Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Di atas Mega-mega Dieng

Kamis, 26 November 2020

Para kelana dan peziarah secara berkesinambungan mendatangi dan membangun tempat kayangan ini.

b76113b5-a9cb-410a-9c39-b2a2d5ebe897.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


           

MATAHARI itu datang perlahan dari balik cakrawala. Kegelapan malam telah berganti. Horizon nempak berupa garis kuning kemerahan, terus berubah semakin nyata. Bola raksasa matahari itu terlihat melengkung, menyembul, naik secara perlahan memulas warna langit, dari hitam menjadi merah keemasan.

Mereka yang berkemah di Gunung Prau, atau yang baru datang menjelang subuh, sudah berjajar dalam belitan jaket tebal, menanti datangnya kehangatan mentari. Hanya pada saat-saat seperti itulah matahari dapat dilihat dengan aman dan indah. Semburat warnanya, ragam warna yang ditimbulkannya, telah menghipnotos ratusan orang yang telah dengan senang hati untuk datang menempuh perjalanan panjang.

Dataran Tinggi Dieng kini menjadi sangat terkenal dan telah didatangi puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah yang ingin menyaksikan matahari terbit. Momentum itu hanya sekelebatan, sehingga para pengunjung rela untuk mendaki sejak dinihari, atau berkemah di sana, dan menanti dalam tiupan angin dan suhu yang dingin. Semua lelah dan dingin mendadak hilang bersama datangnya sang surya yang muncul perlahan membawa kehangatan.

Tempat-tempat yang baik untuk menyaksikan matahari terbit adalah di Menara pandang, di Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Bukit Sikunir, dan Gunung Bisma. Namun yang paling populer dikunjungi adalah Bukit Sikunir dan Gunung Prau. Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir ditempuh sekitar 30 menit. Sedangkan untuk mencapai lokasi Gunung Prau antara 2 – 3 jam, dengan rute Patakbanteng, lebih pendek tapi lebih menanjak, dan melalui “menara”, sedikit melambung tapi tidak menanjak tajam.


 

BACA JUGA: Partitur Jejak Lava Gunung Batur

 


Di sini, Gunung Sundoro ada di depan mata, Gunung Sumbing terlihat sedikit terhalang Sundoro. Di kejauhan terlihat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Di sebelah barat Gunung Slamet tertimpa cahaya pagi. Semua gunung-gunung itu laksana perahu yang berlayar di atas lautan awan.

Hanya sebentar, bahkan sangat singkat, kemudian matahari kembali memancarkan cahaya dengan penuh. Karena hanya sekelebatan itulah, para pengagum keindahan, selalu menyimpan rindu untuk datang kembali menanti mentari, yang datang penuh misteri, apakah pagi ini cerah atau mendung menutupi angkasa.

Dari waktu ke waktu, Plato Dieng menjadi tujuan para pengagum keindahan. Jalanan menuju pesona di atas awan ini terus menanjak berliku mengikuti irama alam, menapaki lereng gunungapi yang curam. Dihantarkan kabut yang melayang, terasa seperti menuju awan-awan.

Angin meniup dingin dari jendela kendaraan yang sengaja dibuka, atmosfer Pegunungan Dieng di ketinggian 2200-an m. dpl. menjalar di aorta rasa. Suhu udara yang dingin antara 10o - 15o C.

Hamparan hijau ladang kentang dalam kuali raksasa gunungapi, merayapi hingga di sela-sela bebatuan di lereng-lereng yang curam. Keberkahan alam Dieng yang subur, dibentuk oleh endapan gunungapi, telah memikat banyak orang untuk datang dengan berbagai tujuannya.

Halaman berikutnya: Semua kawahnya tidak di puncak gunung...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR