan, dan Cirebon. Gunung Cereme mempunyai tiga kawah, yaitu: Kawah Barat, Kawah Timur, dan Gua Walet. Gua Walet, menurut Taverne, seperti dikutip oleh K Kusumadinata (1979), merupakan sisa kawah tua yang berukuran 1.300 m x 1.000 m.

_______________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Invasi Akasia Berduri di Sabana Baluran

_______________________________________________________________________________________________

Letusan Gunung Cereme tercatat mulai tahun 1698. Menurut Brascamp, seperti dikutip oleh K. Kusumadina (1979), pada tanggal 3 Februari 1698 terjadi letusan yang menyebabkan lereng gunung roboh, merusak lahan pertanian, dan menelan korban jiwa. Namun, Neumann van Padang meragukan terjadinya letusan Gunung Cereme pada tahun tersebut.  

Letusan berikutnya selama tujuh bulan antara 24 Juni 1937 sampai 7 Januari 1938, terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. K Kusumadinata (1971) kemudian memetakan penyebaran abu letusannya yang menutupi kawasan seluas 52.500 km2.  

Setelah terjadi letusan tahun 1937-1938 sampai tahun 2018, Gunung Cereme sudah 71 tahun beristirahat. Selang waktu antar letusan terpendek selama tiga tahun sudah terlewati, namun belum melampaui waktu istirahat terpanjangnya selama 112 tahun.

Halaman berikutnya: Karakter letusan eksplosif...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR