Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Gunung Batur, Energi Rasa dan Cipta

Rabu, 18 November 2020

Dari Penelokan, terlihat jelas danau bulan sabit Kaldera Batur, bagai cermin raksasa yang memantulkan perilaku manusia akan alam di seputar danau ini

485ffd47-e082-4af8-9aee-887c78c7b88e.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

GERIMIS mulai turun siang itu. Jalanan yang basah dan menanjak, kehijauan kebun kopi, ranumnya buah jeruk yang bergelantungan di pohonnya, adalah pesona yang melelehkan hati. Rumput pakan ternak yang hijau dan tinggi di sepanjang batas kebun, batangnya dipermainkan angin mengikuti irama semesta. Kami sudah sejam lebih meninggal Kota Denpasar, Bali. Langit Bangli nampak kebiruan dengan garis-garis gerimis yang ritmis.

Sebentar lagi akan sampai di Penelokan, tikungan jalan berdinding curam dengan gawir yang dalam. Rasanya tak akan kuasa untuk tidak berhenti dan menikmati bentang alam Kaldera Gunung Batur yang agung dan cantik. Dinding kaldera berlapis dua, danau kebiruan, dan Gunung Batur yang anggun, telah menggerakkan rasa dan cipta. Para wisatawan bersidesak berebut tempat untuk berfoto dengan berbagai gaya, dengan latar bentang alam Gunung Batur, tempat sakral yang penuh pesona.

Dari Penelokan, terlihat jelas danau bulan sabit Kaldera Batur, bagai cermin raksasa yang memantulkan perilaku manusia akan alam di seputar danau ini. Bayangan Gunung Batur dalam danau yang mengarah utara – selatan itu menambah nilai kecantikan kawasan ini semakin bertambah. Dari tempat ini, evolusi Gunung Batur dapat ditelusuri jauh ke belakang ribuan tahun yang silam, sebelum masyarakat Bali lahir di pulau ini.

Gunung Batur yang tumbuh dari dasar danau, membangun dirinya selama puluhan ribu tahun. Cikal-bakalnya adalah Gunung Batur Purba, bangunan alam pertama yang berupa gunung api strato. Gunung raksasa Batur Purba ini meletus dahsyat 29.300 tahun yang lalu. Tekanan gasnya yang maha tinggi, telah melepaskan material letusan lebih dari 84 km3 ke angkasa, lalu turun menutupi permukaan Pulau Bali.


 

BACA JUGA: Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto

 


Letusan ini telah mengambrukkan sebagian tubuhnya sedalam 500 m., membentuk kaldera 1 yang berbentuk lonjong dengan ukuran 13,8x8 km. dengan garis tengah rata-rata 7,5 km. Material letusan berupa ignimbrite, kini sudah terpadatkan menjadi paras, dan oleh masyarakat ditambang untuk berbagai kerajinan dan interior.

Dari dalam Kaldera Gunung Batur 1 ini kemudian tumbuh Gunung Batur Baru, gunung api generasi kedua, serta kerucut-kerucut lainnya yang tumbuh di sisi barat, di dekat gawir kaldera 1, lahir kerucut batuapung Bukit Payang yang kini sudah terpancung. Di sisi tenggara kaldera 1 terdapat Gunung Abang, di sisi timurlautnya ada sumbat lava Gunung Bunbulan.

Halaman berikutnya: Generasi kedua meletus dahsyat...

 

Pada 20.150 tahun yang lalu, Gunung Batur generasi kedua ini meletus dahsyat, mengambrukkan tubuhnya membentuk kaldera 2 dengan diameter 7,5 km. Dinding kaldera bagian tenggaranya hancur, tenggelam dalam Danau Batur, sehingga batas kaldera 2 di bagian ini menjadi tidak terlihat. Namun, dinding kaldera 2 lainnya masih dapat dengan mudah dikenali, terutama bagian baradaya hingga bagian utara.

Dari dalam kaldera 2 ini lahir generasi ketiga, yaitu Gunung Batur paling muda. Kawahnya yang menganga, menunjukkan bahwa gunung ini sudah berkali-kali meletus, menghasilkan 3 kawah utama, yaitu Kawah Batur 1, 2, dan 3, serta kawah lainnya di lereng utara.

Memandangi kecantikan Kaldera Gunung Batur akan berbeda citra yang ditampilkan dan pesannya, sesuai dengan waktu dan keadaan cuaca saat itu. Subuh, ketika matahari masih berada di balik Gunung Rinjani yang membayang, dengan warna ungu kebiruan, lalu berganti jingga, dan ketika pagi menjelang, kehangatan yang tenang, kesegaran alam raya terlihat cerah tertangkap puncak-puncak bukit dan ujung dedaunan.

Pesonanya tak hilang ketika siang. Dan, saat petang menjelang malam, bentang alam Gunung Batur – Gunung Abang – Gunung Agung dengan warna jingga kekuningan, menambah semakin berat untuk meninggalkan tempat ini.


 

BACA JUGA:  Seharusnya ada 'Tipe Letusan Papandayan'

 


Dari Penelokan, perjalanan menuruni dinding kaldera 1 dan 2 sedalam 600 m menuju Kedisan, dengan belokan-belokan yang tajam. Puluhan truk pengangkut pasir meraung di tanjakan, tak pernah berhenti siang-malam selama 24 jam. Di dinding kaldera 1 dan 2 sudah banyak didirikan rumah dan hotel, entah berizin atau tidak.

Lava yang terhampar luas di kaki Gunung Batur, nampak halus dari Penelokan, dari dekat, bentuknya sangat beragam. Gunung ini mulai tercatat letusannya pada tahun 1849, sampai sekarang sudah meletus sebanyak 25 kali.

Sebelas kali letusannya diketahui melelerkan lava basal yang encer dan andesit, yang terjadi pada tahun 1849, 1888, 1904, 1905, 1921, 1926, 1963, 1968, 1974, 1994, dan tahun 2000. Namun, pada letusan Stromboli yang terjadi pada tahun 2004 dari kawah baru di lereng baratdaya, letusan gunung ini tidak melelerkan lava.

Dari ketinggian, terlihat jelas kipuka, bukit kecil yang terisolasi oleh aliran lava Batur tahun 1963. Bukit itu  namanya Sampeanwani. Lavanya mengalir mengelilingi kaki bukit, sampai sekarang masih terlihat hitam dan kasar. Sedangkan bukit Sampeanwani yang terisolasi umurnya pasti lebih tua, dapat dicirikan dengan tumbuhan yang sudah menghijau.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR