Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Dieng, Pesona dan Peringatan Abadi

Selasa, 22 Desember 2020

Di tengah-tengah ladang kentang, terdapat kuburan masal dengan tugu dari semen berbetuk tangan yang memegang kartu

b0b27692-1cb9-4e97-9680-01ba1ef99ae7.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)


 

Seperti berwisata di kawah gunung api lainnya, berwisata di Dataran Dieng pun harus waspada bila mengunjungi kawah-kawah yang masih aktif. Senantiasa harus mencari informasi dari lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan penuh dalam pemantauan kawah-kawah di Dieng.

Di kompleks gunungapi Dieng terdapat tujuh kawah, yaitu: Kawah Timbang, Sikidang, Upas, Sileri, Candradimuka, Sibanteng, dan Telaga Terus. Dinamika gunung apinya kadang mengejutkan. Dalam keterangan dan keberkahan alam yang dilimpahkan, telah mengejutkan warga Dieng, dengan letusan dan hembusan gas yang sangat beracun yang dapat merenggut nyawa.

Gas CO2 itu tidak berwarna, tidak berbau, serta lebih berat dari udara, sehingga ketika cuaca berkabut, atau subuh dan malam hari, konsentrasi gas CO2-nya menjadi lebih pekat, mengambang menyapu lembah. Ambang batas normal gas CO2 bagi kesehatan sebesar 0,5%.

Dengan konsentrasi 3% volume, gas ini sangat berbahaya bila terjadi kontak langsung, karena manusia hanya dapat bertahan selama 15 menit. Pada konsentrasi 4% volume, manusia dapat bertahan kurang dari 10 menit, kemudian pingsan, dan dapat menyebabkan kematian. Kematian seketika akan terjadi bila ada kontak langsung dengan gas ini dengan konsentrasi 30% volume atau lebih.


 

BACA JUGA: Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

 


Masih segar dalam ingatan, hari selasa, 20 Februari 1979 pukul 01.55, gempa bumi mengguncang kawasan ini. Bau belerang menyengat kuat. Udara di luar rumah lain dari biasanya, yaitu suhu di tengah malam itu terasa panas. Dari Kawah Sinila terdengar ledakkan keras dan kobaran api. Menjelang subuh, asap putih meniang ke langit, disusul dengan hujan abu.

Letusan gunung yang tak jauh dari perkampungan itu telah memaksa warga untuk segera meninggalkan rumahnya. Selang sejam, terdengar letusan keras disertai gemuruh dengan asap yang menembus udara subuh yang dingin. Bumi Dieng berguncang kembali dengan gemuruh yang disertai semburan lumpur.

Suara dentuman di Kawah Sinila memicu naiknya gas CO2 yang meluncur ke lembah yang sedang dilintasi warga yang akan mengungsi. Menjelang pagi, nahas bagi 149 orang yang berlari untuk menyelematkan diri, mereka menemui ajalnya, mati lemas karena menghisap gas beracun yang konsentrasi gas CO2-nya mencapai 97,5% atau 40 kali batas aman.

Mayat bergelimpangan di tepi jalan setapak menuju bukit. Sekitar 400 orang lainnya yang mengungsi melalui bukit selamat sampai di tempat aman. Inilah “Peristiwa Sinila” yang memilukan sekaligus pelajaran.

Halaman berikutnya: Tugu dan kuburan masal...

 

Tak jauh dari Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, di tengah-tengah ladang kentang, terdapat kuburan masal dengan tugu dari semen berbetuk tangan yang memegang kartu, menyimbolkan “stop perjudian”. Tugu ini dibuat sebagai peringatan bagi warga desa atas petaka menjelang pagi tahun 1979.

Masyarakat percaya, peristiwa alam yang mematikan itu di dalamnya terdapat sumbangan dari perbuatan warga Dieng yang bertentangan dengan norma, seperti berjudi, yang merajalela pada tahun 1979. Perbuatan itulah yang dipandang telah mendatangkan musibah yang menyebabkan ratusan warga menjadi korban gas karbon dioksida atau CO2 yang tak berbau dan tak berwarna itu.  

Karena sudah sangat banyak warga yang tinggal di Dataran Tinggi Dieng, maka ancaman terbesar datang dari gas gunung apinya. Pada masa lalu, faktor bencana alam telah menyebabkan Dataran Tinggi Dieng pernah ditinggalkan dan dilupakan masyarakatnya. Baru pada awal abad ke 19, candi-candi di kawasan ini diungkap kembali, dan penduduk mulai berdatangan dengan tujuan yang berbeda. Kini, mereka datang untuk memanfaatkan kawasan Dieng sebagai areal pertanian dan wisata.


 

BACA JUGA: Di atas Mega-mega Dieng

 


Pipa-pipa uap panas bumi malang-melintang di antara kebun kentang dan jalan. Itulah pipa-pipa yang menyalurkan panas bumi ke rumah pembangkit yang akan diproses sampai menghasilkan energi. Di kedalaman perut bumi Dieng, tersimpan energi panas bumi, yang saat ini telah menghasilkan listrik sebesar 60 MWe. Namun sayang, potensinya yang besar baru dimanfaatkan seperempatnya.

Panas bumi merupakan sumber energi yang ramah lingkungan dan berpotensi besar untuk dikembangkan. 40% dari cadangan potensi panas bumi Dunia berada di Indonesia. Namun, sayangnya, baru 4%-nya saja yang telah dimanfaatkan. Sumber energi panas bumi termasuk terbarukan selama lingkungannya lestari. Apabila dibandingkan dengan sumber energi fosil, panas bumi itu sangat menjanjikan.

Dieng tidak hanya mempunyai kentang, namun juga Dataran Tinggi Dieng ini sudah identik dengan purwaceng tumbuhan yang konon berkhasiat meningkatkan kadar hormon testosteron dan libido. Oleh-oleh khas lainnya adalah manisan carica, yang katanya belum ke Dieng kalau belum merasakannya.

Waktu terasa cepat berlalu. Rasanya kami enggan meninggalkan gelora letupan lumpur belerang di Kawah Sikidang, yang kawahnya terus berpindah-pindah, meloncat dari satu tempat ke tempat lainnya, laksana kijang-kijang yang berlarian. Mentari sudah menghilang di balik rangkaian gunung, ketika kami masih terpesona kabut. Selalu saja ada yang belum kami kunjungi, selalu ada kerinduan untuk kembali, kembali ke keabadian pesona Dieng.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR