Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Danau Tempe, Mangkuk Ikan dan Poros Pelayaran

Rabu, 28 Oktober 2020

Tappareng Karaja di abad ke-16 itu menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal

4abc5e81-9141-46cc-ae11-2b8ed1415a49.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


Dalam buku pelajaran di sekolah, Danau Tempe yang terletak di tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan Kabupaten Soppeng itu sangat terkenal karena sebagai danau yang menghasilkan ikan.

Danau Tempe dikelilingi oleh tujuh kecamatan yang tersebar di tiga kabupaten itu, di antaranya: Kecamatan Tempe, Belawa, Tanasitolo, dan Sabbangparu di Kabupaten Wajo; Kecamatan Donridonri dan Marioriawa di Kabupaten Soppeng, dan Kecamatan Pancalautan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Hingga akhir 1960-an, Danau Tempe masih dikenal sebagai sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia. Selama kurun waktu 1948 – 1969 produksi ikan danau terluas di Sulawesi Selatan ini tiap tahun mencapai 37.000 – 40.000 ton berbagai jenis ikan. Bahkan tahun 1957-1959 sempat mencapai produksi 50.000 ton/tahun.

Pada saat itu danau ini dijuluki sebagai mangkuk ikan Indonesia. Akan tetapi, produksi ikan air tawar dari Danau Tempe terus mengalami penurunan sampai 400%, bahkan lebih dalam 15 tahun terakhir, produksi ikan air danau hanya mencapai kurang lebih 10.000 ton per tahun.

Sambil berbincang di kalampang, teh panas dan goreng pisang yang disajikan tuan rumah, sebagai bagian dari layanan wisata Danau Tempe, terasa nikmat sekali. Kilat mulai menyambar-nyambar, dan guruh terdengar keras sekali. Saat menikmati sajian itu, teringat saat mengunjungi museum Saoraja Mallangga di Kota Sengkang.

 


BACA JUGA: Danau Tempe dan Rumah Berputar Sesuai Arah Angin


 

Di depan museum itu dipajang jangkar kapal yang tingginya sekitar dua meter. Menurut keterangan petugas, jangkar itu berasal dari kapal besar yang mungkin karam di tengah Danau Tempe. Dengan ditemukannya jangkar ini dapat memberikan gambaran keadaan Danau Tempe pada masa lalu. Kawasan antara Teluk Bone dan Selat Makassar itu merupakan kawasan yang cukup dalam, sekitar 7-9 m, mungkin lebih dalam lagi, sehingga memungkinkan dilaluinya kapal-kapal.

Bila kedalaman danau itu dihubungkan dengan tinggi muka laut saat itu, seperti yang tertuang dalam kurva Klerk, pada abad ke 4 - ke 5 M, tinggi muka laut berada pada garis ketinggian 2 m sekarang.

Danau Tempe masa lalu digambarkan oleh Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006) sebagai jalur pelayaran. Pada saat itu, Danau Tempe menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae.

Jalur pelayaran dari Selat Makassar melalui Parepare, Danau Sidenreng, Danau Tempe, melalui Salo Cenranae akan sampai di Teluk Bone. Sedangkan jalur kedua yaitu dari Teluk Bone melalui Salo Cenranae akan sampai hulu Salo Walanae yang berada di daerah pegunungan Soppeng, Bone, dan Maros.

Halaman berikutnya: Kini sudah berubah...

 

Tempat-tempat yang kini sudah berubah menjadi danau, rawa, persawahan, perkampungan, atau sudah berubah menjadi perkotaan, semula kawasan sepanjang 120 km itu merupakan jalur pelayaran. Bila diurut dari arah tenggara sampai barat laut di Selat Makassar, dimulai dari Teluk Bone, Bone, Tokaseng, Cenrana, Uleo, Watangtimurung, Barrere, Sailong, Tella, Paria, pompana, Maroangin, Taparang Penru, Taparang latamperu, Taparang Palisu, Taparang Alicopenge, Taparang Selako Taparang Lasepang, Sengkang, Danau Tempe, Tancung, Sabangparu, Batubatu, Belawa, Wajo, Danau Sidenreng, Wattangpalu, Amparita, Sidenreng, Billoka, Baranti, Piurang, Teluk Parepare, Soreang, Mattirosompe, Langgo, Selat Makassar.

Melalui kawasan inilah Kerajaan-kerajaan yang berada di Teluk Bone dapat berhubungan dengan Kerajaan-kerajaan yang berada di pantai-pantai barat Sulawesi Selatan dan dengan kerajaan-kerajaan di pantai-pantai Kalimantan Timur.

Karena proses tektonik, terjadi pengangkatan kulit bumi secara evolutif, ditambah pendangkalan yang berjalan cepat mulai abad ke 14, kawasan yang sangat luas itu mulai menyempit. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, menyisakan empat subdanau, yaitu Danau Alitta,  Danau Sidenreng, Danau Tempe, dan Danau Lapongpakka.

Pada tahap ini juga terbentuk beberapa danau kecil lainnya, salah satunya adalah Danau Lampulung. Dua, tiga abad kemudian, Danau Alitta telah menghilang. Danau yang tersisa adalah: Danau Tempe, Danau Sidenreng, Danau Lapongpakka, dan Danau Lampulung.

 


BACA JUGA: Merawat Kedermawanan Tambora


 

Pelras (2006) menulis, pendangkalan Danau Besar (Tappareng Karaja) itu terjadi mulai abad ke-14. Sejak sekitar abad ke-14 Masehi, penebangan hutan secara luas, pembukaan lahan pertanian secara terus menerus di dataran rendah dan lembah, ditambah pembukaan atau perluasan lahan perkebunan dan penanaman palawija dengan sistem ‘tebang bakar’ atau ‘babad-bakar’ yang sangat intensif di perbukitan dan di pegunungan, telah menyebabkan lahan-lahan itu menjadi gundul, lembah tandus, serta musnahnya berbagai jenis tumbuhan. Hal itu pada merupakan penyebab terjadinya erosi yang parah dan pendangkalan danau serta muara sungai.”

Pada bagian lain, Pelras menulis: “Selama berabad-abad aliran lumpur dalam jumlah besar yang terbawa arus sungai Saddan, Walanae, dan Bila, mengubah Tappareng Karaja di abad ke-16 itu menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal”*

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR