Minggu, 24 Januari 2021
News & Nature

Gerbang Waktu Toraja Utara

Senin, 3 Agustus 2020

Di bawah rindang pohon dan rumpun bambu, terdapat beberapa gugus liang paa’ yang dipahat di batu-batu raksasa

a5a3bb02-98f4-4e82-be1e-c91248185bd8.jpg
T Bachtiar

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai edukasi dan membantu upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel dari catatan perjalanan Redaktur Senior Kabaralam, T. Bachtiar di Toraja 22-27 Juli 2020. Selamat Menikmati.

_______________________________________________________________________

 

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 

BATU tegak itu terlihat berbeda di antara jajaran simbuangbatu atau menhir di Rante Bori’ Kalimbuang, Desa Bori’, Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, karena di bagian atasnya masih ada kain merah yang diikatankan.

Markus Sobon (39 tahun), honorer di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara yang ditugaskan di Bori’ Kalimbuang, sekaligus menjadi pemandu wisata di sana, menjelaskan, bahwa simbuangbatu yang masih berikat itu didirikan pada September 2018 untuk Ne’ Bamba. 

Simbuangbatu didirikan sebagai lambang bagi orang yang sudah meninggal, dan menjadi monumen agar generasi penerusnya tetap tersambung, menghormati, dan melanjutkan apa yang sudah menjadi ketentuan para leluhur. Bentuknya persegi panjang atau membulat panjang dan meruncing di atasnya, dan ditegakan di rante, tempat khusus upacara kematian dari satu marga. 

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gua Semayam Para Leluhur Toraja
_________________________________________________________________________

Dalam permukiman masyarakat Toraja, ada tiga komponen yang sangat penting keberadaanya, yaitu rante (tempat upacara), liang (tempat persemayaman arwah leluhur), dan tongkonan (rumah adat). Rante Bori’ Kalimbuang, mulai digunakan tahun 1617 oleh Ne’ Ramba’. Di rante ini dilaksanakan upacara kematian rapasan bagi delapan tongkonan yang tersebar di sekitarnya.

Tongkonan tertua adalah Tongkonan Lumika yang berada di sisi barat laut rante, memiliki luas 736 m2. Terdapat delapan keluarga besar yang boleh melakukan upacara rambusolo’ di sini, yaitu keluarga dari Tongkonan Papakayu, Lumika, Ne’ Lame, Lolokbatu, Potoksia, Ne' Mambela, Ne' Lunak, dan Ne' Ramba.

Mendirikan simbuangbatu masih terus dilaksanakan sampai saat ini, sebagai ajaran yang dianut untuk menghormati arwah para leluhur. Keterangan yang terdapat di papan informasi di lokasi Bori’ Kalimbuang dijelaskan, bahwa di situs ini terdapat 102 simbuangbatu, yang berdiri tegak sebagai penanda dari setiap upacara pemakaman yang diadakan di areal rante.

Meskipun ukurannya berbeda-beda, simbuangbatu memiliki nilai adat yang sama. Simbuangbatu ditegakan apabila ada seorang pemuka masyarakat yang meninggal dan diupacarakan secara adat dalam tingkatan rapasan sapurandanan, dengan kerbau yang dipotong 24 ekor atau lebih.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: "Gelenggeng" Gunung Galunggung
_________________________________________________________________________

Markus Sobon menunjukkan simbuangbatu yang tingginya 12 m dari permukaan tanah ke atas, ditambah 1,5 m yang ditanam ke dalam tanah, agar menhir tetap tegak, karena menhir itu menjadi tempat untuk mengikatkan kerbau dalam rangkaian upacara rambusolo’.  

Salam Taunbaru, SE, MM (40 tahun), Kepala Bidang Tatakelola dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, menjelaskan, bahwa mendirikan simbuangbatu merupakan bagian dari rangkaian upacara rambusolo'. Rangkaian itu dimulai dengan mendirikan simbuangbatu, baru melaksanakan rambusolo'.

Halaman selanjutnya: Menhir dari lava pejal...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR