Senin, 19 April 2021
News & Nature

Di Ujungkulon, Bos Javanicus Merumput

Rabu, 1 Juli 2020

Di tengah hutan hujan tropis, belajar ilmu hayati menjadi sangat menarik. Di dalam kelas, hutan hujan tropis dan isinya ditayangkan dalam foto-foto

0dba1399-a02c-4c4d-bab0-4eefc47831e8.jpg
T Bachtiar

Pada tatanan normal baru, wisata alam menjadi salah satu aktivitas yang paling diminati. Dalam upaya turut mendorong kegiatan ini lebih bernilai edukasi dan meningkatkan upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan ke taman nasional Ujungkulon yang ditulis editor senior T. Bachtiar. Artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga tulisan. 

 

TIBA-TIBA suara-suara binatang bersahutan, kadang terdengar keras sekali. Mungkin saling mengabarkan, peringatan kewaspadaan pada seisi hutan, bahwa ada mahluk luar yang sedang berada di wilayahnya.

Mahluk luar itu adalah kami yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutanhujan tropis. Kerimbunan hutan yang rapat, mampu meredam terik matahari, sehingga layaknya ac, pendingin udara raksasa yang menyejukkan seluruh kawasan.

__________________________________________________________________________

BACA JUGA: Ujungkulon dalam Kemeriahan Ekosistem

___________________________________________________________________________

Pulau Peucang merupakan bagian dari Taman Nasional yang dapat dimanfaatkan secara terbatas. Bagi yang menyukai kedamaian hutan, menyukai fotografi, dan berjalan kaki, dapat melintasi jalan setapak dari wisma menembus hutan hujan tropis yang indah menuju Karangcopong sejauh 2,5 km. Di pantai ini pengunjung dapat menanti matahari terbenam sambil memotret bentang alam yang tak akan pernah puas untuk terus diabadikan.

Di jalan sekitar setapak yang dilalui, bekas serudukan babi di tantai hutan, tampak seperti kebun yang baru dicangkul. Rusa berkeliaran dengan nyaman di kedamaian hutan. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi dengan akar yang menjuntai menancap di tanah.

Pohon-pohon raksasa dengan banir (canir) yang lebar dan tinggi, menjadi tempat yang menarik untuk berfoto. Pada abad ke 19 awal, khususnya di Bandung, roda pedati dibuat dari banir pohon yang sangat lebar, sehingga roda pedati saat itu bentuknya lingkaran penuh dan tidak ada sambungan. 

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Membangkit Pohon Andalas yang "Terendam"

___________________________________________________________________________

Di tengah hutan hujan tropis, belajar ilmu-ilmu hayati menjadi sangat menarik. Di dalam kelas, hutan hujan tropis beserta isinya hanya ditayangkan dalam foto-foto. Di sini, segalanya tersaji dengan sangat indah dan nyata.

Akar pencekik melilit hingga pohon utamanya mati, akar-akar pohon raksasa yang menjuntai, kemudian mencap ke dalaman tanah, menjadi instalasi rimba raya, dan akan menyesal bila tidak diabadikan.

Halaman selanjutnya...

 

Di pagi buta, dari dermaga Pulau Peucang atau sedikit menyusuri pantainya ke arah timur, dapat menyaksikan matahari terbit. Dari sini dapat menjadi saksi pergantian malam menjadi siang. Yang semula gelap itu secara perlahan langit berubah warna menjadi warna-warna kuning kemerahan. Gumpalan mega-mega semua berubah warna. 

Biawak berjalan tak terganggu oleh rusa-rusa yang memakan pucuk-pucuk pohon yang doyong ke laut. Awak perahu gesit berbenah, sebentar lagi perahunya akan berangkat menyebrangi laut.

Berperahu dari dermaga Pulau Peucang menuju padang penggembalaan Cidahon hanya beberapa menit saja. Dari dermaga berjalan beberapa menit di jalan setapak di pinggir rawa yang banyak ditumbuhi dahon atau nipah (Nypa fruticans).

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Dari Harimau sampai Tapir, Ini Hasil Camera Trap

___________________________________________________________________________

Karena rawa itu banyak ditumbuhi dahon, maka kawasan ini dinamai Cidahon. Di sini terdapat padang penggembalaan 200 x 260 m, khususnya untuk banteng (Bos javanicus) merumput di pagi hari.

Di padang penggembalaan Cidahon, kita dapat mengamati dan memotret kawanan banteng yang sedang merumput di batas hutan. Padang penggembalaan Cidahon merupakan bagian kecil dari dataran berukuran 1,5 x 6 km, yang di sisi barat dan timurnya dibatasi oleh dinding setinggi antara 60-80 meter, yang di kaki tebingnya mengalir sungai. 

T Bachtiar

Mengamati kawanan banteng yang sedang merumput sebaiknya dilakukan dengan senyap, bahkan seharusnya kehadiran manusia di sana tidak dirasakan oleh banteng. Bukan tidak boleh berswa foto, namun sebaiknya dilakukan dengan tidak menimbulkan kegaduhan yang dapat menggangu kenyamanan binatang yang ada di sana.

Di sana sudah dibangun menara pengintai, yang dapat dengan jelas mengamati perilaku sekawanan banteng yang sedang merumput. Hanya satu atau dua jam kawanan banteng itu merumput. Setelah itu mereka tak terlihat lagi, masuk kembali ke dalam hutan.*

Bersambung: Menyusuri Arus Ci Genter 

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR