Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Danau Tempe Mendangkal dan Tercemar

Kamis, 12 November 2020

Di musim kemarau, danau hampir kering dengan rata-rata kedalaman air hanya 50 cm sampai 1 meter.

dfd320c4-c542-40b9-8c70-08f61381dfe6.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

 


                                                        

BENTANGAN air tak bertepi di Danau Tempe seluas 4.587 km2, yang termasuk kedalam Wilayah Sungai Walannae – Cenranae yang luasnya 47.800 ha. Kedalaman danau saat ini hanya 3 m pada musim penghujan, dan tinggal 1 meter bahkan kurang pada musim kemarau. Luas permukaan danau pada musim penghujan adalah 48.000 ha dan menggenangi areal persawahan, perkebunan, rumah penduduk, prasarana jalan dan jembatan serta prasarana sosial lainnya.

Pada musim kemarau, luas danau hanya mencapai 1.000 ha, dan pada kondisi normal, luasnya 15.000-20.000 ha. Sungai yang masuk ke dalam danau ini terdiri dari 23 sungai yang termasuk dalamnya dua DAS, yaitu DAS Bila dan DAS Walanae, sedangkan aliran sungai dari danau (outlet) hanya satu, yaitu DAS Salo Cenranae yang memiliki panjang sungai 70 km.

Aktivitas utama masyarakat Danau Tempe adalah menangkap ikan di danau. Keanekaragaman hayati Danau Tempe terlihat dari  banyaknya  jenis  ikan yaitu antara lain: ikan mas (cyprinus corpio), ikan tawes (osteochillus hassellti), ikan gabus (ophiocephalus striatus), ikan sepatsiam (tricogaster pectoralis), ikan bungo (glosogobius guiris), ikan tambakang (helostoma temmicki), dan ikan nila (oreochromis niloticus).

Mereka menangkap ikan dengan menggunakan jenis alat tangkap seperti: jala, lanra, panambe, julu, bungka toddo, jabba, buw patoppo, bunre, dari, buw konde, timpo, meng, sero’, kontak, racung, cappiang, belle/seppi/keere/jalajja, sulo, pallawang, dan balete.



BACA JUGA: Danau Tempe, Mangkuk Ikan dan Poros Pelayaran

 


Namun sayang, kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA), kerusakan daerah hulu Danau Tempe karena kehancuran ekologis, terjadi penebangan hutan yang tak terkendali, perambahan hutan, perladangan berpindah, sehingga menjadikan jumlah kawasan kritis yang terus bertambah luas, sehingga keadaan ini akan mengancam kelestarian danau.

Dengan laju sedimentasi sebesar 1-3 cm per tahun, mengkibatkan Danau Tempe mengalami pendangkalan, yang menyebabkan banjir di musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau. Apabila laju sedimentasi per tahun seperti saat ini, maka ke depan, Danau Tempe akan hilang pada musim kemarau.

Pendangkalan yang terjadi di Danau Tempe secara alami diakibatkan oleh sedimentasi yang dibawa oleh sungai yang bermuara di danau ini, seperti Salo Lawo, Salo Batubatu, Salo Belokka, Salo Nila, dan Salo Walannae.

Total lumpur yang masuk ke Danau Tempe adalah 1.069.099 juta m3, sementara yang dikeluarkan melalui Salo Cenranae adalah 550.490 juta m3. Dengan demikian sisa sedimen yang mengendap di dasar danau sebesar 518.609 juta m3

Jika setiap tahunnya sedimen tidak keluar dan terus mengendap maka akan terjadi proses pendangkalan danau setinggi 15 - 20 cm per tahunnya. Di musim kemarau, danau hampir kering dengan rata-rata kedalaman air hanya 50 cm sampai 1 meter.

Halaman selanjutnya: Masalah berat lainnya...

 

Selain pendangkalan, masalah berat lainnya adalah pencemaran yang terjadi di Danau Tempe, disebabkan oleh buangan limbah domestik, pertanian, dan sisa pakan ikan. Zat pencemar ini merupakan penyebab terjadinya eutrofikasi air danau. Aktivitas pertanian dan perkebunan yang menggunakan pestisida menjadi sumber pencemar dan meningkatkan gulma air, seperti eceng gondok.

Kemudian pada badan air danau terdapat banyak tanaman air, baik yang tumbuh dari dasar danau maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bungka toddo. Tanaman air ini menjadi perangkap sedimen dan mengendapkan sedimen ke dasar danau. (2003), bahwa sepanjang musim hujan 80-90 persen permukaan danau ditutupi oleh tanaman air.


 

BACA JUGA: Danau Tempe dan Rumah Berputar Sesuai Arah Angin

 


Menurunnya kualitas lingkungan perairan Danau Tempe mempengaruhi daya dukung organisme di dalamnya, sehingga keberadaan satwa liar dan biota air semakin terancam. Dan terdapat indikasi menurunnya populasi beberapa satwa liar dan biota air, khususnya yang jenis endemik, seperti burung cawiwi, burung lawase dan ikan bungo, belanak, sidat/masafi, saat ini sudah jarang didapat di danau.

Hujan masih deras mengguyur perkampungan terapung. Namun kami harus segera kembali ke Sengkang. Kilat dan halilintar menjadi irama yang menambah ketegangan berperahu di kegelapan. Cahaya lampu di perkampungan sepanjang sungai itu sudah menyala.*

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR