Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Di Ujungkulon, Bos Javanicus Merumput

Rabu, 1 Juli 2020

Di tengah hutan hujan tropis, belajar ilmu hayati menjadi sangat menarik. Di dalam kelas, hutan hujan tropis dan isinya ditayangkan dalam foto-foto

0dba1399-a02c-4c4d-bab0-4eefc47831e8.jpg
T Bachtiar

Pada tatanan normal baru, wisata alam menjadi salah satu aktivitas yang paling diminati. Dalam upaya turut mendorong kegiatan ini lebih bernilai edukasi dan meningkatkan upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan ke taman nasional Ujungkulon yang ditulis editor senior T. Bachtiar. Artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga tulisan. 

 

TIBA-TIBA suara-suara binatang bersahutan, kadang terdengar keras sekali. Mungkin saling mengabarkan, peringatan kewaspadaan pada seisi hutan, bahwa ada mahluk luar yang sedang berada di wilayahnya.

Mahluk luar itu adalah kami yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutanhujan tropis. Kerimbunan hutan yang rapat, mampu meredam terik matahari, sehingga layaknya ac, pendingin udara raksasa yang menyejukkan seluruh kawasan.

__________________________________________________________________________

BACA JUGA: Ujungkulon dalam Kemeriahan Ekosistem

___________________________________________________________________________

Pulau Peucang merupakan bagian dari Taman Nasional yang dapat dimanfaatkan secara terbatas. Bagi yang menyukai kedamaian hutan, menyukai fotografi, dan berjalan kaki, dapat melintasi jalan setapak dari wisma menembus hutan hujan tropis yang indah menuju Karangcopong sejauh 2,5 km. Di pantai ini pengunjung dapat menanti matahari terbenam sambil memotret bentang alam yang tak akan pernah puas untuk terus diabadikan.

Di jalan sekitar setapak yang dilalui, bekas serudukan babi di tantai hutan, tampak seperti kebun yang baru dicangkul. Rusa berkeliaran dengan nyaman di kedamaian hutan. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi dengan akar yang menjuntai menancap di tanah.

Pohon-pohon raksasa dengan banir (canir) yang lebar dan tinggi, menjadi tempat yang menarik untuk berfoto. Pada abad ke 19 awal, khususnya di Bandung, roda pedati dibuat dari banir pohon yang sangat lebar, sehingga roda pedati saat itu bentuknya lingkaran penuh dan tidak ada sambungan. 

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Membangkit Pohon Andalas yang "Terendam"

___________________________________________________________________________

Di tengah hutan hujan tropis, belajar ilmu-ilmu hayati menjadi sangat menarik. Di dalam kelas, hutan hujan tropis beserta isinya hanya ditayangkan dalam foto-foto. Di sini, segalanya tersaji dengan sangat indah dan nyata.

Akar pencekik melilit hingga pohon utamanya mati, akar-akar pohon raksasa yang menjuntai, kemudian mencap ke dalaman tanah, menjadi instalasi rimba raya, dan akan menyesal bila tidak diabadikan.

Halaman selanjutnya...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR