Jumat, 23 Juli 2021
News & Nature

"Gelenggeng" Gunung Galunggung

Rabu, 15 Juli 2020

Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman

d355f7d1-0c2e-4868-aefd-522e9a0fd3c4.jpg
T Bachtiar

Dalam mendukung pengembangan ekowisata yang bernilai edukasi dan mendorong upaya konservasi, pekan ini, kabaralam.com menyajikan serial artikel perjalanan Gunung Galunggung. Artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan. 

_____________________________________________________________

 

Oleh T Bachtiar

 

KAWAH aktif Gunung Galunggung pascaletusan 1982-1983 itu berada di dalam Kaldera Galunggung, bentuk melingkar, garis tengahnya sekitar 1.000 m dengan kedalaman 150 m. Kerucut sinder terbentuk pada tahap akhir letusan 1982-1983.

Dari dinding Kaldera Galunggung air terjun mengalir ke dalam kawah bersama lumpur, pasir, kerikil, dan material letusan lainnya. Karena tidak ada saluran alami yang mengalirkan air ke luar kawah, terbentuk danau kawah yang mengelilingi kerucut cinder.

Kini sudah dibuat terowongan untuk mengalirkan air dari danau kawah. Sering terjadi longsor di dinding kaldera Gunung Galunggung, materialnya terbawa aliran air ke danau kawah, sehingga di salah satu sisinya terjadi pendangkalan, menyambungkan pinggir danau dengan kerucut sinder. 

Letusan Gunung Galunggung yang tercatat dalam sejarah, yaitu letusan tahun 1822, 1894, 1918 dan 1982-1983. Letusan Gunung Galunggung tanggal 8 Oktober 1822, meluncurkan awan panas sejauh lebih dari 10 km, sehingga merenggut nyawa 4.011 jiwa. Tanggal letusan ini didasarkan pada laporan Reindwart, seperti ditulis oleh K Kusumadinata (Bandung: 1979). 

Nama Galunggung

Banyak hal yang tidak kita ketahui bagaimana dahsyatnya bencana gunung api yang terjadi di sekitar kita, seperti letusan prasejarah Gunung Galunggung. Nama Galunggung, misalnya.

Sebagai nama mandala, sudah dicatat dalam Carita Parahiyangan: “…Dalam perkawinannya, Dewi Candrarasmi dengan Sang Wretikandayun, beranak laki-laki 3 orang, masing-masing namanya adalah: Pertama Sang Jatmika atau Rahyangta Sempakwaja namanya. Ia diangkat sebagai resi guru di wilayah Galunggung. …” (Carita Parahiyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan, Prathama Sargah, diterjemahkan oleh Drs. Atja dan Dr. Edi S. Ekadjati, Jakarta: 1998).

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Sembilan Bulan Letusan Galunggung

_________________________________________________________________________

Berdasarkan Carita Parahiyangan, Kerajaan Galuh berdiri tahun 570/571 M. Rajanya adalah Sang Wretikandayun dengan gelar penobatan Maharaja Suradharmma Jayaprakosa. Ia menikah dengan Pwahaci Bungatak Mangalengale, yang ketika masa  kanak-kanak sampai remaja namanya Manawati.

Setelah menjadi Ratu, Sang Wretikandayun mengganti nama istrinya menjadi Dewi Candrarasmi. Pasangan Raja dan Ratu Galuh ini dikaruniai 3 orang putera, salah-satunya adalah guru resi Sempakwaja yang dinobatkan di Galunggung.

Rahiyangta Sempakwaja menikah dengan Pwahaci Rababu atau Dewi Wulansari. Mereka dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yaitu Rahiyangta Purbasura, lahir tahun 643/644 M., dan Rahiyangta Demunawan, lahir tahun 646/647 M.

Dalam Carita Parahiyangan (Koropak 406), seperti dikutip oleh Saleh Danasasmita (1975), kawasan Mandala Galunggung itu batas-batasnya adalah: Sebelah utara dibatasi Gunung Sawal, sebelah timur dibatasi Pelangdatar, sebelah barat dibatasi Ci Wulan, (dan sebelah selatan, walaupun tidak tertulis, pastilah Samudra Hindia). Saat ini kawasan itu meliputi Tasikmalaya, Ciamis, dan bagian barat Banyumas.

Halaman selanjutnya: Galunggung sebagai mandala...

 

Galunggung sebagai mandala, termuat juga dalam naskah nasihat panjang Rakeyan Darmasiksa kepada keturunannya dan masyarakat pada umumnya. Naskah itu berasal dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut. Sekarang naskah ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan kode nomor Koropak 632. Oleh Drs. Saleh Danasasmita, naskah ini diberi judul Amanat dari Galunggung.

“Peliharalah (agar tetap) ditaati oleh orang banyak, agar aman tenteram, menghimpun bahan makanan, sang disi unggul perangnya. Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya (panjang umur), sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama, warisan dari para suwargi.” (Saleh Danasasmita, dkk., Amanat Galunggung, Bandung: 1987).

Bujangga Manik, putra mahkota kerajaan Sunda yang mengadakan perjalanan suci untuk berguru kepada tokoh agama sepanjang Pulau Jawa dan Bali seorang diri, tidak melewatkan untuk berguru di Galunggung. Bujangga Manik menulis, 

“….

Saunggalah telah kujelajah,

Gunung Galunggung ku lewati,

Melewati Padabeunghar,

Pamipiran telah lampau.

….”

(J. Noorduyn dan A Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya)

 

Kata Galunggung sebagai mandala juga terdapat dalam catatan yang lebih muda lagi, yaitu dalam Babad Sajarah Galuh Bareng Galunggung. Dalam babad ini ditulis, bahwa mandala Galunggung dipimpin oleh Syekh Batara Galunggung atau Syekh Batara Guru Haji. (Edi S. Ekadjati, dkk., Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Jakarta: 1985).

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Ujung Tanjung Gunung Gede

_________________________________________________________________________

Warga Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya adalah masyarakat yang bermukin di tebing dengan ramah lingkungan. Warga Sanaga adalah seuweu-siwi Eyang Singaparana. Oleh karena itu bagi mereka terasa tidak sopan, bila menyebut nama tempat yang hampir sama dengan nama leluhurnya.

Warga Sanaga tak kuasa menyebut nama tempat Singaparna, sehingga mereka menggantinya dengan kata Galunggung. Jadi kalau ada warga kampung Naga yang menyebut akan pergi ke Galunggung, sangat mungkin mereka akan pergi ke Singaparna, bukan akan mendaki ke Gunung Galunggung, kecuali memang saat akan mendaki gunung itu. 

Dalam kosa kata bahasa Sunda, terdapat kata gelenggeng, yang berarti air yang keluar dari pancuran, misalnya, dengan ukuran yang besar. Gegelenggengan artinya orang yang muntah beberapa kali, dengan jumlah yang banyak. Galunggung, ada yang menafsirkan suara yang keras, namun saya menafsirkan galunggung itu menggambarkan muntahan material gunung api yang maha dahsyat.*

Bersambung: Sepuluhribu Bukit, Jangan Lagi Dikurangi!



BAGIKAN

BERI KOMENTAR