Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Dieng, Pesona dan Peringatan Abadi

Selasa, 22 Desember 2020

Di tengah-tengah ladang kentang, terdapat kuburan masal dengan tugu dari semen berbetuk tangan yang memegang kartu

b0b27692-1cb9-4e97-9680-01ba1ef99ae7.jpg
T Bachtiar

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)


 

Seperti berwisata di kawah gunung api lainnya, berwisata di Dataran Dieng pun harus waspada bila mengunjungi kawah-kawah yang masih aktif. Senantiasa harus mencari informasi dari lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan penuh dalam pemantauan kawah-kawah di Dieng.

Di kompleks gunungapi Dieng terdapat tujuh kawah, yaitu: Kawah Timbang, Sikidang, Upas, Sileri, Candradimuka, Sibanteng, dan Telaga Terus. Dinamika gunung apinya kadang mengejutkan. Dalam keterangan dan keberkahan alam yang dilimpahkan, telah mengejutkan warga Dieng, dengan letusan dan hembusan gas yang sangat beracun yang dapat merenggut nyawa.

Gas CO2 itu tidak berwarna, tidak berbau, serta lebih berat dari udara, sehingga ketika cuaca berkabut, atau subuh dan malam hari, konsentrasi gas CO2-nya menjadi lebih pekat, mengambang menyapu lembah. Ambang batas normal gas CO2 bagi kesehatan sebesar 0,5%.

Dengan konsentrasi 3% volume, gas ini sangat berbahaya bila terjadi kontak langsung, karena manusia hanya dapat bertahan selama 15 menit. Pada konsentrasi 4% volume, manusia dapat bertahan kurang dari 10 menit, kemudian pingsan, dan dapat menyebabkan kematian. Kematian seketika akan terjadi bila ada kontak langsung dengan gas ini dengan konsentrasi 30% volume atau lebih.


 

BACA JUGA: Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

 


Masih segar dalam ingatan, hari selasa, 20 Februari 1979 pukul 01.55, gempa bumi mengguncang kawasan ini. Bau belerang menyengat kuat. Udara di luar rumah lain dari biasanya, yaitu suhu di tengah malam itu terasa panas. Dari Kawah Sinila terdengar ledakkan keras dan kobaran api. Menjelang subuh, asap putih meniang ke langit, disusul dengan hujan abu.

Letusan gunung yang tak jauh dari perkampungan itu telah memaksa warga untuk segera meninggalkan rumahnya. Selang sejam, terdengar letusan keras disertai gemuruh dengan asap yang menembus udara subuh yang dingin. Bumi Dieng berguncang kembali dengan gemuruh yang disertai semburan lumpur.

Suara dentuman di Kawah Sinila memicu naiknya gas CO2 yang meluncur ke lembah yang sedang dilintasi warga yang akan mengungsi. Menjelang pagi, nahas bagi 149 orang yang berlari untuk menyelematkan diri, mereka menemui ajalnya, mati lemas karena menghisap gas beracun yang konsentrasi gas CO2-nya mencapai 97,5% atau 40 kali batas aman.

Mayat bergelimpangan di tepi jalan setapak menuju bukit. Sekitar 400 orang lainnya yang mengungsi melalui bukit selamat sampai di tempat aman. Inilah “Peristiwa Sinila” yang memilukan sekaligus pelajaran.

Halaman berikutnya: Tugu dan kuburan masal...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR