Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Danau Tempe dan Rumah Berputar Sesuai Arah Angin

Kamis, 22 Oktober 2020

Kalampang ini dibangun dengan upacara ritual yang dilakukan secara turun temurun

af326bec-d6ee-4d14-8682-8f58e76eee38.jpg
T Bachtiar

 

Oleh: T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

SORE di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Masih sekitar 7 km lagi untuk sampai di Danau Tempe yang terletak di Kecamatan Tempe. Tiga puluh menit berperahu di Salo Walanae, terlihat eceng gondok yang hanyut dari Danau Tempe. Pemandu sekaligus pengemudi perahu mengingatkan, jangan mencelupkan tangan ke air sungai, karena air sungainya sudah tercemar limbah rumah tangga.

Di pinggir sungai sudah didirikan rumah, pom bensin, warung, dan dermaga kecil untuk bongkar-muat barang dan menaikkan penumpang. Setelah melaju di lajur sempit yang dibatasi tumbuhan air dan eceng gondok, akhirnya sampai di perkampungan terapung. Burung belibis dan aneka jenis burung migran lainnya melayang-layang di udara Danau Tempe.


 

BACA JUGA: Lorong-Lorong Bumi di Sawahlunto

 


 

Tempe untuk nama danau alami ini, ternyata bukan diambil dari tempe, jenis makanan yang terbuat dari kacang kedele yang difermentasi, tapi berasal dari kata timpai, yang berarti tempat untuk mengambil air. Kata yang mencerminkan adanya hubungan manusia dengan air, seperti timpai di Danau Tempe, juga ada nama geografi Muaratimpeh di Palembang, dan di Jawa Barat ada kosa kata tampian, tempat untuk mandi dan mencuci di pinggir sungai atau kolam.

Setelah lorong hijau itu terlewati, perahu menembus eceng gondok yang mengelilingi salah satu rumah terapung (kalampang), rumah tanpa tiang, bagian bawahnya disangga rakit bambu, sehingga rumah-rumah itu dapat mengapung, turun naik sesuai paras air danau. Penghuninya sudah beradaptasi dengan lingkungan air dan iklim selama puluhan tahun, sehingga tercipta hunian yang fungsional.

Di perkampungan terapung itu terdapat beberapa rumah. Kegiatan sehari-hari penghuninya dilakukan di atas air. Di rumah terapung itu mereka memperbaiki jaring, bubu, dan alat tangkap ikan lainnya, memasak, mandi, semuanya dilakukan di atas rumah terapung. Rumahnya berdinding bambu dan kayu. Kamar kecilnya terletak di bagian belakang rumah atau di ujung rakit. Ke danau inilah semua limbah rumah tangga dibuang, sekaligus danau itu menjadi sumber air untuk kebutuhan mencuci dan mandi. Di rumah terapung itu pula, penghuninya ada yang memelihara ayam dan kucing.

Halaman berikutnya: Ritual membangun kalampang...

 

Kalampang ini dibangun dengan upacara ritual yang dilakukan secara turun temurun. Upacara ritual ini dimulai dengan mencari hari baik untuk mendirikan rumah, mendirikan tiang utama rumah (possi bola) sebagai pusat rumah, sampai ritual selamatan memasuki rumah baru. Pembangunan rumahnya dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat nelayan di pemukiman terapung.

Tetangga dan kerabatnya secara sukarela saling membantu. Selain bergotong royong dalam membangun rumah, juga kebersamaan itu terjadi saat memindahkan kalampang, dengan cara mendorongnya menggunakan beberapa perahu bermotor, terutama jika air mulai surut atau saat banjir besar, dan membuat jalan perahu dengan membersihkan rimbunan vegetasi di atas danau, semua dikerjakan bersama-sama.

Selain kalampang, bentuk adaptasi masyarakat Danau Tempe adalah dalam membuat rumah panggung. Rumah panggung dibangun dengan mengikuti aturan adat, terdiri dari tiga tingkatan struktur rumah, yaitu bagian kaki, badan, dan kepala rumah. Bagian kaki (bawah) terdiri dari tiang-tiang rumah dengan tinggi sekitar 2-3 meter dari permukaan tanah, dimaksudkan untuk menghindari genangan banjir pada saat musim penghujan dan untuk menghindari binatang buas, baik binatang air maupun binatang darat.

Bagian badan (tengah) berupa ruang keluarga untuk beraktivitas, ruang istirahat, dan tempat menjamu tamu. Bagian ini dikelilingi oleh dinding dari kayu dan bambu, tingginya sekitar 2,5-3,5 meter. Dan bagian kepala (atas), disebut juga rakkeang, digunakan untuk penyimpanan barang-barang atau gudang. Rakkeang dirancang agar mampu menahan beban berupa barang-barang rumah tangga yang tidak ditempatkan di badan rumah. Rakkeang pun dijadikan tempat untuk berlindung jika terjadi banjir.


 

BACA JUGA: Merawat Kedermawanan Tambora

 


Di bagian atas itulah anggota keluarga akan bertahan hidup sampai banjir turun. Bagian atas yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan, di sana sudah tersedia bekal makanan agar mampu bertahan hidup, yaitu garam dan bale rakko (ikan yang sudah dikeringkan).

Di depan setiap rumah terapung itu ada sebatang bambu yang ditancapkan ke dasar danau. Bambu ini berfungsi sebagai jangkar, tempat mengikatkan rumah dengan tambang yang kuat, agar rumah terapung tidak hanyut terbawa air. Di perkampungan terapung ini, arah hadap rumah dapat berputar sesuai arah angin, sehingga posisi rumah dengan rumah-rumah tetangga dapat berubah.

Ketika angin datang dari selatan, misalnya, maka rumah yang semula menghadap ke utara, akan berputar menjadi menghadap ke selatan. Demikian juga dengan tetangga di kiri kanan rumah kita akan menjadi berbeda. Yang semula paling depan saat menghadap utara, akan menjadi paling belakang ketika menghadap ke selatan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR