Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Danau Tempe, Mangkuk Ikan dan Poros Pelayaran

Rabu, 28 Oktober 2020

Tappareng Karaja di abad ke-16 itu menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal

4abc5e81-9141-46cc-ae11-2b8ed1415a49.jpg
T Bachtiar

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


Dalam buku pelajaran di sekolah, Danau Tempe yang terletak di tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan Kabupaten Soppeng itu sangat terkenal karena sebagai danau yang menghasilkan ikan.

Danau Tempe dikelilingi oleh tujuh kecamatan yang tersebar di tiga kabupaten itu, di antaranya: Kecamatan Tempe, Belawa, Tanasitolo, dan Sabbangparu di Kabupaten Wajo; Kecamatan Donridonri dan Marioriawa di Kabupaten Soppeng, dan Kecamatan Pancalautan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Hingga akhir 1960-an, Danau Tempe masih dikenal sebagai sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia. Selama kurun waktu 1948 – 1969 produksi ikan danau terluas di Sulawesi Selatan ini tiap tahun mencapai 37.000 – 40.000 ton berbagai jenis ikan. Bahkan tahun 1957-1959 sempat mencapai produksi 50.000 ton/tahun.

Pada saat itu danau ini dijuluki sebagai mangkuk ikan Indonesia. Akan tetapi, produksi ikan air tawar dari Danau Tempe terus mengalami penurunan sampai 400%, bahkan lebih dalam 15 tahun terakhir, produksi ikan air danau hanya mencapai kurang lebih 10.000 ton per tahun.

Sambil berbincang di kalampang, teh panas dan goreng pisang yang disajikan tuan rumah, sebagai bagian dari layanan wisata Danau Tempe, terasa nikmat sekali. Kilat mulai menyambar-nyambar, dan guruh terdengar keras sekali. Saat menikmati sajian itu, teringat saat mengunjungi museum Saoraja Mallangga di Kota Sengkang.

 


BACA JUGA: Danau Tempe dan Rumah Berputar Sesuai Arah Angin


 

Di depan museum itu dipajang jangkar kapal yang tingginya sekitar dua meter. Menurut keterangan petugas, jangkar itu berasal dari kapal besar yang mungkin karam di tengah Danau Tempe. Dengan ditemukannya jangkar ini dapat memberikan gambaran keadaan Danau Tempe pada masa lalu. Kawasan antara Teluk Bone dan Selat Makassar itu merupakan kawasan yang cukup dalam, sekitar 7-9 m, mungkin lebih dalam lagi, sehingga memungkinkan dilaluinya kapal-kapal.

Bila kedalaman danau itu dihubungkan dengan tinggi muka laut saat itu, seperti yang tertuang dalam kurva Klerk, pada abad ke 4 - ke 5 M, tinggi muka laut berada pada garis ketinggian 2 m sekarang.

Danau Tempe masa lalu digambarkan oleh Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006) sebagai jalur pelayaran. Pada saat itu, Danau Tempe menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae.

Jalur pelayaran dari Selat Makassar melalui Parepare, Danau Sidenreng, Danau Tempe, melalui Salo Cenranae akan sampai di Teluk Bone. Sedangkan jalur kedua yaitu dari Teluk Bone melalui Salo Cenranae akan sampai hulu Salo Walanae yang berada di daerah pegunungan Soppeng, Bone, dan Maros.

Halaman berikutnya: Kini sudah berubah...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR