Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Gua Semayam Para Leluhur Toraja

Rabu, 29 Juli 2020

Selama belum diadakan rambu solo’, orang itu belumlah dianggap meninggal, tapi masih sebagai orang sakit tak berdaya

8c630900-c5fd-4ff7-b69c-9abbfa83c16e.jpg
T Bachtiar
Abraham sedang memandu wisatawan di dalam gua Londa

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan membantu upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel dari catatan perjalanan Redaktur Senior Kabaralam, T. Bachtiar di Toraja 22-27 Juli 2020. Selamat Menikmati.

_______________________________________________________________________

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 

ABRAHAM Pasasaran (17 tahun), pelajar SMAK Rantepao kelas 3 IPS, sedang memompa lampu petromaks ketika kami sampai di pelataran parkir Goa Londa. Tempat ini berada di Kampung Londa (+830 m dpl), Tongdok Tadongkon, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Seratus meter di utara tempat parkir terdapat bukit batukapur dengan lo’ko, goa-goa alaminya. 

Di sisi timur bukit ini, terdapat dinding yang tegak lurus, di dinding dan kaki goanya terdapat ceruk dan di dalam goanya terdapat liang-liang, lubang-lubang alami, baik yang mendatar maupun yang tegak. Setelah diadakan rambu solo’, upacara kematian, kemudian mayatnya ditempatkan di liang, di banua to membali puang, di rumah para arwah leluhur, di rumah yang tak berasap. 

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Menjelajah Kemegahan Kaldera Toba

_______________________________________________________________________

Dari pelataran goa, dapat dengan jelas menyaksikan jajaran tautau, patung kayu, replika dari tokoh yang dikuburkan. Sekarang tempat tau-tau itu diberi penutup dan berkunci, karena beberapa waktu yang lalu, ada tautau yang hilang dicuri. Penutupnya akan dibuka bila ada wisatawan yang datang. 

Di ceruk yang lebih atas, terdapat erong, peti yang dibuat dari batang kayu yang dilubangi dan berukir, tempat menyimpan kerangka dari satu rumpun keluarga. Erong itu ada yang digantung di langit-langit ceruk, ada yang disimpan di dinding goa dengan disangga oleh beberapa balok kayu, ada juga yang disimpan di ceruk di kaki tebing.

Abraham menjelaskan, setidaknya ada empat bentuk erong. Pertama erong yang berbentuk rumah adat Toraja, menandakan bawah kerangka yang disimpan di dalamnya berasal dari keluarga bangsawan. Kedua erong berbentuk perahu, ketiga erong berbentuk kepala kerbau, menandakan kerangka di dalamnya berjenis kelamin laki-laki, dan keempat erong berbentuk kepala babi, pertanda bahwa kerangka di dalamnya berjenis kelamin perempuan.

Di dalam marga Tolengke’ terdapat pemali untuk membuat atau memahat dinding batu untuk penguburan. Secara alami, di bukit batu kapur itu sudah terdapat lo’ko dan ceruk alami, yang dapat digunakan untuk menyimpan mayat, yang dikelompokan berdasarkan garis keluarga.

Halaman selanjutnya: Lubang yang dipahatkan alam...

 

Lubang-lubang itu sudah dipahatkan oleh alam, hasil dari proses pelarutan batu kapur yang berlangsung jutaan tahun. Karena proses alam, erong dan peti tempat menyimpan kerangka itu menjadi lapuk kemudian hancur. Kerangka yang ada di dalamnya menjadi berhamburan di dasar goa.

Keadaan ini dibiarkan seperti apa adanya, sampai pada upacara ritual ma’nene’, yang bertujuan untuk memperlakukan orang yang sudah meninggal secara terhormat. Baru kemudian kerangka dibereskan kembali, disusun dan ditata di celah-celah liang.

Bila ada anggota keluarga yang meninggal, maka mayatnya akan disemayamkan di tongkonan, di rumah adat, selama 36 malam, atau lebih lama, menunggu kesepakatan keluarga untuk upacara religi rambu solo’. Selama belum diadakan rambu solo’, orang itu belumlah dianggap meninggal, tapi masih sebagai orang sakit tak berdaya.

Ritual rambu solo’ itu untuk menyiapkan orang tua yang sudah meninggal menuju puya, nirwana sejati yang abadi. 

_______________________________________________________________________

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

_______________________________________________________________________

Di salah satu liang di dalam lo’ko Londa, terdapat dua tengkorak yang berdampingan. Menurut keterangan Reny Sarapang (50 tahun), itulah Lobo (pemuda) dan Andui, berusia antara 27-26 tahun, yang saling mencintai dan saling mengikat janji setia, tanpa ketahui bahwa mereka masih ada hubungan persaudaraan yang masih dekat. 

Pernikahan seperti inilah yang tidak diperbolehkan secara adat, sehingga cintanya tidak mendapat restu orang tua. Lobo dan Andui mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri pada tahun 1972. Romeo dan Juliet dari Londa ini berasal dari Kampung Paku, Lembang Sangbua’, Kabupaten Toraja Utara.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR