Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Di atas Mega-mega Dieng

Kamis, 26 November 2020

Para kelana dan peziarah secara berkesinambungan mendatangi dan membangun tempat kayangan ini.

b76113b5-a9cb-410a-9c39-b2a2d5ebe897.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


           

MATAHARI itu datang perlahan dari balik cakrawala. Kegelapan malam telah berganti. Horizon nempak berupa garis kuning kemerahan, terus berubah semakin nyata. Bola raksasa matahari itu terlihat melengkung, menyembul, naik secara perlahan memulas warna langit, dari hitam menjadi merah keemasan.

Mereka yang berkemah di Gunung Prau, atau yang baru datang menjelang subuh, sudah berjajar dalam belitan jaket tebal, menanti datangnya kehangatan mentari. Hanya pada saat-saat seperti itulah matahari dapat dilihat dengan aman dan indah. Semburat warnanya, ragam warna yang ditimbulkannya, telah menghipnotos ratusan orang yang telah dengan senang hati untuk datang menempuh perjalanan panjang.

Dataran Tinggi Dieng kini menjadi sangat terkenal dan telah didatangi puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah yang ingin menyaksikan matahari terbit. Momentum itu hanya sekelebatan, sehingga para pengunjung rela untuk mendaki sejak dinihari, atau berkemah di sana, dan menanti dalam tiupan angin dan suhu yang dingin. Semua lelah dan dingin mendadak hilang bersama datangnya sang surya yang muncul perlahan membawa kehangatan.

Tempat-tempat yang baik untuk menyaksikan matahari terbit adalah di Menara pandang, di Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Bukit Sikunir, dan Gunung Bisma. Namun yang paling populer dikunjungi adalah Bukit Sikunir dan Gunung Prau. Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir ditempuh sekitar 30 menit. Sedangkan untuk mencapai lokasi Gunung Prau antara 2 – 3 jam, dengan rute Patakbanteng, lebih pendek tapi lebih menanjak, dan melalui “menara”, sedikit melambung tapi tidak menanjak tajam.


 

BACA JUGA: Partitur Jejak Lava Gunung Batur

 


Di sini, Gunung Sundoro ada di depan mata, Gunung Sumbing terlihat sedikit terhalang Sundoro. Di kejauhan terlihat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Di sebelah barat Gunung Slamet tertimpa cahaya pagi. Semua gunung-gunung itu laksana perahu yang berlayar di atas lautan awan.

Hanya sebentar, bahkan sangat singkat, kemudian matahari kembali memancarkan cahaya dengan penuh. Karena hanya sekelebatan itulah, para pengagum keindahan, selalu menyimpan rindu untuk datang kembali menanti mentari, yang datang penuh misteri, apakah pagi ini cerah atau mendung menutupi angkasa.

Dari waktu ke waktu, Plato Dieng menjadi tujuan para pengagum keindahan. Jalanan menuju pesona di atas awan ini terus menanjak berliku mengikuti irama alam, menapaki lereng gunungapi yang curam. Dihantarkan kabut yang melayang, terasa seperti menuju awan-awan.

Angin meniup dingin dari jendela kendaraan yang sengaja dibuka, atmosfer Pegunungan Dieng di ketinggian 2200-an m. dpl. menjalar di aorta rasa. Suhu udara yang dingin antara 10o - 15o C.

Hamparan hijau ladang kentang dalam kuali raksasa gunungapi, merayapi hingga di sela-sela bebatuan di lereng-lereng yang curam. Keberkahan alam Dieng yang subur, dibentuk oleh endapan gunungapi, telah memikat banyak orang untuk datang dengan berbagai tujuannya.

Halaman berikutnya: Semua kawahnya tidak di puncak gunung...

 

Dieng merupakan kompleks gunung api dengan tinggi kerucut-kerucutnya antara 100 - 300 meter, yang tersebar dalam kawasan sepanjang 14 km dengan lebar 6 km. yang memanjang barat daya – tenggara. Kawah-kawahnya tersebar, membentuk Pegunungan Dieng, atau disebut juga Dataran Tinggi Dieng atau Plato Dieng, yang secara geografis berada pada posisi 7o 10,5’ LS dan 109o 54’ BT, terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Inilah gunung api yang semua kawahnya tidak berada di puncak-puncak gunungnya.

Satu jam yang lalu, baru saja meninggalkan Kota Wonosobo di ketinggian 900 meter, kota dengan iklimnya yang nyaman, dan menjadi salah satu gerbang utama menuju Dataran Tinggi Dieng. Di sini, penginapan, hotel dan kulinernya dapat memanjakan para kelana.

Bagi yang senang mencoba makanan khas daerah setempat, perlu juga dicoba gorengan tempe kemul, tempe berselimut tepung, yang dicocol saus kacang bening rasa manis, dan mie ongklok, mie yang dalam proses pembuatannya diongklok-ongklok, dicelup-celup turun naik di air panas. Dimakan dengan sate, dan bila perlu lebih padat, dijual nasi sekepal anak kecil yang dibungkus daun. Malam harinya patut dicoba minum ronde yang dapat menghangatan tubuh.


 

BACA JUGA: Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto

 


Alun-alunnya benar-benar masih berfungsi sebagai tempat untuk warga berkumpul atau berolah raga. Suasananya sangat akrab, dinaungi pepohonan yang tinggi dan besar, menyegarkan warga kota yang melepas lelah dari kepenatan kerja. Pagi hari, dapat membeli penganan seperti rebus jagung dengan parudan kelapa, serta kue-kue basah jajanan pasar yang khas.

Dari kota ini perjalanan ke Dieng dilayani bus yang teratur, dengan lama perjalanan tidak lebih dari satu jam. Selain dari Wonosobo, Dataran Tinggi Dieng dapat dicapai dari Banjarnegara dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Sekelebatan, kenangan akan Kota Wonosobo masih melintas saat kendaraan meliuk menanjak di kawasan Dieng. Angin segar dan bentang alamnya telah menyihir kami sejak tadi. Kawah aktif dengan asapnya yang mengepul, loncatan-loncatan lumpur belerang, dan dinding gunung api purba yang membentang memagari cawan raksasa Dieng.

Para kelana dan peziarah secara berkesinambungan mendatangi dan membangun tempat kayangan ini. Para rahib, telah memilih dan menjadikan Dieng sebagai tempat bagi candi-candi Hindu yang sebagian besar dibangun antara abad ke 8 - 9. Candi-candi didirikan di pinggir telaga, di lereng bukit, dan di puncak-puncak gunung.

Kini, candi yang dapat kita saksikan ada sembila. Candi yang sudah dipugar, yaitu kompleks Candi Arjuna, yang terdiri dari Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Srikandi. Tiga candi lainnya adalah Candi Bima, Candi Gatotkaca, dan Candi Dwarawati. Candi yang sedang menanti penelitian dan eskavasi adalah Candi Wisanggeni yang berada di puncak Gunung Palangonan/Gunung Pangonan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR